Home » Cerita di Balik Kisah » Sayap Cinta Devina #1

Sayap Cinta Devina #1

“Kota mu terik sekali hari ini, Aku sudah landing dan sekarang sudah bersama kadek, ”. Begitu isi pesan singkat kukirimkan ke Jakarta sambil menunggu Kadek mengambil mobil di parkiran. Aku menghela nafas sambil berkata dalam hati, “akhirnya aku sampai juga di Bali mu, Raka”

Tak sulit buatku menemukan lelaki yang kupanggil Kadek ini ditengah para penjemput di bandar udara Ngurah Rai. Tinggal kubayangkan saja satu sosok berkulit gelap dengan postur tubuh tak terlalu tinggi yg mirip seseorang yang kukenal baik di Jakarta. Benar saja, mataku langsung bersirobok dengan seorang lelaki yang memegang sehelai karton bertuliskan “Devina”.

Kuhampiri ia sambil mengulurkan tangan menjabat hangat lelaki tersebut dan menyapanya, “Selamat siang, Bli…saya Devina, panggil saja saya Vina“.

“Selamat datang di Denpasar, mbak Vina…saya Made Suarjana, mbak bisa panggil saya Kadek”

Damn…pria ini memiliki banyak kesamaan dengan dia, warna suara, cara berjalan, sorot mata dan bahkan tawa nya yang khas, milik Raka. Kukirimkan pesan susulan ke Jakarta “Damn, kenapa semua mirip sih dengan kamu? Eh tapi kamu lebih ganteng kok dari adikmu hehehe”. Dan aku membayangkan wajahmu yg tersenyum saat membalas pesanku dengan hanya satu kata..”hush”.

Aku menghempaskan diri di kursi depan mobil ini, duduk disamping Kadek yang langsung paham apa mauku. “Kita keliling sebentar seputar Denpasar ya mbak Vina, mbak masih ada waktu untuk melihat Tanah Lot dan menikmati sunset nanti sore di Jimbaran sebelum mbak saya antar ke Ubud malam hari, agak jauh memang tapi kebetulan saya tinggal di Gianyar jadi gak masalah bila saya harus mengantar mbak kesana”. Begitu uraian rencana hari pertama saya di Pulau seribu pura ini yg ditawarkan Kadek. Not bad menurutku…toh aku juga gak punya target ketat melangkahkan kaki kesini . Kunikmati saja kemana hati ingin berkelana, toh ada Kadek yg tau betul mengatur rute mana yg baik. Aku tinggal duduk menikmati.

Sesaat setelah kendaraan ini melaju meninggalkan bandara, benakku mulai berkelana. Teringat suatu masa berusia puluhan tahun, saat bagai air bah yg marah kusampaikan padamu kala itu, “Raka, kamu punya waktu untuk berpikir kembali keinginan keluargamu, Bali takkan beranjak kemana pun. Tapi kamu hanya punya satu pilihan, perempuan dihadapanmu ini atau perempuan itu, aku atau ia yg kamu akan hadirkan kehadapan ibumu”. “Waktumu mungkin panjang karena aku pasti menunggumu, tapi seberapa banyak waktu yg tersedia untuk itu, entahlah. Acuannya hanya satu, Raka…bila aku yg lebih dahulu kesana berarti waktumu telah habis, dan aku yg telah mengambil keputusan” lanjutku.

Bodoh sekali rasanya mengingat kalimat2 yang meluncur dari mulutku saat itu, entah percaya diri yg terlalu besar atau sebuah kesombongan diri. Semakin terasa bodoh karena beberapa bulan kemudian aku menerima undangan pernikahanmu. Ternyata kamu tak butuh waktu lama tuk berpikir, ternyata bukan aku yang kamu pilih. Dan kebodohan lebih lanjut pun aku lakukan, aku bergeming untuk cinta yang lain, dan menunggu keajaiban bahwa kau tetap akan memilihku…kelak. Bodohnya perempuan bernama devina ini.

Dua puluh tahun berproses, sungguh bukan waktu yg singkat, bukan pula mudah buat hati untuk beranjak. Tapi kujalani itu dengan sadar, kunikmati perihnya bermetamorfosa dari amarah dan luka, mengering dan membekas dalam lalu kini hanya tinggal sebuah noktah yg menambah indah pada sayap-sayap yang membawa ku terbang ke banyak tempat, hal dan peristiwa serta manusia2 baru sesudahnya . Waktu memang mampu menyembuhkan banyak luka dan mengubahnya menjadi keindahan.

Mobil terus melaju, mengelilingi kotamu sambil kunikmati keindahan dan keunikan budaya di setiap sudutnya. Kemudian kutinggalkan matahari yg tenggelam di Jimbaran menuju tempat istirahatku di Ubud. Kadek menyetir dengan kecepatan rendah dan stabil, tak banyak yg bisa dilihat sepanjang perjalanan karena malam. Namun masih kuingat kalimat terakhir yg diucapkan Kadek, “ada pesan dari Jakarta yang menanyakan, apakah mbak masih secantik dulu”

Aku tertawa lebar mendengarnya, dan dengan berseloroh aku menjawab, “ sampaikan salam buat Jakarta, dek. Dan bilang ya, mbak Vina lebih cantik dari yang dulu”.

Mobil ini pun riuh oleh tawa kami berdua.

Sesaat sebelum mobil masuk ke pelataran bungalow, Kusempatkan kembali berkirim pesan singkat ke Jakarta, “ Bali memang indah, tak sabar menunggu Oktober untuk kembali kesini bersamamu, honey”.

Tapi kali ini pesan kukirimkan untuk seseorang yang lain

semua telah kuselesaikan, Raka

Gianyar, 9 Juli 2012

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge