Tuesday, November 12, 2019
Home » Family and Parenting » Remedial Sekolah Kehidupan

Remedial Sekolah Kehidupan

Melangkah gontai menuju parkir mobil R.S.Sentra Medika Cimanggis malam ini bukan hanya dikarenakan tubuh yang penat karena sejak dini hari mengurus suami yang mendadak dibawa ke UGD karena kolik lagi ginjalnya namun juga karena berjuta hal merebak di ruang pikirku.

Buat siapapun rumah sakit bukan lah tempat yang nyaman untuk dikunjungi, aura duka dan kesakitan mendominasi seluruh sudut ruang. Begitu pun buat aku.
Bukan hal yang menyenangkan terbangun dini hari saat sang suami bergulat dengan sakitnya dan harus mampu mengendalikan panik untuk menyetir mengantar yang tercinta ke rumah sakit jauh sebelum saat sang fajar merekah. Tujuan ku hanya satu, secepatnya dengan selamat sampai di rumah sakit terdekat.
Ku tinggalkan dua bocah manis dalam lelapnya tidur dengan perlahan agar mereka tidak terjaga sambil menitipkan pesan pada sang Maha Penjaga : Ya Allah aku titip anak2ku pada-Mu….

Detik demi detik gelisah menggelayuti benak menunggu perkembangan hasil tindakan darurat yang dilakukan paramedis, yang kali ini harus ekstra hati-hati karena tekanan darah 180/120 akan berakibat fatal pada penanganan yang salah. Aku hanya mampu memaksa tersenyum, sambil memandang wajah yang menahan sakit dan berkata…”InsyaAllah, sakitnya pasti hilang ay…., harus yakin ..” dan diikuti anggukan wajahnya yang penuh harap.

Tapi Tuhan tau pasti yang terbaik buat hambanya…perintah dokter yang mengatakan bahwa tidak ada perubahan dan mengharuskan pasien di rawat inap untuk menstabilkan kondisinya terlebih dahulu, aku ikuti dengan sebaris kalimat “bagaimana baiknya menurut dokter saja”.
Aku tidak berusaha menolak juga tidak berusaha untuk menanyakan pada Tuhan “kenapa”. Kami belajar pada setiap kejadian bahwa tidak pernah ada yang kebetulan dan semua terjadi karena ada sang Maha Pengatur. Yang ada di kepala ku hanya, aku mohon kekuatan dan ringan kan sakit suami ku. Bila ini cobaan beri aku kekuatan, bila ini musibah beri aku kesabaran, dan bila ini ujian, maka luluskan aku.

Mengalami hal yang sama sebelumnya sebanyak dua kali membuat aku tidak terlalu panik dan cepat membaca situasi. Aku hanya perlu mengatur apa yang ada di kepala dan rasa agar sinkron. Feeling ku mengatakan ini butuh sabar dan ikhlas. Dua pengalaman serupa sebelumnya dengan situasi dan kondisi yang berbeda membuat aku mencoba membuat komparasi, bahwa ini ujian dengan soal yang sama dengan tahun2 lalu..kenapa ujian masih dengan soal yang sama, logika berpikir ku mengatakan bahwa ini “her”…bahwa ini kesempatan buat aku memperbaiki “jawaban” soal yang sama sebelumnya. Menyempurnakan jawaban2 yang belum tepat dan berarti waktu itu aku gak lulus, dan berarti pula ini kesempatan buat aku tuk naik tingkat. Dan aku harus lulus…dan key word nya “ikhlas dan sabar”.

Afirmasi positif dari awal yang ditanamkan ternyata memang membuatnya terasa ringan….dua hari bukan tanpa penat dan lelah harus membuat semua berjalan mulus baik yang di rumah maupun di rumah sakit. Tapi Alhamdulillah…semua bisa di lalui.

Tidak ada rasa yang paling membahagiakan hari ini kecuali usapan tangan sang suami di kepala saat mobil melaju membawa kami kembali ke rumah dengan kata yang megucapkan terimakasih dan seuntai kalimat indah menjelma doa buat ku…..semoga jannah itu masih miliki ku

amiiin

jakarta, 060609
to my beloved hubby

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Emakku Superhero

Ya, memang julukan yang mungkin terasa cukup aneh. Apalagi bunda sebenarnya memang gak punya mata ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge