Home » Family and Parenting » that’s what friends are for……..

that’s what friends are for……..

Masih tentang persahabatan, setelah beberapa hari yang lalu saat hampir menjelang tengah malam aku sempat telepon Tie cuma sekedar bilang “how capenya aku”, eh kemarin malam gantian dia yang telepon aku tuk menyampaikan hal yang sama. Yang bikin sedikit berbeda adalah kali ini Tie mengatakannya dengan suara isak berurai air mata bikin aku gak bisa dengan jelas menangkap apa yang dia katakan. Aku sih cuma bilang; ya , ooh, jadi, terus, lalu, oke dan dilengkapi dengan pertanyaan ” perlu aku jemput malam ini” dan karena jawabannya tidak maka pembicaraan ditutup dengan kalimat perintah ” aku tunggu besok hari minggu di kampus jam 5 sore setelah aku selesai ngajar, kita jalan !!” Begitulah kami……salah satu ritual yang kami lakukan saat kami “lelah” adalah cari tempat yang enak view nya tuk berlama2 ngobrol sambil makan. Biasanya ini mujarab menjadi obat lelah kami.

Sekitar jam 5 sore kami sudah meluncur ke arah tol Jagorawi, kali pilihan jatuh ke arah puncak secara kami berdua sama2 lagi mual melihat mall dan crowded nya Jakarta. Diiringi album Rossa yang terbaru plus sangat lengang nya jalan menuju puncak, mobil melaju santai dengan kecepatan dibawah 100 km/jam. Perjalanan terasa sangat syahdu, kami berdua menikmati perjalanan dengan sedikit kata, seolah ingin memanjakan hati, mata dan telinga dengan pemandangan yang indah sepanjang jalur puncak dgn lagu2 “patah hatinya” Rossa. Perjalanan makin makin terasa “biru” (halah) setelah senja berlalu, dan kami dengan sengaja membuka jendela mobil lebar2 membiarkan hawa dingin masuk bukan hanya kedalam mobil dan menurunkan suhu tubuh yang hangat oleh kota jakarta tapi juga masuk kedalam paru-paru mendinginkan relung kalbu.

Roda My Red Beauty berhenti di sebuah tempat makan yang kami pilih gak jauh dari Mesjid At’Taawun. Sesuatu yang hangat dan tempat yang tinggi agar dapat menikmati pemandangan serta tidak terlalu ramai pengunjung membuat kami memilih resto “Sop Buntut Bang Hadji”.
Waktu turun kita sempat cengengesan membayangkan keanehan kita berdua, “dua perempuan” malam2 ke puncak dengan kostum gak jelas; aku dengan blazer, rok lebar bak little missi serta sepatu pantofel tinggi bak cinderella berpasangan dengan Tie dengan casual jeans kostum
. Sungguh pasangan yang aneh. Diikuti pelayan ke ruang atas yang tidak ada pengunjung gue sempet nyeletuk ama Tie; “jangan2 orang pikir kita kayak pasangan “lesbi” kali yee” Gubrak…..

Sekitar hampir dua jam ngobrol ngalor ngidul, kita pulang, kali ini Rossa istirahat dulu karena menu penutup perjalanan adalah mentertawakan diri sendiri dengan joke: “untung loe gak jadi bunuh diri Tie, kalo loe bunuh diri loe gak bisa lagi menikmati keindahan malam ini dan yang jelas pasti loe ngerepotin gua gara2 bunuh diri loe itu ha ha ha “.

Tak lupa membawa oleh2 ubi cilembu tuk yang tercinta yang menanti di rumah dan beberapa makanan kecil tuk krucil2 yang sudah tak sabar menanti kedatangan kedua bundanya kami pulang.

Saling mengucapkan terimakasih telah menjadi sahabat yang baik satu dengan yang lain…..care each others, respect each others….sesuatu yang gak bisa ditukar dengan uang.

that’s what friends are for…..Tie
Luv u

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Emakku Superhero

Ya, memang julukan yang mungkin terasa cukup aneh. Apalagi bunda sebenarnya memang gak punya mata ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge