Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Perjalanan dan Kesiapan Menghadapi Resiko Perjalanan

Perjalanan dan Kesiapan Menghadapi Resiko Perjalanan

Menyusun budget dan itinerary perjalanan bagi saya adalah hal yang wajib dilakukan sebelum perjalanan itu dimulai. Terlebih bila perjalanan panjang dan jauh untuk meminimalkan kemungkinan berbagai resiko yang harus di hadapi. Namun ternyata, kesiapan untuk menghadapi resiko perjalanan bukan hanya soal uang dan waktu namun lebih kepada mental dan sikap kita saat resiko itu harus dihadapi.

Saya bukan petualang sejati dan sebenarnya seorang penikmat zona nyaman. Tapi adaptable adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki setiap pejalan. Saya bisa asik-asik saja dengan perjalanan yang apa adanya, tapi nggak keberatan mengeluarkan uang lebih untuk membayar sebuah kenyamanan. Boleh saja sih traveling hemat dan gak harus senyaman di rumah, tapi nggak pake sengsara-sengsara amat juga sih.

Kalau menggunakan teori optimasi, ini masalah pintar-pintarnya seorang pejalan mencari celah bagaimana bisa menekan budget serendah-rendahnya untuk mendapatkan kenyamanan yang maksimal. Kata kuncinya sih “Harapkan yang terbaik dalam perjalananmu, namun bersiaplah untuk kemungkinan terburuk sekalipun.” Karena dalam setiap perjalanan, ada saja hal yang tidak kita harapkan terjadi atau situasi tak seindah yang kita harapkan.

1. Ketinggalan Pesawat
Terbayang khan, sakitnya tuh di sini! Sudahlah harus mengeluarkan uang ekstra untuk memberli tiket pengganti, jadwal atau itinerary perjalanan juga pasti ikut terganggu. Padahal bisa jadi tiket pesawat yang dibeli tersebut tak murah harganya. Apalagi tiket tersebut merupakan hasil hunting tiket murah atau tiket promo yang sudah dibeli jauh-jauh hari sebelumnya.

Saya tahu sekali rasanya gelisah luar biasa karena nyaris ketinggalan pesawat gara-gara terkena macet di jalan tol menuju bandara, apalagi yang benar-benar mengalami. Itulah mengapa saya selalu memilih untuk lebih awal berangkat menuju bandara meski akhirnya berlama-lama menunggu di sana dibanding menghadapi resiko ketinggalan pesawat. Dari rumah saya di Cimanggis Depok, saya selalu menyiapkan waktu setidaknya 4 jam sebelum jadwal terbang.

2. Terpaksa menginap di bandara
Saya menggunakan kata-kata terpaksa, karena memang menginap di bandara itu tak nyaman. Sebenarnya sudah berjanji pada diri saya sendiri bahwa menginap di bandara –waktu itu di LCCT—adalah pengalaman pertama dan terakhir. Tidur di atas lantai, terpapar udara dingin dari lantai maupun dari pendingin udara, sungguh menyiksa dan akhirnya berpengaruh pada kualitas perjalanan esok harinya.

Tetapi saya akhirnya harus mengalami lagi di sebuah bandara kecil di Cochin, India bagian selatan. Rencana akan menginap di rumah seorang kenalan wanita mendadak batal karena suatu hal. Saya tidak berani naik taksi keluar bandara di negara yang belum pernah saya datangi tersebut saat tengah malam, sendirian pula. Namun di bandara tersebut tak ada satu pun orang yang tidur-tiduran di bandara tersebut, apalagi sampai benar-benar tidur dan bermalam.

Akhirnya pengalaman di LCCT berulang, kali ini lebih parah. Di LCCT, kalau kedinginan, saya bisa keluar ruangan dan menikmati secangkir minuman panas di restoran yang buka 24 jam. Tapi di bandara Cochin saya tak bisa keluar gedung karena penumpang yang sudah keluar tak diperbolehkan masuk lagi. Akhirnya saya tidur dalam keadaan menahan dingin walaupun sudah menggunakan jaket. Cuma bisa sambil duduk di kursi panjang dari besi dengan sekat-sekat sandaran tangan di atasnya. Tersiksa euy.

3. Cuaca dan Alam
Nah yang ini baru terjadi bulan September lalu saat saya dan teman perjalanan saya Evi Indrawanto akan pulang kembali ke Jakarta dari Labuan Bajo. Aktivitas Gunung Raung yang mengeluarkan debu vulkanis mengakibatkan dibatalkannya sejumlah penerbangan karena membahayakan penerbangan. Jalur penerbangan kami menuju Jakarta, dibatalkan karena Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai tempat kami transit di Denpasar ditutup.

Resiko yang harus kita terima ketika kita dihadapkan pada faktor alam dan cuaca adalah ketidakpastian. Dan ini benar-benar menguras tenaga, pikiran dan uang. Jangankan dimintai pertanggungjawaban mengenai akomodasi selama menunggu jadwal terbang berikutnya, untuk mendapatkan seat pengganti dan jadwal terbang baru saja, maskapai penerbangan berlogo macan yang saya gunakan tidak bisa memberi kepastian, bahkan untuk alasan kemanusiaan.

Maka selama tiga hari kami harus mengeluarkan ekstra biaya untuk akomodasi, makan, dan transportasi bolak-balik ke Bandara Komodo di Labuan Bajo sekedar untuk mendapatkan nomor kursi penerbangan. Tiga hari menahan kesal karena maskapai seolah tak mau tahu, menahan resah karena tak ada kepastian dan tentu juga menahan rindu pada keluarga. Akhirnya kami bisa terbang setelah sudah hopeless menunggu dan tak mendapatkan hasil lalu memaksa bertemu manajemen maskapai di bandara.

Berurusan dengan alam juga pernah saya hadapai saat di Perbatasana Indonesia – Malaysia di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Saat berangkat perjalanan mulus-mulus saja melalui jalan yang sedang dibangun dan masih berupa jalan tanah. Namun saat pulang, kami didera hujan deras dan mengakibatkan jalanan sangat licin, berkali kendaraan kami tergelincir, sementara di kiri kanan jalan adalah jurang.

Tak cukup hanya itu, curah hujan yang deras mengakibatkan air sungai meluap dan melintas ke jalan mengakibatkan banjir. Padahal jalan itu adalah jalan tanah yang berlumpur dan sungai tersebut harus kami lewati di antara dua tanjakan. Bayangkan wajah saya yang pucat sambil merapal doa saat tim memutuskan untuk nekad menuruni tanjakan, menerjang air sungai yang meluap lalu menaiki tanjakan.

Di jalan yang rata saja, sopir kami sudah mengalami kesulitan mengatasi licinnya jalan berlumpur, apalagi harus sambil menaiki tanjakan yang curam dan tinggi. Kemungkinan terburuk bahwa mobil bisa saja tergelincir dan terperosok ke bawah melintas di kepala saya. Tapi kalau kami tidak nekad lalui, kami akan menghadi resiko lain yaitu terpaksa bermalam di situ, di tempat yang berkilometer jauhnya dari pemukiman penduduk, di antara hutan dan jurang. Alhamdulillah, kami selamat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

4. Akomodasi
Mendapatkn akomodasi atau hotel di kota besar itu tak sulit. Tinggal sesuaikan dengan anggaran dan lokasi. Kalau traveling sendirian dan bisa memilih sendiri, pasti saya lebih memilih hotel dengan bangunan baru di tengah kota. Tapi kalau ke kota kecil atau ke daerah perbatasan yang tak banyak pilihan, maka terpaksa kita harus menanggung resiko tidur di penginapan yang apa adanya.

Hal ini pernah terjadi saat saya dan beberapa teman melakukan perjalanan ke daerah perbatasan di Atambua. Kami tiba sudah cukup malam waktu itu, tak banyak pilihan hotel di kota kecil itu, dua hotel yang kami datangi kondisinya penuh. Tubuh yang lelah setelah seharian beraktivitas di Kupang dan menempuh perjalanan darat ke Atambua, membuat kami terpaksa menginap di hotel yang terasa aneh sejak awal karena hotel ini sepi sementara hotel lainnya full booked. Saya pun tidur dalam keadaan gelisah tanpa tahu apa penyebabnya, merasa ada makhluk tak terlihat mata sedang mengamati saya.

5. Kehilangan Barang
Saya pernah ketinggalan tas jinjing di Bandara Trivandrum, Kerala. Namun teratasi dengan baik karena sistem manajemen bandara yang baik meski saya sempat berpikir kalau tas itu tak kembali toh saya bisa beli lagi isinya yang tak seberapa berharga. Namun kehilangan itu menjadi merepotkan saat barang yang hilang adalah barang yang tidak bisa di beli. Kehilangan paspor misalnya.

Saya pernah mengalami hal tersebut di Singapore saat paspor anak saya yang masih kecil luput dari genggaman saat di Bandar Udara Changi. Repotnya bukan main, saya harus menghubungi banyak pihak di banyak tempat untuk mengurusnya baik ke kepolisian, imigrasi, hingga kedutaan. Belajar dari situ, saya kini selalu berhati-hati soal dokumen perjalanan, selalu menyimpan uang dan dokumen yang berharga dalam tas yang tak pernah lepas dari tubuh saya selama perjalanan saking traumanya.

6. Sakit
Obat-obatan dan vitamin adalah barang wajib setiap perjalanan. Dari antioksidan hingga penambah darah. Dari obat-obatan ringan untuk pusing, flu, diare dan radang tenggorokan hingga obat untuk sakit khusus yang kita derita. Seperti saya yang punya penyakit vertigo. Saat serangan, vertigo ini bisa membuat dunia berputar tujuh keliling di kepala saya. Tentu saja saya tak mau terserang saat melakukan perjalanan, apalagi perjalanan jauh di negeri orang.

Beberapa kali saya terbantu dengan obat-obatan ini, Bila saya mendapati gejala-gejala sakit di tubuh maka segera saya minum obat agar tak menjadi parah dan merepotkan. Selain itu juga saya menjaga asupan makanan selama perjalanan, menghindari makanan yang berpotensi menyebabkan diare atau penyakit lambung. Repot khan bila harus bolak-balik cari toilet saat traveling atau nggak nyaman karena asam lambung.

Nah yang terakhir, kalau perlu gunakan asuransi perjalanan. Bagi saya ini penting sekali. Namun untuk cerita ini akan saya bahas di tulisan khusus nanti. Yang jelas dengan memiliki asuransi perjalanan, saya merasa tenang selama 15 hari berkeliling India.
Bagaimana cerita perjalanan anda. Pernah mengalami hal-hal seru terkait resiko dan kejadian tak terduga saat traveling? Yuuk kita berbagi…

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

6 comments

  1. Avatar

    Ya ampuuun, pernah sampai menginap di bandara ya, Mbak? Kalau aku pernah kena diare luar biasa waktu di Swiss. Ya Allah, kupikir ceritaku sudah tamatlah di sana. Kasian suami dan anak-anakku, gara-gara aku bolak-balik ke kamar mandi dan lupa bawa obat diare. Jadilah kami menunda jalan-jalan mengeksplore sudut-sudut kotanya. Untunglah selepas magrib obat diare yang dibeli suamiku di apotek sana akhirnya bekerja dengan baik. Benar-benar tepar. Btw, thanks tipsnya. 🙂
    wylvera recently posted…Ketika Obsesi Berubah HaluanMy Profile

  2. Avatar

    Hal-hal tak terduga ini memang harus disiapkan sih yaaa terutama ada budget khusus biaya tak terduga
    Maya Siswadi recently posted…Rendang Berbungkus Nasi Merah ala Oasis RestaurantMy Profile

  3. Avatar

    Yang nomor 5 jangan sampe dah! kehilangan barang waktu diperjalanan itu bisa bikin shock n pusing 😐
    Fahmi recently posted…Unik! Enggan Di Kandang, Kerbau Rawa Danau Panggang Ini Lebih Suka Berenang!My Profile

  4. Avatar

    Masalahnya banyak banget bu, kalau bisa udah tahu rumah di Cimanggis ya berangkatnya agak pagi bu kalau ga mau telat, tuh kan jalan macet. Memang resiko kita punya rumah yang jauh dari bandara. he,, he,, he,, he,,

  5. Avatar

    Traveler itu harus siap mental, raga, dan kantong. Trims infonya.
    Tri Sapta recently posted…Jakarta Fashion Week 2016: Dynamic Bliss WardahMy Profile

  6. Avatar

    Bacanya merinding dan bangga sama dirimu Mba. Petualangannya benar-benar seperti Malang alias mama petualang. Tularkan jiwa petualangmu Mba Don, supaya aku ga manja.
    Desy Yusnita recently posted…Masih Umur BelasanMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge