Home » Family and Parenting » setelah sepuluh tahun

setelah sepuluh tahun

Membaca lagi buku Personality Plus sambil jaga Ujian Tengah Semester membuatku seperti “recharge” batere kehidupan ku untuk dapat menerima sinyal2 kehidupan. Sebenarnya gak ada bagian yang belum aku baca pada buku itu tapi kali ini ada nuansa yang beda aja saat membacanya kembali hari ini. Beberapa sosok melintas di pikiran ku, orang2 yang dekat dalam hidupku yang membuat hidupku penuh warna. Tanpa sadar aku senyum2 sendiri sambil membaca terutama bagian2 unik mengenai ciri setiap personality.

Bukan tanpa alasan “setelah sepuluh tahun” menjadi judul tulisan ini. Karena tepat 27.07.2007 kemarin genap sepuluh tahun usia pernikahan kami. Sepuluh tahun yang bukan mudah dilalui, terombang ambing dalam bahtera kecil nan ringkih ditengah lautan dan gelombang kehidupan. Terkadang merasa tak mampu lagi berlayar tetapi tujuan telah ditetapkan dan kami harus menyelesaikan apa yang sudah kami mulai. Perlu sepuluh tahun kami belajar memahami satu sama lain, perlu sepuluh tahun untuk menempa diri menjadi lebih kuat, perlu sepuluh tahun menyadari bahwa memang untuk perbedaan lah Tuhan menyatukan kami.

Sepuluh tahun hidup bersama dengan perbedaan karakteristik. Dia yang plegmatis sangat sabar menghadapi dunia sementara aku mengatakan itu lamban. Aku melihat warna dunia ini merah, kuning, hitam dan putih namun dia melihat dengan warna biru yang anggun dan damai. Dia hanya perlu beberapa kata sederhana namun aku bisa menggunakan seluruh kata di kamus meski tuk menggambarkan hal yang sama. Semua dipikirkan dan dilakukan dengan santai dan damai sementara menurut aku harus dipikirkan secara detail dan dilakukan sesuai dengan apa yang direncanakan. Duh betapa bertolak belakangnya kami. Lalu apa yang menyatukan kami menjadi pertanyaan sepanjang hidup pernikahan kami.

Tuhan selalu baik….kadang memberi tanpa harus kita meminta terlebih dahulu. Tak ada yang kebetulan di dunia ini karena Sang Maha telah mangatur segalanya termasuk langkah kami bertemu dengan teman2 di network yang memperkenalkan buku itu kepada kami. memberi jawaban pertanyaan kami bahwa ” perbedaan lah yang menyatukan” kami. Saling melengkapi apa yang pasangan kita tidak miliki. Dia mengajari aku tentang kesabaran, kesederhanaan, kebajikan, dan pelayanan. Memberi aku kebebasan penuh tuk menjadi diriku sendiri. Sementara aku memberi warna lain dalam hidupnya, membuatnya tersenyum dengan celoteh dan canda aku yang kadang kelewatan, membantu membuat perencanaan secara terperinci buat keluarga kami: dirinya dan anak2nya.

Tentu saja ada kelemahan dan kelebihan pada setiap personality, namun itu lah yang membuat kita kaya: bila mampu menerima setiap individu apa adanya bukan seperti yang kita mau atau seperti yang kita inginkan, fokus pada kelebihan setiap personality dan bukan berdalih di balik personality.

Sepuluh tahun ke depan kita masih akan terus belajar tuk saling mengerti dan kemudian memahami.

Bahtera ini tetap akan berlayar………dengan tambahan dua penumpang didalamnya.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Emakku Superhero

Ya, memang julukan yang mungkin terasa cukup aneh. Apalagi bunda sebenarnya memang gak punya mata ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge