Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » positive Feeling vs positive Thinking

positive Feeling vs positive Thinking

Setiap manusia sadar atau tanpa disadari sebenarnya sering mencari jati dirinya yang kadang muncul dalam bentuk sikap atau perilaku yang kadang membuat dirinya sendiri gak ngerti.

Kahlil Gibran dalam bukunya Pasir dan Buih menulis:
” Ketika kamu merindukan berkat yang tak dapat kamu sebutkan, dan ketika kamu bersedih tanpa tahu sebabnya, maka sebenarnya kamu sedang tumbuh bersama dengan segala sesuatu yang tumbuh, dan menjulang ke arah dirimu yang lebih besar”

Kalimat diatas klik banget ama aku bertahun2 yang lalu, waktu aku masih kuliah tingkat satu. Tapi entah kenapa aku butuh waktu lama banget tuk ngeh bahwa ternyata kalimat itu masuk dalam alam bawah sadar aku dan membawa aku ke banyak kesempatan tuk tumbuh. Mudah2an gak ge er bahwa aku merasa tumbuh lebih baik, menjulang ke arah diri yang lebih besar seperti yang dikatakan Gibran…..sampai sekarang dan berharap tetap terus tumbuh…..(jangan pernah merasa sudah matang, karena setelah itu busuk. tetaplah merasa hijau agar tetap tumbuh).

Kahlil Gibran lah yang mengenalkan aku terhadap dunia filsafat, dan membuat aku asyik dengan kumpulan mutiara kebijaksanaan. Membuat aku haus dengan segala yang memperkaya batin. Perjalanan spiritual seperti ini membawa aku bertemu dengan buku The Magic of Thinking Big yang bener2 bikin membuat hidup aku menjadi ajaib (kata Erbe Sentanu, keajaiban = kemudahan hidup). Buku itu yang mengajarkan aku bahwa : “kita semua, lebih dari yang kita sadari, adalah produk dari cara berpikir kita”. Untuk itu kita perlu berpikir positif dan berada dalam lingkungan orang2 yang berpikir positif. Awal nya sih semangat dan rasanya mudah, tapi ternyata selalu berusaha berpikir positif di tengah2 heterogenitas cara berpikir manusia yang gak semua nya berpikir seperti itu membuat aku seperti melawan arus dan jadi manusia aneh dan gak menarik. Gak bisa diajak nggosip, gak bisa diajak ngeluh, sok bijak lah…..uh basi deh pokoknya bagi mereka. Dan ya gitu deh kejadiannya….kayak naik jet coaster, terombang ambing bikin mual…sebel.

Tapi Erbe Sentanu dalam Quantum Ikhlas nya bikin aku “ngeh” kenapa. Ternyata kita butuh lebih dari sekedar Positive Thinking yang mendominasi otak , tapi kita butuh Positive Feeling yang berkolaborasi dengan hati. Transformasi dari positive thinking ke positive feeling menyempurnakan proses keberhasilan individu maupun korporat dari metode Goal Setting yang memberatkan kepala, menuju era Goal Praying yang lebih menyejukkan di hati. Positive feeling/goal praying tidak hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri yang berupa “force” untuk meraih “future” yang sukses seperti pada positive thinking atau goal setting tapi justru secara integratif mengandalkan kekuatan diri sendiri dan Tuhan yang menghasilkan power untuk menciptakan sukses.

Berpikir positif ini pula yang ditanamkan oleh para motivator dalam program-program pengembangan diri. Bahwa untuk mencapai keinginan kita harus selalu berpikir positif. Padahal, pikiran kita (12%) hanyalah efek dari perasaan kita (88%). Sebab bagaimanapun kita berupaya membentuk pikiran agar positif , kalau perasaan kita masih negatif, pasti pikiran kita kembali negatif. Untuk itu kita perlu ikhlas: bersyukur, menikmati prosesnya dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan hanya kepada Tuhan,akan membuat perasaaan anda tenang dan positf maka otomatis anda hanya akan berpikir yang positf.

Oh….ngeh deh jadinya, Berarti kita harus punya kemampuan untuk mengelola agar pikiran dan perasaaan serta perbuatan selaras. Itu yang mungkin aku sebut dengan paripurna dan hasilnya adalah masterpiece….
Pikiran hanya 12% sedangkan perasaan 88%, sehingga positve feeling lebih powerful dibanding positive thinking. Jika kehendak hati tidak sinkron dengan kehendak pikiran maka hasilnya adalah kebingungan. Semua keinginan adalah bentuk keputusan sementara dikepala anda sedangkan perasaan merupakan keputusan final dihati anda. Dan sebelum kita berhasil membuat hati setuju dengan pikiran kita maka selama itu pula kita akan terombang ambing dalam ketidakberdayaan.

selamat mencoba….

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge