Home » Review and Event » Perlukah Perempuan Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi? #Bag. 2

Perlukah Perempuan Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi? #Bag. 2

Masih ingat tulisan saya terdahulu yang berjudul, Apakah Perempuan Perlu Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi? #Bag. 1? Bila anda masih ingat, waktu itu saya telah memaparkan hasil presentasi dua orang narasumber yaitu Bapak Adi dan Ibu Amalia yang masing-masing memiliki keahlian di bidang robotic dan brand consulting. Di bagiian kedua ini saya akan menuliskan hasil Forum Group Discussion lanjutan dengan dua narasumber lainnya. Masih dengan tema yang sama yaitu Perlunya Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pemberdayaan Perempuan.

Meski dua narasumber sebelumnya memaparkan materi yang sangat menarik, namun dua narasumber berikut ini seolah memaparkan hal yang bersentuhan erat dengan kehidupan saya, baik sebagai profesional maupun sebagai relawan. Kegiatan saya yang banyak menyentuh kehidupan marjinal memiliki segudang tanya bagaimana teknologi bisa masuk dan menyentuh bagian terdasar kehidupan perempuan bagai gayung bersambut dalam diskusi hari ini.

Ibu Julie Rostina
Ibu Julie Rostina

Ibu Julie Rostina, SKM, MKM, dari Forum Peduli Anak Indonesia sebagai narasumber yang ketiga memaparkan materi yang berjudul: Kebutuhan Konten Informasi Bagi Perempuan. Yang menarik adalah, paparan tersebut merupakan bagian dari studi beliau terhadap ibu rumah tangga dan ibu rumah tangga yang memilki usaha di tiga daerah di Indonesia yaitu di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Dengan latar belakang kajian bahwa manusia –dalam hal ini perempuan– memiliki peran ganda dan tingkat kebutuhan yang berbeda, namun masih saja ada dikotomi peran antara laki-laki dan perempuan, maka diperlukan informasi sebagai alat bantu yang efektif, untuk memberikan akses dan peluang bagi perempuan meningkatkan kualitas dirinya.

Dari kajian tersebut terdapat temuan yang sangat menarik, bahwa ternyata sebagian besar perempuan tersebut mengetahui namun tidak mengerti apa yang dimaksud dengan teknologi informasi. Padahal kebutuhan perempuan terhadap informasi terkait dengan kondisi alamiah sebagai perempuan itu sangat tinggi, baik yang terkait dengan kesehatan reproduksi, problema rumah tangga, pengasuhan anak bahkan informasi untuk menunjang hobi mereka.

Mengembangkan Usaha Menjadi Bagian dari Pemberdayaan Perempuan
Mengembangkan Usaha Menjadi Bagian dari Pemberdayaan Perempuan

Sesuai dengan kondisi demografis yang khas di setiap wilayah, meski ada beberapa kebutuhan dasar yang sama di tiga daerah kajian terkait dengan informasi bagi perempuan, namun tiap daerah memiliki prioritas kebutuhan yang berbeda. Misal untuk daerah di Jawa Tengah, khususnya di Kendal. Pioritas kebutuhan mereka adalah yang terkait dengan pendidikan, kesehatan, pelayanan publik yang murah dan berkualitas.

Mereka juga membutuhkan informasi bagaimana meningkatkan taraf hidup ekonomi mereka lewat usaha Batik yang mereka geluti, baik aspek pemasaran, keselamatan kerja, serta desain dan packaging. Sedangkan di Bandung informasi tentang kesehatan sudah banyak dan mudah diakses, namun mereka tetap memerlukan informasi yang tepat dari sumber yang bisa dipercaya dan bukan semata informasi dari sumber yang memanfaatkan mereka sebagai sasaran iklan.

Mereka yang belum tersentuh teknologi perlu pendampingan untuk meningkatkan perekonomian - Tenun Baduy
Mereka yang belum tersentuh teknologi perlu pendampingan untuk meningkatkan perekonomian – Tenun Baduy

Namun begitu bisa diambil kesimpulan bahwa kebutuhan informasi perempuan di tiga wilayah relatif sama yaitu kebutuhan dasar informasi terhadap bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Namun kondisi geografis, sosial, ekonomi berpengaruh secara tidak langsung pada tingkat paparan dan akses teknologi informasi. Terlihat bahwa pengetahuan dan penguasaan perempuan terhadap teknologi informasi masih rendah namun semangat mereka untuk belajar tinggi.

Kebutuhan ini memberikan kesadaran bagi kita yang terlibat dalam forum diskusi ini –dan bagi saya sebagi pribadi– bahwa tugas kita yang memilik akses, peluang dan pengetahuan yang lebih banyak dari mereka untuk menyebarkan pengetahuan berkaitan teknologi informasi kepada mereka. Tak cukup hanya lewat penyuluhan. Pemberdayaan perempuan lewat teknologi informasi bukan sekedar transfer pengetahuan saja namun berupa kegiatan dalam bentuk nyata berdampak terhadap peningkatan kualitas hidup dan pendapatan mereka. Pendampingan juga harus dilakukan hingga mereka bisa mandiri untuk melakukannya sendiri.

******

Ibu Martha Simanjuntak
Ibu Martha Simanjuntak

Narasumber yang terakhir dalam forum ini adalah Ibu Martha Simanjuntak. Seorang perempuan energik dan sangat concern terhadap pemberdayaan perempuan dan teknologi informasi. Semangatnya yang tinggi berkaitan dengan dua hal di atas tersebutlah akhirnya menggerakkan beliau menjadi founder Indonesian Woman Information Technology Awareness – IWITA, yaitu organisasi perempuan Indonesia yang tanggap terhadap teknologi informasi.

Paparan beliau yang singkat namun penuh semangat identik sekali dengan tujuan beliau untuk membangkitkan awareness perempuan Indonesia terhadap teknologi Informasi. Dengan tanggap teknologi banyak sekali hal yang bisa dilakukan oleh perempuan-perempuan Indonesia. Jelas membutuhkan modal beragam ketrampilan yang mendefinisikan dan memajukan karir, yang bisa membantu perempuan untuk tanggap terhadap perubahan dan optimis terhadap masa depan.

Fakta menarik tentang wanita karir Indonesia mengatalan bahwa terdapat 42% wanita Indonesia yang lebih memilih untuk bekerja di luar rumah, 50% wanita Indonesia mengatakan bahwa pengalaman lebih penting daripada pendidikan. Dan ternyata pula bahwa wanita karir Indonesia lebih berani mengajukan promosi dibanding wanita-wanita Singapura dan Malaysia. Semua ini tak lepas dari peran teknologi informasi dan komunikasi.

Pedagang di Pasar Terapung Lok Baintan Kalimantan Selatan nun jauh dari ibukota juga membutuhkan teknologi informasi sebagai bagian dari primadona wisata Indonesia
Pedagang di Pasar Terapung Lok Baintan Kalimantan Selatan nun jauh dari ibukota juga membutuhkan teknologi informasi sebagai bagian dari primadona wisata Indonesia

Tantangan yang dihadapi perempuan-perempuan ini cukup besar. Era globalisasi dengan diberlakukannya Asean Community 2015, perkembangan perusahaan, persaingan individu dan perkembangan teknologi adalah beberapa tantangan yang harus mereka hadapi. Perempuan-perempuan ini harus berani menghadapi rasa takut. Menurut penelitian, rasa takut itu mampu menguras kemampuan hingga 50%, namun bila rasa takut itu mampu ditaklukan, maka kemampuan kita justru akan meningkat hingga 150%. Luar biasa bukan?

So…, face your fear and put the internet to work for you.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Menanam Bibit Kemandirian Masyarakat di Lingkar Tambang

Tanah ini sungguh diberkati. Lihatlah sekeliling; tanah nan subur, lautan luas, pantai indah, semua jenis ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge