Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Untuk Apa Menggendong Nestapa

Untuk Apa Menggendong Nestapa

Duduk santai berdua dengan seorang sahabat di sebuah resepsi kemarin, sambil menikmati hidangan pesta kami berbincang. Layaknya dua sahabat yang punya banyak kenangan bersama saat sekolah, teringatlah kami akan sebuah nama. Seseorang yang mencatat sejarah buruk di masa itu. Tak banyak yang kudengar lagi tentangnya sejak ia sengaja menghilang bak ditelan bumi setelah peristiwa itu, kecuali kabar bahwa hidupnya “bermasalah” sampai saat ini.

Entah lah, mungkin sedemikian dalam kenangan itu tertoreh, aku ingat bagaimana ia seolah menerima karmanya, hingga terucaplah kalimat dari mulutku “sebuah kutukan yang pantas untuk seseorang seperti dia, kini ia sedang menuai badai, dari angin yang dia tabur, sebuah takdir yang pantas untuknya”, begitu aku mengucap. Aku tersenyum, kecut. Seolah mewakili perasaan ku bahwa sesungguhnya tak nyaman buat ku berbicara setajam itu.

Lalu sang sahabat tertawa sambil mengacungkan jarinya dia berkata “no no kak donna, tak ada yang pantas untuk sebuah kutukan” ia mengingatkan. Bahwa seseorang pasti akan menjemput takdirnya masing-masing, dan jalan menuju takdir itulah yang sedemikian beragam, tergantung jalan yang seperti apa yang ia pilih.

Aku sejenak berpikir, dan dengan sisa wajah masam aku membenarkan ucapannya. Mengapa kita harus repot mendoakan sesuatu yang buruk untuk seseorang. Toh pada akhirnya semua permasalahan manusia yang satu dengan manusia yang lain akan hanya bermuara disuatu titik yaitu urusannya dengan Tuhan. Bukan hak kita untuk menentukan pantas atau tidaknya.Percaya saja bahwa keadilan Tuhan itu benar adanya dan cara yang paling adil buat manusia hanyalah memaafkan lalu memindahkan semua rasa sakit kepada yang memberi yaitu Allah dan biarkan tanganNya yang bekerja.

Aku ingat betul, saat seorang teman membawa kabar muram tentang orang yang pernah menorehkan luka dalam dihidupnya padaku dan mengatakan “donna, gue sebenarnya udah lupa ama peristiwa itu, gue udah gak sakit hati lagi, tapi melihat apa yang terjadi pada dia hari ini memberi gue pelajaran bahwa gak usah cape mikirin dendam bila ketentuan Allah yang menimpa dia kini  jauh lebih perih dari apa yang sudah dia lakukan ke gue”

Masih di hari yang sama, diperjalanan pulang khas Jakarta yang macet, kami bertiga…saya, sahabat saya dan suami meneruskan pembicaraan tadi dan mencoba mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Mencoba flashback ke masa-masa lampau, 5-10 tahun ke belakang. Mencoba menemukan  kembali peristiwa2 gak enak dalam hidup kami dan beberapa sosok yang ikut melintas didalamnya. Betapa kami merasa terberkati karena orang2 dan peristiwa2 itu, tersenyum karena kami bisa  belajar banyak dari setiap peristiwayang mereka torehkan sehingga kami justru tumbuh lebih baik karenanya. Sementara orang2 itu, sebagian juga tumbuh seperti kami namun sebagian masih seperti yang kami kenal dahulu. Dan untuk golongan yang terakhir kami hanya bisa mengatakan “kasihan, semoga dia menemukan jalan pulang”.

Jadi bila saat ini saya masih menyimpan emosi jiwa atas sebuah nama, dan tak menutup kemungkinan bahwa dikehidupan saya yang akan datang saya akan tetap menemukan bahkan bersinggungan dengan orang2 yang hidupnya bak truk sampah yang kelebihan beban, yang menebarkan sampah yang kadang terbungkus indah disepanjang perjalanan hidupnya, saya tidak akan kaget lagi. Saya percaya bahwa takdir ada diujung usaha manusia, apa yang ditanam itu lah yang akan dituai, meski saya harus bersabar menunggu hasilnya bertahun-tahun kemudian. Urusan saya kemudian dengan manusia2 seperti ini hanyalah, berusaha memaafkan, menutup cerita  dan tidak mengizinkan segala yang bisa membuat saya menjauh dari tujuan hidup saya ke dalam pikiran saya.

Suatu saat saya harus berterimakasih pada mereka.

Terimakasih sudah membuang sampah sembarangan.

======================================

Sepanjang Nirmala-Mesjid Raya Pondok Indah

24 desember 2011

thanks tie, untuk selalu mengingatkan

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge