Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Traveling alone? why not?
Well Prepared

Traveling alone? why not?

Take a trip alone, dont miss the opportunity to learn something about yourself

“Mau kemana?, sendirian?, apa enaknya?, gak takut?”  Demikian beberapa tanya yang sering saya dapatkan ketika mereka mendengar rencana perjalanan saya atau melihat saya menggendong ransel sendirian dalam sebuah perjalanan. Saya hanya tersenyum manis sambil mengangguk setiap kali orang menanyakan hal tersebut. 

Sejak masih dipanggil “neng” berseragam putih abu-abu, hingga kini dipanggil ibu, saya sudah terbiasa melakukan perjalanan sendirian. Terlatih sejak saya harus menyelesaikan studi tingkat menengah atas di kota yang berbeda dengan orangtua saya di Jakarta. Untuk ukuran remaja jaman itu, seorang pelajar SMU bolak-balik secara mandiri dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah ke ibukota adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Pengalaman masa itu memperkenalkan saya sensasi nikmatnya solo traveling dan membentuk kebiasaan hingga kini. Meski berpergian dengan keluarga dan teman-teman juga saya lakukan dan memberi keasikan tersendiri, namun ada kenikmatan yang hanya saya peroleh jika saya melakukannya sendirian.

Sometimes, you just need a break in a beautiful place alone, to figure everything out

Diantara perjalanan bisnis, liburan bersama keluarga atau dengan sahabat, sesekali saya mengambil waktu sendiri untuk berpergian, biasanya tak lama, 4 sampai 7 hari saja. Bisa kemana saja tergantung waktu dan atau budget yang dimiliki. Nah, saat-saat seperti inilah kesempatan saya menikmati beberapa hal, seperti;

1. Kebebasan; ini sebenarnya yang utama.  Solo traveling memberikan saya kesempatan untuk lebih bebas menentukan tujuan, lama perjalanan dan jenis aktivitas selama perjalanan. Senang rasanya berpergian tanpa tiket pulang di tangan, bisa pulang kapan saja, sesuai rencanakah, berlama-lama di suatu kota atau malah berpindah ke kota lain.

Seperti pengalaman kemarin, rencana hanya perjalanan bisnis dua hari di Surabaya, berubah menjadi 7 hari karena overstay di Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan ke Pekalongan dan memutuskan untuk singgah di Semarang menemui teman-teman sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

2. Romansa memang lebih indah dinikmati sendirian. Saya selalu bilang kalau angkutan yang paling romantis itu adalah kereta api. Moda transportasi ini juga yang akhirnya mempengaruhi saya untuk memilih destinasi untuk solo traveling ke tempat-tempat yang bisa ditempuh dengan kereta api. Sebagian besar memang ada di Pulau Jawa.

Di perjalanan saya menikmati indahnya “do nothing”,  atau bengong gak jelas melamunkan roman-roman menyek kereta api, dan melakukan hal-hal gak penting lainnya yang gak mungkin saya lakukan bila bersama orang lain karena alasan kebersamaan. Lalu lahirlah beberapa baris prosa puisi dari kondisi seperti ini, yang membuat saya bahagia bak pujangga yang baru saja melahirkan sebuah mahakarya.

3. Menemukan hal baru dan  belajar banyak hal. Manusia adalah makhluk sosial. Sendirian mendorong hasrat berteman dengan berkenalan dengan orang baru. Senyum adalah bahasa yang paling universal, menjadi pembuka sebuah komunikasi. Dimulai dengan senyum, sapa, lalu mengalirlah cerita diantara kami.

Saya selalu menikmati momen-momen ini, momen dimana saya belajar lebih banyak mendengar daripada bicara, belajar banyak tentang hal baru dari pembicaraan tersebut. Selalu ada yang unik dan istimewa dari setiap orang yang baru kita kenal, bahkan dalam hal terburuk yang kami bicarakan sekalipun.

4. Mengasah kepekaan dan belajar menghadapi masalah. Solo traveling memberikan konsekuensi logis pada tanggungjawab yang utuh penuh ada di pundak kita, baik keselamatan pribadi, keuangan maupun keamanan. Biasanya saya mengandalkan naluri dan suara hati di situasi yang membuat saya harus mengambil keputusan sendiri. Berupaya terus mengasah ketajaman pada hal-hal yang berdampak negatif pada keselamatan atau keamanan diri.

Benar saya membuka diri dan komunikasi pada siapa saja yang saya temui tapi tidak untuk mempercayai. Benar bahwa banyak orang baik yang akan menolong kita saat sulit, tapi kewaspadaan tetap harus ada. Semakin sering kita berpergian sendiri, semakin terasah kepekaan kita. Kapan harus membuka diri, pada siapa dan sejauh apa. Alhamdulillah sejauh ini semua kendala perjalanan bisa diatasi dengan baik.

5. Percayalah, bahwa dalam perjalanan sendirian, kamu sesungguhnya tak akan sendirian. Kamu akan bertemu dengan orang baru, punya teman baru atau bahkan mungkin menemukan orang-orang yang sangat istimewa dalam hidupmu kemudian.

Chances are, other people you meet traveling alone are going to be incredibly interesting people

 So… traveling sendirian, kenapa nggak?

Yuuuuk, panggul ranselmu….

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

[relationship] Jangan Lupa Check Hidung Anda

Saya punya tingkat sensitifitas yang cukup baik terhadap bau, mungkin ini bawaan genetik dari ibu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge