Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Think Big : Berani Bermimpi

Think Big : Berani Bermimpi

Kurang lebih satu bulan yang lalu, saat duduk manis menemani suami menanti sang customer service sebuah penyedia layanan telekomunikasi terkemuka, tangan ku meraih Kompas edisi Minggu (aku lupa mancatat tanggalnya) yang disediakan untuk sekedar membunuh waktu agar tak bosan. Kebetulan nomor antrian yang kami pegang masih jauh dari nomor antrian yang sedang dilayani hanya oleh 3 customer service secara bergantian.

Membaca memang biasanya menjadi pilihan aku untuk melewatkan waktu (selain fesbukan tentunya he he he). Biasanya ada buku kecil pengisi waktu yang aku bawa. Kebetulan saat itu aku tidak membawa buku apapun di dalam tas ransel yang senantiasa setia dipunggung. Jadi jelas saja koran didepan mata menjadi obyek perhatian ku saat itu.

Tak ingin memberatkan pikiran membuat mata ku lebih tertarik pada bacaan ringan bertajuk parodi yang ditulis Samuel Mulia. Judulnya menarik perhatianku…”think Big”, mirip judul buku favorit kami (aku dan suami) dirumah….”the magic of thinking big”

Samuel menulis dengan ringan dan mudah dicerna tentang “think Big”nya, membuat pikirku segera berkelana, bergejolak menimbulkan hasrat untuk menulis hal ini. Namun sadar bahwa terkadang menulis merupakan kegiatan dengan kondisi yang unpredictable, maka supaya tidak terlupa aku dengan sengaja menyimpan tulisan itu dalam memory card ponsel.Berharap suatu saat bila waktu sudah bersanding dengan mood maka aku bisa mengulas dalam bentuk tulisan.

Cukup lama gambar itu menjadi penghuni folder images dalam memory card ponsel.Namun tadi saat selesai menunaikan sholat isya sebagai penutup kegiatan hari ini, mataku tertuju pada sebuah benda yang tergeletak tidak pada tempatnya dan tidak pada kondisi yang seharusnya.

Naluri seorang melankoli yang ingin semua pekerjaan dilakukan dengan “sebagaimana mestinya”, mengerakkan aku untuk mengambil benda itu, benda yang berwujud sebuah album photo yang sampul depannya tertulis “DREAM”, tentu saja awalnya dengan tujuan untuk membereskan letaknya.

Namun ternyata timbul kerinduan untuk membuka album itu sebelum membereskan sampulnya dan meletakkannya kembali ke tempat dimana seharusnya benda itu berada.Sebuah album sederhana, berisi gambar-gambar impian kami. Album itu adalah sebuah dream book yang kami buat ditahun 2003 sesaat setelah kami mengikuti salah satu seminar motivasi terbaik yang ada negeri ini untuk yang pertama kali.

Lalu teringatlah aku tentang rencana menulis yang tertunda itu…mengenai hal yang sama, Think Big : Berani Bermimpi. Ujian terakhir penutup semester tadi siang ternyata membuat mood ku hari ini cukup baik untuk menulis. Maka akupun mulai menulis.

Samuel menceritakan dengan sederhana betapa terkadang kita tidak menyadari potensi yang dimiliki oleh kita dan sering tenggelam bersamaan dengan waktu yang tidak bisa dimundurkan dan tidak bisa dimajukan. Dan sering seseorang membiarkan dirinya menghabiskan sisa waktunya disebuah tempat atau pada sebuah jenis pekerjaan.

Apakah kita tidak mampu berpikir besar atau bahkan berpikir besar saja tidak berani. Atau karena sejak kecil kita dididik oleh pengajar yang juga tidak berani berpikir besar. Sehingga bila hendak menggambar pemandangan yang terbayang dikepala kita hanyalah dua buah gunung dengan matahari ditengahnya?

Atau kita tidak berani berpikir besar karena nasehat yang kita terima dari orang2 disekitar kita adalah nasihat dari orang2 yang tidak berani berpikir besar.Atau karena kita takut ditertawakan karena menjadi besar menurut kita cukup sekedar pendeta, tukang masak,atau penjual bakso, demikian tutur samuel mulya.

Dan saat kita bercerita dengan antusias tentang pikiran pikiran besar kita, kenapa teman2 kita tertawa tebahak-bahak, padahal kita tidak merasa itu adalah sebuah guyonan. Atau jangan-jangan kita memang tidak sempat berpikir besar. Karena jangankan berpikir besar, baru akan mulai hendak ingin berpikir saja kita sudah diingatkan tentang laporan yang belum dibuat, perjalanan dinas yang harus dilakukan, dan seabrek pekerjaan rutin lainnya.

Oh ya …hati-hati dengan pekerjaan anda. Cinta terhadap pekerjaan memang sangat membantu dan menyenangkan, Namun bukankah manusia mudah buta karena cinta…?

Dahulu berpikir besar buat saya adalah menjalani sebuah profesi saja dengan serius sampai mencapai puncak. Saya lupa bahwa saya mempunyai kemampuan lain yang bisa saya gali dengan serius yang memungkinkan saya pada saat bersamaan berada di dua puncak yang berbeda.

Maka ketika saya terbakar untuk bermimpi maka lahir lah 100 impian dalam semalam yang kemudian dituangkan dalam dream book yang kini mulai berdebu dan usang yang tadi hendak saya bereskan malam ini.

Halaman pertama dreambook kami (aku, suami, diba dan rani), ada deretan huruf bernomor 1 sampai seratus keinginan kami. Tidak hanya kebendaan semata, namun menjadi apakah kami dan bagaimana kami yang kami inginkan ada dalam rentetan nomor-nomor tersebut. Halaman selanjutnya adalah gambar-gambar beberapa impian kami yang mampu kami visualisasikan.

Kami dengan segenap hati membuat buku impian kami, dengan detak jantung yang iramanya makin cepat terutama pada impian-impian kami untuk orang-orang yang sangat kami cintai dan hormati, dengan air mata untuk impian yang tidak mungkin tidak harus kami dapatkan.

Membuka kembali impian kami malam ini…. melalui album itu, mengingatkan aku untuk kembali kepada impian-impian yang pernah kami buat dari jiwa dan dalam selaksa doa.Meski beberapa telah kami raih namun ternyata masih banyak yang belum kami capai. Termasuk beberapa impian raksasa kami yang saat kami lelah kami merasa tidak mungkin mencapainya.

Samuel menutup parodinya dengan mengatakan: orang mungkin menganggap saya tidak menginjak bumi, bahkan menganggap sok dan lupa daratan, namun saya diam saja dan berjanji akan tetap
menggali. Bisa jadi setelah saya menggali saya tidak menemukan apa-apa, itu tidak masalah. Namun saya bahagia karena saya telah menggali.Karena dengan menggali saya mempunyai dua kesempatan, tidak dapat apa-apa atau mendapatkan sesuatu.


karena kalau saya tidak menggali, saya tidak mendapatkan apa-apa, cuma memandangi sekop didepan mata.


Lembah Nirmala
Awal Juli 2009
untuk belahan jiwa yang bersamanya kami tertatih
untuk berlari dan sampai pada impian kami

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge