Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Teknologi, Sosial Media dan Sampah Manusia

Teknologi, Sosial Media dan Sampah Manusia

Meliburkan diri satu hari ini dengan alasan kesehatan, membuat saya memiliki lebih banyak waktu luang. Sebagian besar waktu saya gunakan untuk menyelesaikan tumpukan lembar jawaban Ujian Akhir Semester yang sudah lewat tenggang waktu ditemani televisi yang menyala dan sesekali rehat mengintip dua akun sosial media dan website pribadi saya melalui layar smartphone yang senantiasa terhubung dengan internet. Waktu terasa melaju cepat dan saya lalui dengan berbagai rasa, karena diselingi dengan obrolan dengan beberapa teman lama.Kebetulan sekali hari ini saya dengan sengaja mengaktifkan lagi aplikasi BlackBerry Messanger yang lama tidak saya aktifkan. Beberapa menyapa saya dan kemudian terlibat dengan obrolan seru sambung menyambung menyatukan beberapa cerita yang belum sempat disampaikan.

Jelang malam setelah saya menuntaskan pekerjaan kantor, saya kembali iseng membuka-buka layar smartphone saya sambil menanti kantuk datang. Menggerakan kursor menelusuri lini masa di dua akun sosial, di website sampai transkrip pembicaraan di kotak BBM tadi siang. Entah darimana datangnya, saya tiba-tiba merasa betapa sosial media ini mulai mengerikan dimata saya. Tentu saja perasaan ini tidak sekonyong-konyong datang namun merupakan akumulasi informasi dikepala saya akibat aktivitas serupa yang sudah menjadi kebiasaan saya. Di dorong oleh pembicaraan saya dengan seorang teman tentang sampah manusia, otak saya malah semakin gencar berpikir maka bisa ditebak akibatnya bahwa kantuk saya justru semakin enggan datang. Saya melihat koneksi antar tiga kata kunci yang mengorbit di kepala saya yaitu, teknologi, sosial media, dan sampah manusia.

Saya melihat bahwa saat ini teknologi berkembang sedemikian cepat, semakin mudah dan semakin murah sehingga bisa di akses oleh hampir setiap orang, tak pandang usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Manusia satu dengan manusia lain begitu mudah terhubung meski berada di belahan bumi yang berbeda karena adanya internet, bisa berinteraksi, menerima dan berbagi informasi dengan berbagai bentuk baik sekedar isi pikiran dan gambar melalui sosial media, termasuk berbagi sampah hidupnya. Saya bukan mengajak pembaca berpikir negatif, namun saya hanya mencoba menyajikan fakta yang saya lihat dan berbagi keresahan yang saya rasakan karenanya.

Ide menulis tentang hal ini muncul begitu saja saat saya ngobrol dengan seorang teman yang saya panggil Noe. Kami memang punya banyak ketertarikan yang sama pada berbagai hal sehingga selalu merasa asyik untuk berlama-lama berbincang, hingga saya tadi siang mengatakan mudah2an saya tidak meng-influence terlalu jauh karena begitu seringnya saya menyampaikan isi kepala saya pada dia. Noe yang blak-blakan santai menyahuti sambil berseloroh mengatakan “gak lah mbak, aku khan cuma buang sampah, mbak mau aja menampung hehehe”. Saya menanggapinya dengan santai, saya tahu Noe hanya menggoda saya, ia tidak membuang sampahnya pada saya melainkan berbagi rasa semata. Tetapi tidak dengan pikiran saya mengenai inti yang saya tangkap diluaran sana, bahwa memang benar ada orang-orang yang suka buang “sampah” sembarangan.

Saya merasa serius dengan urusan sampah manusia, tentu sampah bukan dalam arti yang sebenarnya yang saya maksud. Saya pernah menulis tentang hal yang berkaitan dengan hal ini sebelumya yaitu mengenai Hukum Truk Sampah, bercerita tentang manusia yang sarat dengan beban hidup atau unsolved problem yang ada disekitar kita atau yang kita temukan dalam perjalanan hidup. Mereka atau pun kita terkadang begitu penat dengan beban hidup, entah masalah finansial, pekerjaan, rumah tangga atau hubungan percintaan. Sebagian mereka adalah orang-orang yang terluka, termarjinalkan dan memiliki dendam dengan masa lalunya. Sebagian mampu menutupi namun sebagian lagi tidak, tapi memiliki kecenderungan yang sama yaitu memiliki perilaku yang bisa kita analogikan dengan truk sampah. Sebagian dari kita pasti tahu rupa truk sampah bukan? Sarat beban. Sepanjang jalan menuju Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) truk ini akan membagi aroma tak sedapnya pada setiap yang ia temui di jalan, tak peduli kita menginginkan atau tidak, tak peduli kita merupakan bagian dari beban hidup dan masalahnya atau pun tidak. Bahkan bukan hanya itu, sebagian muatan nya pun ikut dia bagi, sehingga kita bisa saja kecipratan airnya atau apes kena kotoran miliknya. Istilah ini sering saya gunakan bila kita sulit sekali memahami perilaku seseorang, kami mencoba berlapang dada, dan mencoba memaklumi mereka-mereka yang sulit kami pahami itu mungkin sedang sarat beban, kebetulan saja kami yang kecipratan karena ada di sekitar orang-orang seperti ini.

Pada hari ini juga kebetulan saya sempat berbincang dengan seorang teman baik, sedikit mencurahkan hati saya kepada teman tersebut tentang kegelisahan hati saya atas perilaku sesorang terhadap saya yang cukup melukai hati. Karena orang tersebut sangat dekat dengan saya, maka luka ini pun saya gambarkan cukup berlebihan, “hati saya robek karenanya”. Teman saya itu sangat bijak menanggapi, memang kita kadang sulit memahami, mengapa Tuhan menghadirkan orang-orang seperti itu dalam hidup kita, begitu mudah masuk dalam kehidupan orang lain, merusak lalu pergi seolah tak terjadi apa-apa. Orang-orang seperti ini terus saja berpindah bagai benalu yang merusak hidup orang lain sambil terus menambah dosanya sendiri.

Di waktu yang lain, penghujung hari menjelang tidur yang batal tadi, saya sempat membaca dua status dari dua orang yang berbeda di sebuah akun sosial, seorang pria sedang memaki seorang perempuan secara terbuka di sana, dengan penuh amarah dan pilihan kata yang membuat saya bergidik. Tak kalah emosionalnya di status lain, saya membaca seorang istri yang sibuk berdoa setengah meratap di sosial media tersebut, menggambarkan dengan gamblang betapa nestapa hidup ia dan anak-anaknya lantaran perilaku suaminya. ? Itu belum termasuk satu sosok berwajah malaikat yang sibuk berkhotbah tentang surga dan neraka namun lupa menggunakan celananya. Belum lagi bonus gambar dan video tanpa sensor, baik secara etika maupun kemanusiaan yang ikut meramaikan suasana. Saya menarik nafas panjang. Bukankah teknologi dan sosial media ini telah menjadi sesuatu yang mengerikan?. Sudah sedemikian tua kah dunia sehingga penuh dengan manusia-manusia yang begitu sarat beban hidupnya. Teknologi dengan segala kemudahan dan kemampuan beli masyarakat tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola mental dan perilaku. Bagaimana menyikapi semua ini pada akhirnya semua dikembalikan pada kita.

Seperti kemudian yang saya sampaikan pada teman tersebut, bahwa sesungguhnya ada bagian dari sampah-sampah itu yang bisa kita kelola, minimal jadi pembelajaran buat kita, bahwa semua yang tersaji di depan kita sebagian bagai pemandangan didepan mata,bisa dinikmati, sebagian membuat miris tetapi sebagian juga cermin diri. Sebagian masih bisa kita hindari dan sebagian lain terkena percik lalu meninggalkan noda, sebagian yang menjadi kelemahan diri memang harus dibenahi. Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi intensitas melihat dan membaca, tinggalkan aktivitas stalking dan browsing yang hanya membuat kita sibuk menilai orang lain dan mencemooh tindakan orang lain. Saya mematikan feature recent update di smart phone saya, menghilangkan tanda cek list pada menu Shows in News Feed pada beberapa akun yang berpotensi membuat hati saya kotor, atau bila perlu unfriend, unfollow atau blocked. Semua dalam rangka upaya menjaga hati dan pikiran dari yang demikian agar kita tidak berlaku tak ubahnya seperti truk-truk sampah yang digambarkan diatas.

Menutup tulisan ini, saya menyadari bahwa saya juga bukan manusia suci, tak elok rasanya merasa lebih hebat dan lebih bersih dari orang lain. Menyitir dua status dari teman-teman baik ini yang senantiasa mengingatkan untuk selalu berjalan dengan rendah hati di muka bumi (thanks Ai), karena segala puja puji terhadap kita sesungguhnya karena Allah masih berkenan menutupi aib kita (thanks Noe), semoga kita semua termasuk orang yang selalu memperbaiki diri. Insyaallah…

Nirmala, 26 Juni 2013 23.37 WIB

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

8 comments

  1. Avatar

    Aku nggak pernah salah kan kalo setiap gagasan yang mba tulis itu… worth it to read.
    Eh mungkin gak ya? Setiap yang hendak mendaftar akun social media harus training etika terlebih dahulu. Hahaha

    • donna imelda

      Diinisiasi obrolan dng Nurul khan,  Alhamdulillah bila Bermanfaat Dan Layak. Thanks Sdh setia Mampir  Dan meninggalkan jejak. 

      Training ? Xixixi…….yuuuuk, Aku Daftar…..

  2. Avatar

    betul, mak. setiap detik lalu lalang sampah di medsos, apalagi soal capres:)

  3. Avatar

    Jika saja definisi sampah manusia itu ada pada pemikiran manusianya, maka ada baiknya kita tidak hanya menjadi penampungan sampah atau TPA yang bau, karena bisa saja kita menjadi pendaur ulang gagasan dan pemikiran sampah dari orang lain. Cerita yang sangat menarik untuk meluaskan wawasan.
    thanks for sharing!

  4. Avatar

    Dulu kadang saya suka gatel nyetatus komentarin yang lagi jadi hot news, tapi saya mikir lagi ga semua orang bakal setuju. Momen Pemilu kemarin saya nahan diri buat ga nyetatus, cuma sekali-kali aja komen status temen, itu juga yang aman-aman aja. Sementara urusan curcol pribadi, errr…. saya pelit buat bergai di medsos. Biar aja, sya share dengan teman yang bisa saya percaya. Rasanya senang kalau kilas balik newsfeed status saya ga ada yang ngeluh-ngeluh atau marah. Mudah-mudahan yang intip halaman saya ga ilfil dengan kejayusan atau keceriaan saya yang kadang rada lebay hehehe.

    Maafkan kalau komen saya kepanjangan dan jadi nyampah 😀
    Efi recently posted…Jual Tas Murah JogjaMy Profile

  5. Avatar

    Mbak Donna, inspiratif dan dalem banget tulisannya. Jadi nyambung sama komennya Mbak Donna kemarin deh. Terimakasih banyak untuk pesan dan pelajarannya. Saya ijin share ya Mbak 🙂
    Dani recently posted…Maunya Orang Hidup Beda-BedaMy Profile

  6. Avatar

    Baru baca ini tadi krn ada yg share di fb kayaknya mba. Great post. Aku pernah sampai pada taraf males buka timeline demi menjaga hatiku sendiri mba. Sungguh mengerikan memang efek sosmed klo si pemilik akun hobi berbagi sampah itu tadi kemana-mana 🙁
    Uniek Kaswarganti recently posted…Hijab Lengkap dan Murah di BukalapakMy Profile

  7. Avatar

    Sedikit menambahkan, dari satu pengajian saya mendengarkan petuah: “Jangan engkau buka apa-apa yang telah ditutupi oleh Allah”.

    Sayangnya, justru social media seringkali dijadikan tempat untuk membuka hal-hal yang ditutupi tersebut, dan sudah pasti jadi sampah.

    Saya pribadi memilih membuka sosmed ketika saya akan berbagi sesuatu saja. Dan berusaha sebisa mungkin membagi hal-hal yang berguna. Karena “littera scripta manent” ,,, “hal yang kita tulis akan abadi adanya”.

    Btw, nice thoughts mbak. Suka bacanya. Ini ibarat pengingat juga 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge