Home » Flash Fiction » Prompt #31 Tirta Amerta

Prompt #31 Tirta Amerta

tirta amerta Aku menjerit tertahan melihat wajah dibalik pintu bungalow, menggelengkan kepalaku seraya mundur perlahan. Pemandangan ini mengapa begitu sulit dipercaya. Langkahku terhenti, aku terhenyak, terduduk di pinggir tempat tidur yang berantakan oleh brosur beberapa wedding organizer. Termangu aku menatap kamu yang begitu tenang berjalan ke arahku, mengambil tempat duduk disebelahku, lalu sama terdiam untuk beberapa saat, menatap kosong ke arah bunga kana yang mekar berwarna warni diantara wangi dupa di balik pintu yang masih terbuka.

“Aku sengaja menyusulmu kesini, terbang dari Jakarta dengan penerbangan paling pagi”.  Begitu kalimatmu membuka percakapan saat  keempat roda kendaraan mulai bergerak meninggalkan bungalow.

Pria yang duduk dibelakang setir ini tenang mengendalikan laju kendaraan dengan kecepatan stabil. Sementara aku masih banyak diam dan tak banyak kata yang mampu keluar dari mulutku. Dengan kesibukannya yang luar biasa, tak percaya bahwa lelaki yang menemaniku  hari ini adalah dia. Teringat ucapannya beberapa hari lalu saat aku meminta beberapa informasi sebelum berangkat ke Bali.

“kenapa mendadak sekali berangkatnya Vina, urusanmu akan lebih mudah di kotaku bila aku yang menemani”, katanya.

Aku hanya menjawab sekenanya, “kamu terlalu sibuk dan tak pernah punya waktu di luar urusan bisnismu”.

Tapi nyatanya sudah lebih dari tiga puluh menit perjalanan kunikmati keberadaannya disampingku. Seharusnya aku marah atas kelancangannya, meski di lubuk hati tetap menyalahkan diriku sendiri mengapa terus menerus menghubungi dia dan harus melibatkannya dalam urusan ini. Tapi entahlah, pada kenyataannya tiada amarah yang keluar. Aku masih saja lebih banyak diam dan membiarkan semua rasa luruh pada lembutnya gengggaman tangan pria yang sejak dulu sangat dicinta.

Angin sejuk terus meniup lirih ujung rambut di keningku, sesekali menampar lembut pipiku hingga terasa dingin. Semangkok sup di depanku pun semakin tak menarik terlihat karena pasti sudah tak hangat lagi untuk dinikmati. Biarlah, aku masih menikmati kehangatan lain dalam rengkuhan Raka.
Persis di hadapan kami, kokoh Gunung Batur dan ketenangan danau yang mendampinginya seolah menjadi saksi ikrar bersama. Menenggelamkanku dalam suasana yang tak ingin kuakhiri, sebagaimana cinta yang seolah tak tahu caranya pergi.

Panggilan melalui telepon seluler menghentikan lamunanku, menyadarkan bahwa kelak yang akan tertinggal dari hari ini hanyalah kenangan yang menggenang di sudut benak. Tak perlu mengacak-acak samudera untuk mencapai keabadian bila hanya racun yang ditebar atau amarah yang membakar segala. Kasih sayang orangtua melalui jodoh yang mereka sodorkan adalah bentuk kasih sayang yang abadi buat aku anaknya.

Panggilan itu, dari Adrian, calon suamiku.

Cerita ini dibuat sebagai bagian dari  Monday Flash Fiction,

Writing Prompt, #13 2 Desember 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Prompt #48 Yang Tergantikan

Aku bergegas melangkah. Susah payah aku berjalan melewati gundukan demi gundukan tanah sambil terus memegangi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge