Wednesday, December 11, 2019
Home » Review and Event » Perlukah Perempuan Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi? #Bag.1

Perlukah Perempuan Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi? #Bag.1

Apakah Perempuan Perlu Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi? Apabila saya ajukan pertanyaan ini di jejaring sosial media, saya memiliki keyakinan bahwa sebagian besar tidak akan berpikir dua kali untuk menjawab bahwa perempuan perlu melek teknologi informasi dan komunikasi. Tapi apakah sama jawabnya bila pertanyaan tersebut saya ajukan pada perempuan-perempuan di penjuru lain di Indonesia atau bahkan perempuan-perempuan di belahan dunia yang lain. Saya mungkin akan mendapat jawaban yang berbeda.

 

Suasana Forum Group Discussion di KPPPA
Suasana Forum Group Discussion di KPPPA

Membicarakan soal perempuan adalah pembicaraan yang seolah tiada habisnya sejak dahulu. Menyebut kata perempuan saja, saya sudah membayangkan sebuah dinamika yang luar biasa cepatnya. Namun dua hari berkumpul bersama banyak perempuan hebat dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) di yang diselenggarakan oleh Deputi Bidang PUG Bidang Ekonomi, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), saya masih saja terus mendapat banyak sekali perspektif baru mengenai perempuan.

Tema yang diusung selama dua hari pun sangat menggelitik saya, Pemberdayaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Perempuan. Perempuan yang mana? Tentu saja perempuan dewasa yang sudah dan masih berdaya dan diberdayakan, mereka ada dalam kelompok dewasa awal yaitu usia 20-45 tahun dan dewasa menengah yaitu usia 45-60 tahun. Teknologi informasi seperti apa yang mereka butuhkan untuk berdaya? Komunikasi yang seperti apa? Saya mencoba menuangkan buah pikir bersama selama dua hari ini dalam tulisan berikut.

Bapak Adiatmo Rahardi - Techno Scientist
Bapak Adiatmo Rahardi – Techno Scientist

Ada empat pembicara yang menjadi narasumber selama dua hari tersebut. Mereka adalah praktisi yang memiliki keahlian di bidangnya dan membawakan materi sesuai dengan keahlian masing-masing. Meski begitu, materi yang mereka bawakan tetap memiliki benang merah dengan tema diskusi kami seputar pemberdayaan perempuan dengan tiga kata kunci yaitu, teknologi, informasi dan komunikasi.

Simaklah Adiatmo Rahardi, seorang Techno Scientist, pendiri salah satu komunitas robot terbesar di Indonesia. Beliau memaparkan bagaimana teknologi –dalam hal ini internet– memungkinkan benda-benda saling terhubung satu sama lain dan memberikan informasi yang berguna untuk melakukan berbagai aktifitas dan sangat memudahkan perempuan untuk melakukannya dalam waktu yang bersamaan.

Pak Adi memberi contoh bagaimana sistem dalam sebuah mesin cuci bisa beroperasi tanpa harus kita sebagai pengguna berada di dekatnya. Kita bisa mencuci sambil belanja di supermarket atau sambil menjemput anak sekolah. Bila mesin tersebut selesai dalam satu aktifitas, maka ia akan mengirimkan notifikasi ke gawai atau peranti elektronik bahwa mesin telah selesai mencuci sekaligus menanyakan langkah lanjutan apa yang diinginkan kita sebagai pengguna.

Contoh lain yang lebih keren adalah lemari pendingin yang bisa membantu kita mengatur persediaan makanan sekaligus mengingatkan pola makan yang sehat buat pemiliknya. Bila persediaan makanan habis, maka sistem pintar akan memberikan pemberitahuan, bahkan sistem bisa mendeteksi dan memberitahukan apabila ada makanan tertentu yang terlalu banyak kita konsumsi berdasarkan banyaknya persediaan makanan yang kita simpan di dalamnya. Keren ya.

Oh ya, satu contoh lagi. Sistem pintar yang kita pakai di rumah juga bisa membantu kita mengawasi anggota keluarga yang ada di rumah lho. Sistem memberi tahu bila ada anggota keluarga yang pergi atau pulang, sekaligus memberi informasi kegiatan apa yang sedang dilakukan masing-masing anggota keluarga di dalam rumah. Nah, sangat membantu bukan bagi perempuan yang banyak kegiatan di luar rumah namun tetap ingin terhubung dengan anggota keluarga di rumah.

Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Peran Sosial Media dalam Pemberdayaan Perempuan
Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Peran Sosial Media dalam Pemberdayaan Perempuan

Sempat timbul keraguan pada diri saya mengenai hal ini. Untuk perempuan di kota yang sempat mengenyam pendidikan dan akrab dengan teknologi, hal ini tentu sangat memudahkan. Tapi bagaimana dengan perempuan-perempuan lain di pelosok negeri yang memiliki akses teknologi yang sangat terbatas. Beberapa tempat di Indonesia yang sempat saya singgahi seperti di pulau-pulau kecil dan wilayah perbatasan, atau perempuan-perempuan di kalangan marjinal masih mengalami kendala tersebut. Itu belum termasuk masalah keterbatasan pengetahuan mengenai teknologi informasi itu sendiri.

Hal tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah buat kita yang peduli dengan pemberdayaan perempuan. Tak perlu menjadi skeptis apalagi putus asa. Pak Adi mengatakan bahwa untuk kondisi yang seperti ini kita bisa mulai dengan yang paling dasar yaitu knowledge, pengetahuan dasar tentang teknologi informasi itu sendiri serta pemahaman akan manfaat teknologi informasi untuk menjadikan perempuan itu berdaya.

Mengingat hal ini, saya jadi semangat sekali untuk kembali ke pulau dan ke banyak daerah di Indonesia untuk berbagi pengetahuan dasar tentang teknologi informasi dan komunikasi. Tak perlu yang rumit, saya membayangkan bagaimana mereka kelak bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk menggali sebanyak mungkin potensi daerahnya, untuk bisa mengolah hasil pertanian atau perikanan mereka, lalu belajar dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai aktifitas ekonomi yang nantinya mampu memberikan nilai tambah dan manfaat berupa penghasilan tambahan.

Ibu Amalia E Maulana, Ethnographer, Brand Consultant
Ibu Amalia E Maulana, Ethnographer, Brand Consultant

Narasumber lainnya seorang perempuan cantik, cerdas, ramah dan sangat humble. Seorang Brand Consultant dan Ethnographer bernama Amalia E Maulana. Beliau membawakan materi seputar personal branding, marketing yang efektif dan efisien, serta kekuatan sosial media marketing dengan bahasa yang mudah sekali dimengerti dan suasana yang sangat bersahabat. Membuat saya kagum dan terpesona.

Satu hal lain penting yang menjadi concern saya terhadap paparan Ibu Amalia adalah saat beliau menerangkan soal Personal Branding. Sosial media adalah media yang sulit dikontrol –uncontrollable media—sehingga kita perlu punya kekuatan di sosial media. Orang yang tidak dikenal, pesannya tidak didengar. Siapa diri kita di mata orang lain bisa diketahui dari apa yang mereka bicarakan tentang kita saat kita tidak bersama mereka dan apa yang paling mudah mereka ingat tentang kita itulah brand kita sebenarnya. Ah, saya jadi tertarik untuk tahu, jika harus menjelaskan dalam satu kalimat saja, kira-kira apa yang akan orang lain katakan tentang saya ya? Hmmm…. menarik.

Salah satu hal yang paling saya ingat dan sangat memberikan pencerahan adalah saat beliau menjabarkan beberapa kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam sosial marketing. Hal itu beliau jabarkan dalam lima point di bawah ini.
1. Learning by Doing
Do it right from the very beginning. Lakukan hal yang benar sejak awal. Hindari melakukan hal-hal yang menjauhkan kita dari tujuan.
2. Trial and Error
Lakukan yang efektif dan efisien, hal yang tepat dan tidak memboroskan energi, baik waktu, uang maupun tenaga. Beralih dari product oriented ke customer oriented, bukan semata menawarkan produk yang dibutuhkan namun kebutuhan yang seperti apa yang diinginkan konsumen.
3. Competitor Benchmarking
Jangan meniru atau melakukan hal yang sama seperti produk yang sudah ada dari kompetitor, namun cari apa yang diinginkan konsumen yang belum ada pada produk kompetitor yang belum memuaskan konsumen.
4. Advertising Focus
Iklan memang perlu, namun branding bukan semata-mata dari iklan. Lakukan studi atau research dengan kreatif tentang produk dan orientasi konsumen dan perilakunya.
5. Tidak memperhatikan reputasi.
Hati-hati soal reputasi. Di era digital semua complain akan tercatat dan menjadi rekam jejak. Jaga reputasi jangan sampai hilang kepercayaan dari konsumen. Reputasi adalah aset terbesar yang harus kita jaga dan pertahankan.

Revolusi digital, perlu adanya pemahaman terhadap konsumen termasuk di dalamnya pemahaman terhadap perilaku konsumen dan media apa yang dikonsumsi oleh konsumen. Dari pemahaman itulah kita akan bisa menggali lebih banyak kesempatan bisnis. Ingat prinsip Low Hanging Fruit, cari lapisan konsumen dari lapisan yang paling mudah terjangkau terlebih dahulu. Jangan sampai energi dicurahkan untuk lapisan konsumen yang sulit dijangkau, padahal ada yang lebih mudah diraih.

Ada istilah Brand Endorser, Brand Ambassador, dan Brand Guardian yang masing-masing memiliki perbedaan. Brand Endorser biasanya dibayar untuk membantu mempromosikan produk atau branding produk, berbeda dengan Brand Ambassador yang tidak perlu dibayar tapi bersedia menjadi bagian dari branding produk dengan alasan tertentu. Dalam tingkatan yang lebih jauh, Brand Ambassador ini bisa menjadi Brand Guardian yang bukan hanya terlibat dalam branding namun juga loyal dan aktif sebagai garda terdepan bila produk mengalami masalah dengan konsumen.

Pemberdayaan Perempuan harus menyentuh semua lapisan masyarakat di seluruh Indonesia
Pemberdayaan Perempuan harus menyentuh semua lapisan masyarakat di seluruh Indonesia

Perhatikan juga konten marketing, harus kreatif dan berkesinambungan. Manfaatkan keramaian sebagai konten, misal dari trending topic. Ciptakan interaksi antar pengguna sosial media dan konsumen. Mention brand-brand atau pengguna sosial media dengan jumlah follower banyak untuk menciptakan keramaian dari komentar maupun retweet misalnya. Jangan lupa konten harus menarik dengan menambahkan aspek visual.

Jadi brand yang kuat adalah brand yang cemerlang, bukan yang sempurna. Brand yang kuat adalah brand yang relevant, consistent dan distinctive. Begitu Ibu Amalia mengakhiri presentasinya. Menarik ya paparannya.

Sebenarnya masih ada dua narasumber lagi yang insyaallah akan saya tulis pada kesempatan berikutnya. Namun dari dua narasumber ini saya mengambil kesimpulan bahwa, di tataran atau level manapun, teknologi informasi dan komunikasi adalah hal penting dalam menunjang kegiatan perempuan sehari-hari, mampu meningkatkan kualitas hidup perempuan dan menunjang perempuan untuk berkarya dan berdaya, baik di sektor domestik, ekonomi maupun sosial. Yuuuk, melek teknologi informasi dan komunikasi.

Karena Perempuan adalah Ujung Tombak Kemajuan Bangsa
Karena Perempuan adalah Ujung Tombak Kemajuan Bangsa

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Kulit Kering dan Tumit Pecah-pecah? Ternyata Gampang Mengatasinya!

Kulit kering dan tumit pecah-pecah itu bagi saya bukan hanya sekedar mengganggu penampilan namun juga mengganggu ...

2 comments

  1. Avatar

    Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda mengenai ” Perlukah Perempuan Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi? #Bag.1 ” . Saya juga mempunyai E-book mengenai Komunikasi di E-book Komunikasi
    Leo recently posted…no titleMy Profile

  2. Avatar

    Perempuan memang harus melek TIK… krn salah satu manfaatnya adalah mampu melakukan pendampingan bg putra-putrinya saat mereka menggunakan TIK. Khususnya di perkotaan mmg sdh banyak perempuan yg melek TIK, hanya mungkin belum semua memanfaatkan kemampuannya itu secara optimal utk kesejahteraan kelg nya 🙂
    Mechta recently posted…Suatu pagi di sekitar Brug Loji PekalonganMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge