Home » Family and Parenting » tentang Rizka…..

tentang Rizka…..

Rizka Farah Diba Dianti…….

Nama itu kami sematkan 8 tahun yang lalu, 27 Mei 2001pada sosok bayi perempuan kecil yang baru saja lahir di Rumah Sakit Haji Pondok Gede Jakarta.

Rizka yang berarti rezeki merupakan pemberian neneknya sebagai ganti sebuah cerita penantian 4 tahun hadirnya bayi mungil dalam rumah tangga kami sebagai pengganti kakaknya yang hanya menemani kami selama 9 bulan dalam perut aku, ibunya.

Setiap orang selalu bilang bahwa anak adalah rezeki, dan bila memang seorang anak sudah menjadi bagian dari rezeki kami pasti itu akan kami dapatkan.Jadi saat bayi mungil itu hadir kami sepakat untuk memberi nama depan nya Rizka yang berarti rezeki buat kami dan dengan penuh harapan bahwa Allah selalu memberi limpahan rezeki pada kami di sepanjang hidup kami kelak.

Sang kakek…..fans berat dengan kerajaan Iran….Syahreza Pahlevi,
jadi beliau sudah berpesan bahwa kalau anak kami laki-laki berilah nama itu padanya. Tapi karena yang lahir adalah perempuan maka kami memberinya nama Farah Diba, nama sang sang ratu. Dan bagi kami pun Rizka adalah ratu kecil kami.

Dianti…..
Hm…boleh dong kami juga punya andil memberi nama belahan jiwa kami….
kami menambahkan kata DIANTI di bagian belakang..
Dianti merupakan gabungan nama kami berdua , orangtuanya. “D”onna “I”melda “A”gustinus ahaddia”N” gin”TI”ing…nama yang manis di dengar menurut kami.

Diba kami memanggil namanya,
adalah anak perempuan yang sangat “manis”.
Lahir saat kami masih tinggal di rumah kami di perbatasan bekasi-bogor. Saat orang tuanya masih belajar tentang hidup yang ternyata keras. Aku harus meninggalkan dia setiap hari dalam perjalanan menuju jayabaya dengan turun naik angkot sebanyak 3-4 kali dengan waktu tempuh 2 jam kurang lebih sekali jalan sejak usianya kurang lebih 2 bulan. Di asuh seorang nenek pengasuh yang kepadanya aku harus mengucapkan ribuan terimakasih karena menjaga Diba seperti cucunya sendiri dengan sangat telaten.

Diba kecil gak rewel, tumbuh sewajar anak-anak lainnya.
Alhamdulillah sehat meski tubuhnya lebih suka tumbuh ke atas dari pada ke samping alias langsing seperti ibunya. Tumbuh bersama kesibukan ibunya dan format pendidikan yang aku gariskan sejak dini. Tumbuh diatas norma/nilai2, bukan di atas aturan, sehingga yang tertanam di kepalanya adalah “ada bunda atau pun tidak ada bunda, lakukan hal yang memang seharusnya dilakukan”. Bukan karena ini boleh dan ini tidak. Alhamdulillah diba tidak merasa perlu untuk berbohong meski berbuat salah, dia pasti mengatakan, maaf bunda…aku tadi “………..”, karena dia tahu di rumah kami tidak mengenal adanya hukuman. Yang ada hanya kalimat….kenapa begitu, lalu gimana? ke depan nya harus gimana dong”…dan Diba terlatih untuk tahu apa salah dan bagaimana cara agar kesalahan itu tidak terulang.

Diba sangat manis, berpikir lebih dewasa dari teman seumur nya.
Aku ingat waktu belum lama kejadian pengasuh kami minggat meninggalkan rumah sejak pagi, diba dan adiknya sama sekali tidak memberitahu kami padahal kami pulang malam. Waktu ditanya kenapa tidak memberitahu, diba cuma bilang…aku khan sibuk bunda ha ha ha….aku pulang sekolah tidur, terus bangun2 aku ngaji, pulang ngaji aku main sebentar, sholat magrib terus belajar….aku bisa kok bedua adek aja, gak ada mbak juga gak pa pa….(ooo…oooo)

Diba juga sangat perhatian….
waktu aku belum punya laptop, aku harus mengetik dengan PC home di kamar di lantai bawah. Terkadang kalo di kejar dateline laporan, aku kerjakan di rumah sampai lewat tengah malam, dan Diba tidak akan beranjak dari samping aku sampai aku berhenti mengetik, terkadang sampai tertidur. Sesekali terbangun dan bertanya, “udah kelar nda?”. Kalo aku jawab belum pasti dia bilang “iya deh, aku tungguin”

Diba extrovert dan maskulin xixixxi.
Waktu kecil, karena umurnya hanya berbeda 15 bulan dengan adiknya, kami sering membelikannya baju yang motif, warna dan model yang sama sehingga semua orang nyaris mengatakan mereka kembar dan sulit membedakan. namun, seiring dengan bertambah umur, diba semakin memperlihatkan personality nya. Diba ternyata sedikit maskulin sementara adiknya feminin sehingga akhir2 ini kami memperlakukan diba sesuai dengan karakternya.
Di luar sekolah kami tidak memaksa dia memakai rok karena kami tahu pasti dia tidak nyaman dengan kostum itu. Kami ingat waktu ada pesta kostum yang di adakan sepupu saat ultah anaknya, aku diprotes berat karena Diba turun dari mobil dengan kostum “power ranger lengkap dengan topengnya” hahaha. Lha gimana lagi….itu kostum pilihan dia setelah 3 jam muter ITC.

Diba extrovert, mudah dekat dengan siapa saja, dan selalu berpikir positif sehingga dia tidak pernah segan berbaur dengan siapa pun bahkan dengan teman dan karyawan2 di kantor bundanya. Tidak pernah ragu berada di tempat yang bahkan asing atau baru sekali di datangi. Jadi dia enjoy saja diajak kemana pun dan menikmati saja apa yang dia temui.

Diba sangat penyayang….dan sering kali melakukan banyak hal yang membuat aku terharu.
Dia terlatih untuk tidak cengeng dan gampang nangis apalagi cuma karena jatuh atau di ganggu teman. Kami mengajarkan dia untuk Fight….gak perlu menangisi yang gak perlu ditangisi. Tapi suatu hari, waktu kami ngobrol tentang itu, dia bilang “tapi aku pernah liat bunda nangis, waktu aku sakit khan?!”
pasti bunda sedih ya kalo aku sakit….
(oalah naaaaak, tentu saja…!!)

Diba pandai berkomunikasi…
untuk meminta hal yang dia inginkan, dia bilang dengan kalimat pembuka, “bunda capek gak?, bunda udah gajian belum?, bunda besok bisa ijin gak kerja gak?, bunda besok kuliah gak? bunda besok sempet gak?…..boleh gak aku”……(hal yang dia inginkan)…, meminta tolong pasti bilangnya….aku minta “tolong” dong, kalo salah, oh ya”maaf ya”,sering bilang “terimakasih ya bunda” I love you bunda….
dan kalimat terakhir itu pasti dibarengi dengan peluk dan cium…
Aku menyimpan banyak surat cinta dari Diba yang sering dia letakkan di meja kaca ruang tamu agar mudah aku lihat kalau aku pulang saat dia sudah tertidur, kalimat2 nya sungguh membuat kita merasa berarti. Bahkan bila surat itu isinya sebuah permintaan pun pasti tetap membuat kita tersenyum.

Ah….tidak ada habisnya membicarakan malaikat kecilku yang beberapa menit lagi akan bertambah umur.
malaikat kecilku yang selalu ada didepan pintu setiap malam saat aku pulang kerja, dengan segelas air putih ditangan dan sebaris kalimat yang sama “apa bunda capek??”

Terimakasih tuhan atas titipan manis Mu pada ku.
Tak mungkin aku menjaganya tanpa campurtangan Mu
jadikan dia anak yang sholihah ya Allah
mampu memberi dan bermanfaat bagi orang lain
beri dia kesehatan untuk melakukan banyak kebajikan
dan beri dia ke imanan agar tetap menjadi hamba Mu yang setia sampai akhir zaman.
amiin

jakarta, tepat di 27 mei 2009, 00.00 wib

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Emakku Superhero

Ya, memang julukan yang mungkin terasa cukup aneh. Apalagi bunda sebenarnya memang gak punya mata ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge