Home » Review and Event » Perjalanan Panjang Sang Konduktor: Mengenal Lebih Dekat Proses Tambang di Batu Hijau

Perjalanan Panjang Sang Konduktor: Mengenal Lebih Dekat Proses Tambang di Batu Hijau

Lubang luas terbuka, truk raksasa hilir mudik di jalan berdebu dengan tumpukan bebatuan di kiri kanan jalan, bukan pemandangan yang asing atau baru sama sekali. Namun setiap perjalanan adalah istimewa. Ia hadirkan sesuatu yang beda dan rasa yang membuncah seperti kala pertama. Begitu juga saat puluhan pasang kaki bersepatu boot menjejak di atas jalan panas berkerikil, tak jauh dari pondok bertuliskan look out di open pit Batu Hijau. Perjalanan Tembaga –Sang Konduktor– pun dimulai di sini.

Untuk Apa Menambang Tembaga
Tembaga adalah salah satu jenis logam konduktor listrik dan panas yang baik sebagaimana perak dan emas. Dengan lambang Cu dari kata Cuprum, tembaga merupakan jenis logam yang pertama kali ditambang di dunia dan telah digunakan lebih dari 10.000 tahun lalu. Dihasilkan pertama kali di Pulau Siprus, tembaga memegang peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia hingga saat ini. Tak heran bila keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan peradaban manusia itu sendiri (wikipedia).

Tembaga bisa digunakan sebagai campuran logam lainnya seperti pada pembuatan perunggu dan komposit atau untuk alat-alat rumah tangga dan perhiasan. Selain itu tembaga juga adalah bahan baku industri lainnya seperti bahan baku tambahan dalam pembuatan bahan pewarna atau bahan pembantu untuk proses pemisahan belerang.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sifat kondutivitas yang dimiliki tembaga membuat logam ini paling banyak digunakan sebagai penghantar listrik dan panas. Saking pentingnya, kita bisa mengambil contoh yang paling sederhana mengenai sifat tembaga yang sangat bermanfaat bagi kita. Coba bayangkan rumitnya hidup kita, saat telepon seluler atau komputer jinjing kita kehabisan daya dan kita tak membawa perangkat pengisi daya yang kawat atau isian kabelnya terbuat dari tembaga sebagai penghantar listrik. Runyam khan!

Namun tahukah kita bahwa untuk bisa memudahkan dan menyelesaikan beberapa masalah hidup kita terkait dengan keberadaan tembaga tersebut, unsur kimia yang berada satu golongan dengan emas dan perak dalam tabel periodik ini harus mengalami perjalanan proses yang panjang dan berbiaya tinggi. Secara teori prosesnya hanya beberapa tahap namun aspek yang harus dihadapinya sangat kompleks, terutama terkait aspek lingkungan dan sumber daya alam.

Kegiatan Tambang Bukan Sekedar Menambang
Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan berbagai jenis logam sebagai bahan tambang haruslah melalui proses penambangan itu sendiri, proses yang seringkali dianggap merusak alam. Bagaimana tidak, dengan menggunakan alat-alat berat, permukaan tanah harus dikupas, bila ada tanaman di atasnya, maka itu berarti tanaman-tanaman itu harus ditebang, kemudian batuan harus diledakkan dan bijih harus digali dan dikeluarkan dari perut bumi.

Serentetan pertanyaan pun timbul; akan diapakan lahan terbuka yang diakibatkan kegiatan tambang, disimpan di mana batuan bijih yang belum diolah, ke mana sisa lumpur batuan tambang atau tailing pasca pengambilan konsentrat ditempatkan, dan apa dampak kegiatan tambang secara sosial dan kemasyarakatan serta seberapa jauh standard operasi diterapkan di setiap lini produksi dan pengelolaan lingkungannya.

Beragam kandungan yang ada dalam batuan bijih mengharuskannya diproses lebih lanjut agar terpisah antara mineral logam yang diinginkan dengan sisa batuannya. Hasil proses inilah yang menjadi konsentrat mineral yang biasanya masih bercampur dengan logam lain seperti tembaga, besi, emas dan perak. Sedangkan untuk mendapatkan logam dalam bentuk murni masih harus melalui tahapan pemurnian lanjutan di smelter.

Meski secara teori hal ini sudah menjadi bagian dari materi kuliah yang saya sampaikan, namun melihat langsung kegiatan tambang, pemrosesan, pengolahan dan pengelolaan lingkungan dalam penerapan langsung di lapangan akan membantu mendapat informasi lebih jauh sekaligus menjawab berbagai pertanyaan bernada skeptis yang beredar di masyarakat terkait dengan kegiatan tambang.

Sustainable Mining
Adalah suatu perjalanan panjang sebuah ekplorasi tambang sebelum PTNNT beroperasi penuh pada Maret 2000. Perusahaan yang dalam Kontrak Karya tahun 1986 adalah perusahan tambang tembaga dan emas ini perlu waktu enam tahun untuk melakukan pengkajian teknis dan lingkungan sejak ditemukannya adanya kandungan tembaga dan sebagian kecil emas dan perak di Batu Hijau pada tahun 1990.

Pemerintah Indonesia mengesahkan dokumen ANDAL untuk PTNNT pada tahun 1996, barulah kemudian pada tahun 1997 pembangunan Proyek Batu Hijau resmi dimulai. Dengan kepemilikan saham 44 % milik Indonesia, PTNNT hanya memperkerjakan 1 % pekerja asing dari total jumlah karyawannya sebesar 3600 orang. 99 % sisanya adalah tenaga kerja Indonesia yang berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sebesar 34 %, tenaga kerja dari Nusa Tenggara Barat di luar KSB sebesar 30 % dan tenaga kerja di luar NTB sebesar 35 %.

Pada prinsipnya, proses penambangan dan pengolahan bijih tambang yang dilakukan oleh PTNNT adalah untuk meningkatkan material logam dengan meningkatkan konsentrasi tembaga dari 0,4 % Cu menjadi 25 % Cu dan menjual konsentratnya. Jadi PTNNT tidak menghasilkan atau menjual logam murni apalagi emas batangan dan uranium seperti yang diisukan di luar.

Beruntung saya mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung kegiatan tambang dan proses pengolahannya menjadi konsentrat tembaga, emas dan perak di Batu Hijau milik PT Newmont Nusa Tenggara. Program Sustainable Mining Bootcamp yang diselenggarakan selama 9 hari oleh PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) memungkinkan saya dan 25 peserta lainnya melihat segala hal yang terkait dengan kegiatan tambang dari hulu ke hilir. Dari pengambilan bijih tambang di open pit, pemrosesan, pengolahan limbah, pengelolaan lingkungan hingga tanggung jawab sosial perusahaan.

Proses Penambangan
Kini di hadapan saya terbentang sebuah lubang besar terbuka atau sering disebut dengan open pit berdiameter 2,8 km dan kedalaman –435 mdpl. Dari jarak ratusan meter di tempat saya berdiri di Look Out Pondok, alat-alat berat seperti haul truck, shovel, excavator yang bekerja di dalam area open pit tersebut terlihat bagai mainan mobil-mobilan yang kecil sekali di bagian bawah sana.

Bandingkan penampakannya dari jarak dekat. Haul truck yang parkir tak jauh dari tempat kami berdiri di look out justru terlihat bagai truk raksasa. Truk angkut batuan tambang berkapasitas 240 ton ini sesungguhnya memiliki dimensi tinggi 6 meter dan lebar 9 meter. Bandingkan dengan tinggi tubuh manusia rata-rata yang kurang dari dua meter. Apalagi dibandingkan dengan tubuh saya yang hanya 169 cm, dengan tinggi bannya saja saya masih kalah tinggi.

Saya termasuk yang suka terkagum-kagum dengan keberadaan open pit. Perasaan yang saya alami saat memandangi open pit di Gresberg Mine, Papua terulang saat memandang open pit di Batu Hijau. Saya membayangkan bahwa untuk mendapatkan mineral yang tidur bersama-sama dengan mineral lainnya dalam perut bumi, manusia harus berhadapan dengan alam, cuaca, teknologi dan manusianya.

Wilayah yang terisolir tanpa infrastruktur memadai, hutan lebat berbukit dan berbatu adalah tantangan pembukaan areal tambang. Dari pembersihan lahan, pengupasan tanah pucuk atau lapisan permukaan, pengeboran dan peledakan hingga pengangkutan. Begitu seterusnya fase demi fase hingga terbentuk open pit yang sedemikian rupa luas dan dalam. Sungguh bukan proses yang mudah dan murah. PTNNT bahkan harus membangun selama 14 tahun sebelum beroperasi penuh dan mengeluarkan investasi sebesar $1,5M untuk mendapatkan 95 % nilai jual tembaga di pasaran.

Dibutuhkan alat-alat berat untuk proses penambangan ini seperti drill untuk pengeboran, shovel, loader, dan excavator untuk mengeruk dan memuat bijih tambang ke haul truck yang kemudian akan mengangkut batuan tersebut ke mesin penghancur atau crusher. Untuk semua keperluan ini PTNNT memiliki 10 unit drill, 7 unit Shovel, 2 unit loader, 3 unit excavator dan 111 unit haul truck yang mondar mandir. oh ya, sekedar intermezzo, di antara 111 haul truck yang beroperasi, 11 unitnya di kendarai oleh pengemudi perempuan lho.

Tidak semua batuan yang ditambang akan diproses menjadi konsentrat. Analisis terhadap bijih tambang dilakukan untuk menentukan kadar tembaga yang dikandung. Hanya batuan tambang atau bijih yang kadarnya tinggi yang akan langsung diproses menjadi konsentrat. Batuan tambang yang berkadar rendah akan disimpan dalam stockpile dan akan diproses nanti saat dibutuhkan, sedangkan batuan tambang yang tidak bernilai ekonomis akan ditimbun di area waste dump.

Proses Pengolahan
Proses dari bijih menjadi konsentrat dilakukan di Pabrik Konsentrator. Bijih dibawa dari crusher menggunakan ban berjalan atau belt conveyor yang lebarnya 1,8 m sejauh 6 km. Tujuan proses pengolahan batuan tambang atau bijih adalah memisahkan mineral berharga dari pengotornya dan mengambilnya dalam bentuk konsentrat. Proses pemisahan mineral berharga tersebut menghasilkan lumpur sisa pengolahan yang sudah tidak mengandung mineral berharga yang disebut dengan tailing.

Di pabrik ini ada dua proses utama yaitu proses penggilingan atau grinding dan proses pengapungan atau flotasi. Dari sekitar 300.000 s.d 400.000 ton batuan yang ditambang per harinya, pabrik ini hanya mampu memproses sesuai kapasitas pabrik yaitu 120.000 ton per hari, dan menghasilkan sekitar 2000 s.d 4000 ton konsentrat. Dalam setiap ton konsentrat yang dihasilkan mengandung rata-rata 250 kg tembaga dan 10 gr emas, atau dengan kata lain dalam satu ton bijih yang diolah, dihasilkan 4,87 kg tembaga dan 0,37 gr emas.

Batuan tambang yang dibawa oleh haul truck akan dimasukkan ke crusher untuk dikecilkan ukurannya dari sekitar 25 cm menjadi sekitar 15 cm. Bijih atau ore ini masuk ke pabrik konsentrator melalui dua unit pengumpan atau feed conveyor yang akan membawa bijih ke grinding mill yang berisi bola-bola besi untuk dihancurkan dengan bantuan air laut. Tujuan proses ini adalah untuk mengecilkan ukuran bijih sekaligus untuk proses liberasi atau membebaskan mineral berharga dari pengotornya.

Ada dua tahapan penghancuran di sini, yang pertama penghancuran berdasarkan tumbukan antara bola besi dan batuan serta tumbukan antara batuan itu sendiri di 2 unit Semi Autogenous (SAG) mill. Penghancuran dilanjutkan di empat unit ball mill dengan proses penggerusan oleh bola-bola besi terhadap bijih yang telah dihancurkan di SAG Mill.

Jadi setiap satu SAG Mill akan memberi umpan ke 2 unit ball mill untuk digerus, baru kemudian bijih yang telah hancur dan bercampur dengan air laut berupa slurry dipompa ke seperangkat siklon untuk pemisahan akhir partikel bijih. Lumpur halus dari siklon tersebut kemudian dialirkan ke sejumlah sel flotasi atau pengapungan untuk diambil mineral berharganya.

Slurry dari grinding mills kemudian dialirkan menggunakan 5 unit pompa ke sel-sel flotasi yang berupa kolom-kolom. Setiap pompa akan mendistribusikan ke 10 buah kolom flotasi sehingga di pabrik konsentrator ini ada total 50 buah kolom flotasi. Di proses flotasi, mineral berharga akan dipisahkan atau diseparasi dari pengotornya menggunakan proses fisika dengan penambahan sejumlah kecil reagen kimia yang tidak berbahaya dengan bantuan gelembung udara.

Reagen ditambahkan untuk memodifikasi sifat permukaan partikel di dalam slurry sehingga konsentrat mineral akan menempel di gelembung-gelembung udara dan proses flotasi dapat berlangsung. Tidak ada perbedaan sifat kimia pada partikel bijih yang telah dipisahkan menjadi konsentrat dan tailing. Partikel konsentrat yang lebih ringan akan menyelimuti gelembung-gelembung udara dan mengapung dibagian atas kolom, sedangkan partikel tailing yang lebih berat akan turun ke bagian bawah dan di-blowdown.

Konsentrat mineral yang mengapung di atas akan mengalir melalui saluran limpah dan dialirkan ke pabrik CCD dengan tujuan untuk pembersihan atau cleaner. Kandungan garam dalam air laut dalam proses grinding harus dihilangkan dengan air tawar. Ada 3 unit pembersihan di CCD yang letaknya di area bagian bawah, tak jauh dari pabrik konsentrator. Dalam proses ini, air laut dibuang dan konsentrat dikentalkan dengan cara mengalirkan air tawar secara berlawanan arah hingga konsentratnya mengendap di dasar tangki.

Proses terakhir dari perjalanan konsentrat ini adalah penghilangan kadar air. Dari CCD Thickener, konsentrat di deaerasi untuk menghilangkan kandungan udara yang masih terbawa dari proses flotasi lalu dialirkan dengan menggunakan pipa sepanjang 17 km untuk sampai ke bagian pengeringan.

Alat yang digunakan untuk menghilangkan kadar air adalah vertical filter press. Prinsip kerjanya sederhana, seperti kita memeras air dari padatan. Bedanya, alatnya pemerasnya terbuat dari besi baja, penyaringnya berupa membran dari kain dan tenaga yang digunakan untuk memeras adalah udara atau pneumatic.

Filter press akan mengurangi kadar air konsentrat dari sekitar 30 % menjadi hanya sekitar 9 % saja. Angka ini memang merupakan standar yang ditetapkan secara internasional, karena bila kadar airnya tinggi akan beresiko konsentrat tidak stabil di palka saat pengiriman dan pengapalan. Namun apabila terlalu kering di bawah 9 % dikhawatirkan akan berdampak pada lingkungan terkait debu dan polusi udara.

Konsentrat mineral yang masih berbentuk konsentrat slurry dari CCD ditempatkan di dua tangki yang berbeda, masing-masing tangki akan mengalirkan konsentrat slurry secara periodik ke filter press untuk di-press. Air perasan tersebut akan turun ke bagian bawah dan padatan konsentratnya akan tertinggal dan menempel di kain penyaring. Di bagian bawah filter press terdapat ruang penampung yang membuka dan menutup secara otomatis untuk menampung konsentrat yang dijatuhkan dari kain penyaring. Konsentrat kering kemudian ditempatkan di gudang atau langsung dikapalkan untuk dikirim. Selesai deh!

Ah, cukup panjang khan perjalanan sang konduktor hingga menjadi konsentrat. Untuk mendapatkan tembaga atau emas murni memang masih harus dilanjutkan dengan proses smelting atau pemurnian. Keputusan kontroversi terkait dengan keharusan untuk memiliki smelter dan larangan menjual mineral logam dalam bentuk konsentrat pernah mengakibatkan penumpukan konsentrat di gudang PTNNT.

Untuk mengatasi hal ini, terpaksa PTNNT melakukan penghentian sementara produksi konsentratnya selama 3 bulan. Keputusan ini memang kemudian dicabut oleh pemerintah, namun terlanjur menimbulkan isu negatif di luaran sana yang menuduh bahwa penghentian produksi di PTNNT karena ada kegiatan tambang yang tidak benar di Batu Hijau. Padahal tentu saja tidak seperti itu kenyataannya.

Penempatan Tailing
Isu yang tak kalah serunya adalah mengenai tailing. Tailing adalah sisa proses pengolahan bijih yang sudah tidak mengandung mineral berharga dan tidak berbahaya. Bentuknya berupa slurry –campuran antara cairan dan padatan– serupa lumpur. Jumlahnya yang bisa mencapai 97 % dari batuan tambang yang diproses perlu ditempatkan dengan cara yang paling aman.

Melalui serangkaian kajian baik secara teknis dan lingkungan, dan tentu saja telah mendapatkan ijin dari Pemerintah Indonesia dan diawasi langsung oleh kementrian Lingkungan Hidup, PTNNT menempatkan tailing dengan Sistem Penempatan Tailing Laut Dalam atau Deep Sea Tailing Placement (DSPT) di palung laut Teluk Senunu dengan kedalaman sekitar 3000 s.d. 4000 meter.

Tailing dialirkan dari area proses dengan menggunakan pipa darat dari baja dengan lapisan HDPE di dalamnya sepanjang 6,2 km menuju outlet pipa di hulu Teluk Senunu. Dari hulu tersebut tailing dialirkan menggunakan pipa bawah laut yang terbuat dari HDPE –High Density Poly Etilen—sejauh 3,2 km dari garis pantai hingga tepi palung laut di Teluk Senunu di kedalaman 125 meter dibawah permukaan laut.

Karena kepadatan dan berat jenisnya, tailing akan mengalir secara alami mengikuti gaya gravitasi menuruni ngarai laut yang terjal hingga mencapai palung laut di sebelah selatan Pulau Sumbawa dan kemudian mengendap didasarnya.

Pengawasan dilakukan secara berkala oleh PTNNT dan diverifikasi setiap tahun oleh Lembaga Pemerintah dan Tim Independen, baik yang berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat, Kantor Lingkungan Provinsi dan Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan. Hasil pemantauan selama ini menunjukkan bahwa sistem Penempatan Tailing di Dasar Laut Dalam berfungsi sesuai dengan desain dan hasil pemantauannya dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan terkait.

So… rasanya sudah cukup panjang cerita tentang perjalanan konsentrat dari open pit hingga pengapalan. Cerita tentang bagaimana pengelolaan lingkungan terkait dengan kegiatan tambang di Batu Hijau, tunggu tulisan berikutnya yaaa…

Sampai jumpa

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Kulit Kering dan Tumit Pecah-pecah? Ternyata Gampang Mengatasinya!

Kulit kering dan tumit pecah-pecah itu bagi saya bukan hanya sekedar mengganggu penampilan namun juga mengganggu ...

26 comments

  1. Avatar

    Kak … Kamu ngak mau mengenal cumilebay lebih dekat ????
    cumilebay recently posted…Nongkrong di Dapur bareng Komodo DragonMy Profile

  2. Avatar

    Lengkap tulisannya. Siswa yg mengamalkan padti lulus satu SKS
    Evi recently posted…Menumbuhkan Sayap Masyarakat Lingkar TambangMy Profile

  3. Avatar

    Mbak Donna kerja di perusahaan tabang itu kah? Wow saya takjub dengan kendaraan dan peralatan beratnya 😀

  4. Avatar

    Sangat lengkap sekali ulasannya,,, Weladalah Haul trucknya gede banget. Bannya aja ama orangnya tinggian bannya, hehehe. Aku mau ikut keliling mbak, jangan di tinggal 🙂

  5. Avatar

    Yang saya ingat kalau dengar newmont adalah isu tentang mercury mba. Kayaknya jaman saya masih sD itu.
    Inayah recently posted…Asus Zenfone Go 5.0 ZC500TG smartphone mumpuni untuk ABG KekinianMy Profile

  6. Avatar

    pelajaran 3 sks langsung tersaji dengan jelas dari Bu Dosen Donna.. 😀
    Infornya mencerahkan sekali..
    Iqbal Kautsar recently posted…Merah Putih Multinasional Newmont Nusa TenggaraMy Profile

  7. Avatar
    intan rosmadewi

    Para mahasiswa khan senang menerima pelajaran Bu Dosen. Salam Ceriaaaaa

  8. Avatar

    Bagus Bu Donna tulisannya 🙂 sangat lengkap!

  9. Avatar

    Kegiatan menambang yang ternyata tidak hanya menambang semacam ini perlu diketahui oleh kita semua ya, Mbak, agar dalam memberikan penilaian terhadap kegiatan menambang menjadi seimbang.

  10. Avatar

    Ibu, ini tulisannya rangkuman 2 matkul 3 sks digabung, ditambahin satu praktikum 😀

  11. Avatar

    Kayak yang serem gitu ngeliat open pit nya.
    Tulisannya lengkap banget.

  12. Avatar

    Wah mba Donna udah Masternih, lengkap banget ulasannya

    Salam hangat
    Endang recently posted…Mengenal Ki Hadjar Dewantara, Biografi dan Sejarah LengkapnyaMy Profile

  13. Avatar

    Baca tulisan ini, tetiba jadi kangen sama Batu Hijau Site. Saia pernah jadi kuli di sana 8 tahun silam.
    Benete, Maluk, Sekongkang…apa rungan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge