SEPULUH TAHUN BERBAGI

SEPULUH TAHUN BERBAGI

Juni 2009 tinggal beberapa hari lagi……………………………

Bulan Juni kali ini memang agak berbeda dengan bulan Juni lainnya karena bulan Juni ini tepat 10 tahun aku berbagi. Aku lebih suka menggunakan istilah berbagi sebagai kata yang menggambarkan pekerjaan ku sebagai seorang dosen di salah satu universitas swasta yang telah berdiri sejak tahun 1958 di Jakarta. Aku berbagi apa yang telah aku pelajari, berbagi apa yang aku rasa sebagai bagian dari almamater dan institusi, berbagi pengalaman yang mungkin gak banyak dan gak hebat2 amat, berbagi impian tentang indahnya pendidikan, berbagi waktu dengan mahasiswa dan mitra kerja….yang semua itu telah menjadi bagian erat hidup ku sepuluh tahun terakhir.

Teringat suatu saat di bulan Mei 1999, suatu moment yang sungguh merubah seluruh jalan hidup ku, saat menghadap Dekan FTI-UJ dalam suatu kesempatan wawancara yang merupakan salah satu bagian dari recruitment dosen tetap kala itu. Setelah dengan sengaja malam sebelumnya aku menghadap Tuhan, memohon dengan linangan air mata agar wawancara besok berjalan lancar dan harapan ku untuk menjadi bagian dari almamater tercinta sebagai pengajar dapat terwujud.

Beliau saat itu mengatakan sesuatu yang membekas dalam hati sampai saat ini dan sangat mempengaruhi seluruh keputusan-keputusan yang aku ambil selama 10 tahun berbagi. Beliau mengatakan : “ saya sudah membaca lamaran dan curriculum vitae anda, dan itu menunjukkan attitude anda sehingga anda saya anggap pantas untuk bergabung bersama kami.

Aku sendiri saat itu gak terlalu ingat, bagian mana dari surat lamaran itu yang beliau garis bawahi tentang attitude, tapi kalimat itu buat aku merupakan salah satu bentuk kepercayaan yang diamanahkan buat aku. Kepercayaan menjadi bagian dari institusi sekaligus almamater ku, kepercayaan untuk menjadi bagian dari dunia pendidikan yang konon kabarnya “ikut mencerdaskan kehidupan bangsa”, dan kalimat sakti itu melahirkan sebuah tekad ….”bapak tidak akan pernah menyesal mengatakan itu, karena saya akan membuktikan nya”.

Perjalanan sepuluh tahun berbagi….sangat relative, …..bisa dikatakan singkat dan bisa pula dikatakan cukup lama. Tergantung dari sudut pandang mana kita memandangnya. Begitu pula buat aku, sepuluh tahun sebenarnya masih terlalu singkat untuk dikatakan “mengabdi”, itu mengapa aku lebih suka menggunakan istilah berbagi. Namun sepuluh tahun juga bagi ku merasa sebagai waktu yang telah cukup panjang untuk tumbuh bersama. Banyak yang berubah selama sepuluh tahun dan ruang gerak yang semakin sempit untuk bertumbuh membuat aku merasa penat akhir-akhir ini.

Teringat saat pertama kali masuk kelas, dan berhadapan dengan mahasiswa yang angkatan nya udah gede2, yang memandang sinis penuh keraguan seorang dosen muda belia dihadapan mereka. Terbayang saat betapa nervous nya aku di semester2 awal setiap mau mengajar, terbayang betapa aku harus belajar banyak sebagai persiapan mengajar untuk menghadapi “iseng” nya mahasiswa yang kadang gak jelas sedang bertanya atau sedang menguji kemampuan dosennya. Terbayang saat aku harus mulai mengenali diri dimana kekuatan dan kelemahan aku agar aku bisa eksis dalam karir, dan mulai fokus berada di area dimana kekuatan ku dapat di optimalkan dan meninggalkan urusan memaksimalkan kelemahan yang toh terbukti tidak akan pernah optimal.

Sepuluh tahun berbagi….

Waktu terus berjalan, kehidupan terus berputar, membuat aku seakan berada di rumah sendiri. Bekerja
dan mengajar adalah bagian dari kesenangan dan hobi. Berkumpul, mengajar dan bercanda di tengah-tengah mahasiwa membuat hidup penuh dengan warna dan semangat. Membuka buku dan menulis menjadi kegiatan utama yang membuat aku addict. Dan semua kesenangan itu cukup membuat aku terlena, terlalu enjoy dengan kegiatan-kegiatan kampus sehingga baru kemaren2 mengambil keputusan untuk studi lanjut.

Sepuluh tahun yang menyenangkan…….

Namun bukan nya gak ada konflik. Bukan juga berarti gak ada masalah dan baik-baik saja. Pernah merasa krisis identitas saat aku menjadi satu-satunya dosen tetap yang ada di jurusan yang tidak menjabat struktural. Meski sebenarnya gak perlu ambil pusing karena karir didunia pendidikan adalah “kepangkatan” dan bukan jabatan struktural, namun saat orang lain memiliki meja dan ruangan sendiri, aku saat itu merasa menjadi “bukan siapa-siapa”. Karena bagaimanapun pasti ada sesuatu yang berbeda dari seseorang atau mereka dan layak diperhitungkan sehingga seseorang layak dipilih….menjadi logika pikir ku saat itu. Sempat menarik diri dan minder, sedikit bertingkah negatif agar kelihatan keren meski bukan siapa-siapa menjadi pilihan sikap ku saat itu….nyeleneh gak jelas.
namun ada kata2 yang membuat aku berpikir ulang tentang sikap dan memutuskan untuk belajar dari keadaan dan memutuskan untuk senantiasa bertumbuh, ke arah yang positif, bukan untuk siapa2, bukan karena apa-apa, tapi memang seperti itulah seharusnya. Bukan kah untuk mendapatkan hasil yang berbeda kita harus melakukan hal yang berbeda.

Fokus hanya ingin bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik tanpa sasaran tembak untuk membuat orang lain senang atau atasan senang, atau untuk berkompetisi agar bisa bersaing dengan orang lain, membuat semuanya berlangsung silent dan smooth, bahkan tanpa aku sendiri sebagai pelaku sadari. Tapi tak ada yang sia-sia memang semua hal baik yang kita lakukan meski kadang buahnya lama baru bisa kita nikmati. Bagai tanaman bambu china yang tumbuh lama akarnya ke dalam terlebih dahulu, baru kemudian melesat menjulang ke atas, Satu demi satu…..kejadian demi kejadian, hari demi hari, membuat aku seakan mengejar ketinggalan dimasa lalu….dimulai dari menjadi beberapa jabatan struktural dan akhirnya sekarang aku bekerja membantu beliau yang masih menjabat sebagai Dekan di fakultas sebagai pembantu beliau.

Sadar bahwa meski ada upaya pertumbuhan diri namun tidak ada yang bisa terjadi tanpa campur tangan Tuhan, tidak ada yang kebetulan dalam hal ini karena semua telah ada yang mengatur apa yang menjadi bagian hidup manusia, semua dibawah kuasa –Nya. Begitu pula yang aku alami, tak ada kata yang bisa dituliskan kecuali “Alhamdulillah, Tuhan memberi aku kesempatan untuk tumbuh. Jabatan hanya lah salah satu bentuk eksistensi, namun pengejewantahannya tetap lah diatas sikap apa yang kita pilih untuk menjalaninya. Sekedar prestise dan ladang income, atau bentuk pengabdian dan amanah?

Dan aku …insyaallah memilihnya sebagai bentuk pengabdian dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan……..
semoga setiap alumni menjadi butir-butir tasbih ku dihadapan-Nya

cimanggis
10052009

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge