Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Suatu Sore di Gereja Blenduk Semarang

Suatu Sore di Gereja Blenduk Semarang

If you’re always racing to the next moment, what happens to the one you’re in?

Stasiun Tawang Jelang Senja
Stasiun Tawang Jelang Senja

Saya memang tak punya waktu banyak saat singgah di Semarang sore itu, 9 Juni 2015. Kereta Kamandaka yang membawa saya dari Pekalongan tiba di Semarang sekitar pukul empat sore, dan saya harus melanjutkan perjalanan lagi ke Jakarta pukul sembilan malam harinya. Sehingga bila setengah jam sebelumnya saya sudah harus ada lagi Stasiun Tawang, maka praktis saya hanya punya waktu hanya sekitar empat jam saja untuk bertemu teman-teman di Semarang. Dengan waktu yang sesempit itu, maka quality time bersama teman adalah yang menjadi prioritas

Perjalanan demi perjalanan, dari waktu ke waktu mengajarkan saya bahwa, tak penting lagi seberapa banyak tempat yang kamu kunjungi atau seberapa jauh langkah yang ditempuh. Berapa banyak moment istimewa yang tercipta dan kamu nikmati, itu jauh lebih penting. Jadi ketika seorang perempuan baik hati yang akrab saya panggil dengan Tarie menawarkan saya untuk berwisata ke beberapa tempat di Semarang dalam persinggahan tersebut, saya justru memilih untuk berada di satu tempat saja agar punya lebih banyak waktu untuk berinteraksi seru dengan teman-teman sesama blogger atau relawan di sini.

Sudut Kota Lama, mengingatkan aku pada salah satu sudut Jonker Street Malaka
Sudut Kota Lama, mengingatkan aku pada salah satu sudut Jonker Street Malaka

Akhirnya Taman Srigunting yang menjadi titik temu kami hari itu. Masih dengan koper di tangan dan ransel di punggung, saya menaiki becak menuju lokasi yang ternyata tak jauh dari Stasiun Tawang. Hanya beberapa menit saja saya sudah tiba, padahal saya sudah terlanjur duduk manis kegirangan dan ingin bisa lebih lama menikmati kawasan Kota Lama Semarang. Suasana hati saya persis seperti syair lagu anak-anak yang judulnya becak itu. “Saya duduk sendiri, sambil mengangkat kaki. Melihat dengan asik, ke kanan dan ke kiri”, begitu kira-kira bunyi syairnya. Menyenangkan bukan?

Taman Srigunting ini letaknya persis di sebelah Gereja Blenduk yang terkenal itu. Tamannya tak luas, namun terawat. Banyak warga lokal maupun pendatang seperti saya terlihat beraktivitas di taman tersebut. Ada yang duduk-duduk menikmati sore sambil berbincang, ada pula yang asik mengabadikan diri dengan latar belakang Gereja Blenduk yang saat senja itu terlihat cantik sekali diterpa sinar jingga mentari yang perlahan hilang di horison.

Temaram yang cantik
Temaram yang cantik

Kami tentu tak ingin menyia-nyiakan momen tersebut. Tak ada obrolan serius yang bikin dahi berkerut, kami membicarakan hal yang ringan sambil bersenda gurau menanti senja. Semua berlangsung santai dan seru meski saya saya baru kali ini bertemu dengan sebagian besar dari mereka. Passion yang sama di bidang menulis dan interaksi melalui sosial media membuat kami mudah akrab satu sama lain meski baru pertama bertemu.

Lihatlah bagaimana kami kursus singkat tentang Yoga dari Mbak Latree yang juga adalah seorang praktisi yoga, lalu mencoba berbagai pose yoga sambil berfoto dengan latar belakang Gereja Blenduk. Jangan tanya ramenya, kami berlima asik bergaya menggunakan berbagai pose yoga sambil riuh rendah tak henti mentertawakan diri sendiri yang nekat berpose di tengah taman.

Yang praktisi Yoga sih cuma Mbak La, yang lain wannabe xixixi
Yang praktisi Yoga sih cuma Mbak La, yang lain wannabe xixixi ki-ka atas: Mbak Latree, Uniek. ki-ka bawah: aku, Noorma, Tarie

Seusai magrib, pertemuan dilanjutkan di sebuah tempat makan angkringan. Beberapa teman pulang terlebih dahulu, namun ada juga beberapa yang justru baru saja datang bergabung seperti Kinanti dan Indri. Kami sama-sama tergabung dalam sebuah kumpulan relawan yang bergerak di bidang pendidikan dan anak-anak. Banyak sekali pilihan makanan di tempat ini. Nasinya dibungkus dengan porsi kecil-kecil khas angkringan. Perut saya yang masih terasa kenyang karena tadi sudah melahap Lumpia yang dibawakan Tari, dan masih terbawa kegembiraan tadi memilih untuk tidak makan di tempat melainkan membawanya untuk dimakan di dalam kereta nanti

Waktu jua yang membatasi pertemuan kami, tapi dalam waktu yang singkat sungguh sebuah momen yang mengesankan telah tercipta. Di dalam kereta yang membawa saya kembali ke Jakarta, saya terus saja teringat kebersamaan tadi. Betapa hebatnya suatu kenangan tercipta diantara orang-orang yang belum pernah bertemu sebelumnya, namun merasa dekat satu dengan yang lain, karena kesamaan passion yang menyatukan.

Kirim superman woosh ah buat teman-teman KI Semarang
Kirim superman woosh ah buat teman-teman KI Semarang ki-ka: aku, Tarie, Kinanti, Indri dan Niken

Terimakasih ya untuk kebersamaannya… Terimakasih untuk oleh-olehnya ya, Tari… sampai jumpa lagi.

Bye Semarang, I'll be back
Bye Semarang, I’ll be back

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

[relationship] Jangan Lupa Check Hidung Anda

Saya punya tingkat sensitifitas yang cukup baik terhadap bau, mungkin ini bawaan genetik dari ibu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge