Home » Review and Event » Sustainable Mining dan Pembangunan Manusia Yang Berkelanjutan
Photo By Lalu Budi Karyadi - PTNNT

Sustainable Mining dan Pembangunan Manusia Yang Berkelanjutan

Dengan menganut prinsip kegiatan usaha berkelanjutan, kami berkomitmen untuk tumbuh bersama masyarakat dan selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Keinginan kami adalah masyarakat di sekitar tambang akan mampu mandiri dalam melaksanakan kegiatan ekonominya di saat usaha tambang kami selesai. –Because We Care– (PTNNT, 2016)

Begitu kurang lebih kutipan kalimat pembuka di brosur yang saya terima saat briefing Sustainable Newmont Bootcamp V tanggal 9 Februari 2016 di Jakarta, beberapa hari sebelum saya menjejakkan kaki di Tambang Batu Hijau milik PT Newmont Nusa Tenggara di Kabupaten Sumbawa Barat. Entah mengapa saya jatuh hati melihat imaji yang disematkan di sekitar tulisan di brosur tersebut. Manusia-manusia yang sedang beraktivitas dengan latar belakang alam, tambang dan kehidupan lokal menyita perhatian saya.

Biru langit, hijau pepohonan dan butiran pasir laut yang menjadi latar belakang gambar, terlihat begitu harmonis bersanding dengan senyum yang tersungging di bibir masyarakat lokal. Tak urung hal ini menghadirkan rasa sekaligus tanya. Seberapa jauh eksplorasi tambang PTNNT di Tanah Sumbawa ikut berpengaruh nyata pada kehidupan mereka sebagai masyarakat lokal? Lalu bagaimana wujud tanggung jawab sosial PTNNT pada masyarakat lokal agar dapat menikmati kekayaan alam tambang yang mereka miliki.

Pertanyaan yang sama pernah saya ajukan ke sebuah perusahaan tambang. Saya melihat sebuah kesenjangan yang nyata di sebuah area kegiatan tambang lain 7 tahun yang lalu. Hati saya tersayat kala itu, ketika saya menikmati semua priviledge “mewah” sebagai tamu di sana, namun di saat yang bersamaan, beberapa ratus meter di luar restricted area, saya melihat saudara sebangsa saya berpakaian seadanya, berjalan kaki naik turun bukit sambil membawa ubi sebagai bekal perjalanan berhari-hari menembus bukit ke kota terdekat.

Tak ada yang salah dengan standar operasi kegiatan tambang di sana. Kualifikasi dunia diterapkan sebagaimana tuntutan yang harus dipenuhi sebuah perusahaan tambang secara teknis. Tanya lebih jauh mengungkap sedikit fakta, pemerintah daerah yang harus lebih becus mendistribusikan pendapatan daerah yang digelontorkan perusahaan. Kapasitas saya sebagai dosen tamu juga tidak sempat menelisik lebih jauh. Namun saat menulis ini saya berharap, hal itu sudah berubah, tidak seperti yang saya bayangkan saat ini.

Lihat Lebih Dekat, Kenali lebih Jauh
Tentu saja saya tidak berharap hal itu terjadi di Batu Hijau. Jadi, seiring langkah berjalan menuju pesawat yang akan membawa ke Batu Hijau, saya membawa sejumlah tanya. Terbersit satu harap dalam benak, semoga semua tanya terjawab dengan keberadaan saya di sana, dengan melihat langsung dan berinteraksi intim dengan masyarakat lokal di lingkar tambang.

Manusia memang selalu menjadi obyek yang menarik untuk diamati. Bukankah dunia adalah laboratorium raksasa dengan manusia sebagai obyek pengamatan. Pada setiap tarikan bibir dan gesture tubuh, pada sorot mata yang saling bertumbukan pasti ada cerita menarik untuk dikisahkan. Begitu juga kehidupan masyarakat lokal di lingkar tambang PT NNT yang mencakup tiga kecamatan yaitu Kecamatan Jereweh, Kecamatan Maluk dan Kecamatan Sekongkang.

Di hari ke-4 kegiatan Sustainable Newmont Bootcamp V di Batu Hijau, para bootcampers –sebutan karib untuk peserta bootcamp— yang berjumlah 26 orang di bagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan tinggal dengan penduduk lokal di dua kecamatan yang berbeda yaitu di Kecamatan Maluk dan Kecamatan Sekongkang selama dua malam sambil melakukan beberapa kegiatan di sana. Saya termasuk anggota kelompok 2 yang ditempatkan di Kecamatan Maluk bersama dua belas peserta lain dan ditambah dua orang awak media dari Berita Satu.

Biarkan Mereka Yang Bicara
Di Maluk, kami para peserta perempuan tinggal di kediaman Bapak dan Ibu Arifin. Merekalah yang menjadi induk semang kami selama dua malam. Hasrat ingin menggali cerita lebih jauh dari masyarakat setempat saat bermalam terkendala kegiatan yang sangat padat. Siang hari kami melakukan kunjungan ke beberapa tempat, dan malam hari kami sibuk menyiapkan acara esok hari di SMK 1 Maluk, atau sibuk berbersih diri dan sudah terlalu lelah untuk keluar rumah untuk berbaur dengan masyarakat sekitar.

Untunglah Pak Arifin masih menyempatkan diri untuk duduk sejenak bersama-sama kami dan bercerita banyak hal tentang diri, keluarga dan masyarakat sekitar termasuk keberadaan PTNNT di Kecamatan Maluk. Sedangkan dengan Ibu Arifin, saya menyempatkan diri berbincang dengan beliau di dapur setiap pagi, sambil menemani beliau menyiapkan sarapan buat kami.

Dua kali sarapan di rumah beliau kami disuguhi berbagai menu khas setempat yang lezat, dari Plecing Kangkung, Ikan Kakap Goreng “Madu, hingga Gulai Sepat isi udang besar dan potongan Ikan Kakap. Tak ketinggalan pula sambal hasil ulekan Bu Arifin yang mantap sebagai pelengkap. Saya yang jarang sekali sarapan berat di Jakarta, namun selama dua hari di rumah Pak Arifin, dengan sukacita menyantap habis nasi sepiring penuh dengan lauk dan gulainya.

Dari cerita Pak Arifin, tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan PT. Newmont Nusa Tenggara sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang daerah tersebut. Pak Arifin yang merupakan penduduk asli dari Kec. Maluk mengatakan bahwa dahulu tempat tersebut adalah daerah terpencil yang minim sekali fasilitas terutama transportasi. Kuda adalah satu-satunya sarana transportasi kala itu. Mata pencaharian penduduk sebatas bertani atau berkebun dan nelayan. Jumlah penduduk juga sedikit sekali dan hanya dihuni oleh penduduk lokal.

Kegiatan tambang PTNNT membawa dampak terbukanya daerah ini, penduduk setempat memiliki alternatif lain sarana transportasi dengan infrastruktur yang sangat baik. Perekonomian pun berkembang dengan terbukanya berbagai jenis lapangan pekerjaan, baik sebagai pekerja di PTNNT maupun kegiatan perekenomian lain. Penduduk dari luar Sumbawa pun berdatangan dan ikut merasakan daerah ini menggeliat. Termasuk usaha penyewaan tempat tinggal atau kost yang dikelola pasangan ini.

Kini kondisi di Kecamatan Maluk tak ubahnya bagai kota-kota kecamatan lain yang telah maju di Indonesia. Jalan raya mulus beraspal, usaha rumah makan, pakaian jadi, telepon seluler, dan minimarket pun dengan mudah kita jumpai di sini. Menariknya biaya hidup di sini cukup tinggi, bahkan lebih mahal dari biaya hidup saya di Jakarta. Kos-kosan sederhana tanpa pendingin udara harus dibayar sekitar 1,5 juta perbulannya. Sepiring nasi dengan lauk pauk daging bisa mencapai harga 35 ribu sd 40 ribu rupiah.

Merubah paradigma, lepaskan ketergantungan.
Pro kontra adalah saudara kembar yang selalu berdampingan, selalu ada dua sisi yang menyertai sesuatu hal. Begitu juga untuk kegiatan tambang PTNNT bagi masyarakat sekitar lingkar tambang yang mendatangkan perubahan sekaligus berbagai dampak sosial yang menyertainya. Ada saja selentingan tak sedap, dari isu pemerataan kesempatan kerja, hingga urusan bantuan dana.

Padahal, dari informasi yang saya dapat sejak di Jakarta dan kenyataan di lapangan yang saya lihat, saya menyimpan kekhawatiran tersendiri. Terlebih bila mencermati Rencana Strategis PTNNT untuk pengembangan masyarakat lingkar tambang yang meliputi Kec. Maluk, Kec. Jereweh, dan Kec. Sekongkang. Tak kurang-kurangnya PTNNT menggelontorkan dan hingga 50 milyar per tahun dan melakukan berbagai program pengembangan baik di sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian hingga ke ranah sosial budaya masyarakat.

Namun hal ini bisa menjadi tenaga pendorong sekaligus penghambat. Pertanyaan seberapa jauh ketergantungan masyarakat setempat pada keberadaan PTNNT, dan bagaimana bila semua ini terhenti saat kontrak karya berakhir sehingga PTNNT harus menghentikan seluruh kegiatannya, hadir menghantui benak.

Terbayang sebuah situasi saat PTNNT harus menghentikan sementara produksi karena regulasi di tahun 2014 yang melarang ekspor konsentrat dan mengharuskan PTNNT memiliki smelter untuk pemurnian konsentratnya. Perekonomian di lingkar tambang seolah lumpuh kala itu. Hal ini mengajarkan bahwa, cepat atau lambat, mereka harus siap bila saat kontrak karya berakhir itu tiba.

Di salah satu kunjungan kami ke salah satu sekolah di Kecamatan Maluk, kami mencoba menitipkan pesan itu pada murid-murid SMKN 1 Maluk. Bahwa akan tiba saatnya masa depan negeri ini, khususnya Kabupaten Sumbawa Barat ada di pundak mereka. Pada kunjungan tersebut, kami berbagi inspirasi tentang profesi dan kegiatan kami masing-masing dalam bentuk permainan dan dalam suasana yang santai.

Secara bergantian, kami mencoba menggali apa yang menjadi impian dan cita-cita mereka secara interaktif. Mereka menyampaikan impian mereka dan kami bercerita tentang pekerjaan atau profesi kami yang berhubungan dengan cita-cita atau impian mereka tersebut. Ada nilai penting yang kami selipkan saat itu, bahwa mereka bisa jadi apapun kelak dan adalah penting untuk memiliki tujuan di balik impian yang ingin diraih, entah itu untuk dirinya, keluarga, untuk tanah kelahiran mereka Sumbawa atau untuk negeri mereka, Indonesia.

Ingin bekerja di tambang itu bagus, namun bukan sebuah keharusan. Di luar sana banyak sekali jenis pekerjaan dan profesi yang bisa mereka geluti. Dunia ini terlalu luas untuk bergantung pada dunia tambang saja. Dan bahagianya, kami menemukan banyak di antara anak-anak ini yang memiliki cita-cita yang besar dengan tujuan yang mulia, saya sempat merinding ketika salah satu murid bercerita bahwa ia ingin membuat ibunya bahagia dan senyumnya sang ibunda abadi karena kesuksesan yang ingin diraihnya kelak.

Ya, saya memang concern terhadap generasi yang akan datang dan termasuk yang masih percaya bahwa pendidikan adalah salah satu faktor penting dalam mengawal mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Agak sulit mengubah pola pikir orang dewasa yang sudah puluhan tahun terbentuk, tapi tidak anak-anak muda ini. Mereka lebih terbuka, lebih mudah menerima perubahan. Sehingga mengaraklah sebuah harapan, kelak mereka yang akan membangun Sumbawa Barat dan melanjutkan apa yang telah PTNNT bangun hingga hari ini.

Bagaimanapun, sustainable mining bukan semata kegiatan tambang yang berkelanjutan namun juga pembangunan manusianya. Sebuah tanggung jawab sosial yang harusnya mewujud pada kemandirian masyarakat lingkar tambang. Sebagaimana harapan PTNNT yang menginginkan masyarakat di sekitar tambang untuk mampu mandiri dalam melaksanakan kegiatan ekonominya di saat usaha tambang mereka selesai, semestinya bisa diwujudkan dengan kemauan yang besar dari masyarakatnya itu sendiri.

Nah, bagaimana PTNNT membangun Sumbawa melalui program-program tanggung jawab sosial mereka, tunggu tulisan saya setelah ini ya.

Stay tune.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Kulit Kering dan Tumit Pecah-pecah? Ternyata Gampang Mengatasinya!

Kulit kering dan tumit pecah-pecah itu bagi saya bukan hanya sekedar mengganggu penampilan namun juga mengganggu ...

6 comments

  1. Avatar
    Intan Rosmadewi

    Terasa menyentuh sekali sukaaaa tulisan chakep Do_Im

  2. Avatar

    Membangun manusia dan membantu mereka mengembangkan potensi pas banget dari pesan moral bahwa kita hidup harus saling membantu ya Bu Dosen ; )
    Evi recently posted…Wisata Pendidikan di Kawasan Batu HijauMy Profile

  3. Avatar

    Mantaaap sekali tulisannya Bunda Donna..
    Sepakat sekali bahwa sustainable mining tak sekedar tambang yg berkelanjutan. Pembangunan manusia di seputaran tambang tak boleh diabaikan. Ini penting sebagai bekal untuk kemandirian masyarakat ketika tambang sudah hengkang..

    Sekali lagi tulisannya sgt mencerahkan.. 😀
    Iqbal Kautsar recently posted…Pesona Utuh Gerhana Matahari Sebagian Jogja (Dari Rumah Saja)My Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge