Tuesday, September 22, 2020
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » periksa dahulu hidung anda

periksa dahulu hidung anda

Saya punya tingkat sensitifitas yang cukup baik terhadap bau, mungkin ini bawaan genetik dari ibu saya yang memiliki sensitifitas yang kurang lebih sama, sehingga tak heran bila kalimat “bau apa sih ini” akrab sekali ditelinga kami sekeluarga. Tapi soal bau ini saya punya cerita, dan mengambil nilai moral didalamnya.

Perihal bahwa saya memiliki dua orang kakak, dan sang kakak tertua saya yang menurut saya lahir dijaman jahiliyah saking jahilnya sama adiknya yang cantik manis jelita nan mempesona ini. Bila saya sudah bilang “eh, pada mencium bau gak enak gak? Bau apa sih ini?”, maka dapat dipastikan dia akan menjawab “cek dulu deh hidung loe Don, kali aja ada kotoran !”. Wuih, sontak saya cemberut bila ia sudah mengatakan demikian. Bila saya menjawab bahwa, “gak mungkin lah di hidung saya ada kotoran”, maka dia akan mengatakan lebih lanjut “lha, abisnya cuma loe deh yang ngeributin soal bau, kita mah baik2 aja tuh gak mencium bau apa2”. Haduh, saya makin sebel.

Suatu hari saya membaca sebuah buku, tentang seorang paman yang sangat menyenangkan dan suka sekali menyapa dan menggoda anak2 kecil yang selalu lewat didepan rumahnya saat berangkat sekolah setiap pagi. Paman tersebut acapkali mengatakan dengan ceria dan penuh senyum, “hmmmmm, siapa yang membawa bekal yang enak ini, bau keju panggang tercium sampai ke hidungku”. Lalu bila anak2 itu mengatakan “tidak ada yang membawa keju panggang paman” maka sang paman akan mengatakan “hohohohoho ternyata ada keju panggang di hidungku yang terbawa dari dapur bibimu”

Pagi ini saya merenungkan kembali dua cerita itu dan mengambil nilai moral didalamnya. Bahwa acapkali kita dengan mudah menyalahkan orang lain terhadap suatu permasalahan yang timbul atau peristiwa yang tidak menyenangkan. Lupa bahwa segala sesuatu terjadi menurut hukum “ada aksi ada reaksi”, bahwa setiap peristiwa tidak terjadi dengan sendirinya dan terjadi karena “sikap” kita yang “mengizinkan” itu terjadi. Tentu saja konteks yang kita bicarakan ini bukan sesuatu yang menyangkut sesuatu diluar kekuasaan manusia.

Namun sayang nya lebih mudah bagi kita untuk ribut dan kesana kemari mengatakan “ini bau, dia membawa bau, dia badan nya bau” persis seperti analogi pada cerita diatas. Lupa memeriksa jangan2 hidung saya yang kotor. Jelas saja bila hal ini yang terjadi, yang pertama kita harus lakukan adalah senantiasa berbersih diri dan seringlah bercermin, pastikan bahwa sudah tidak ada kotoran di hidung kita.

Begitu pun saya menanamkan nilai moral tersebut dirumah, terkadang saya perlu duduk bersama kedua anak saya yang bertengkar, yang saling menyalahkan satu sama lain. Saya akan menanyakan apa masalahnya, lalu setelah masalah itu disingkirkan, saya tanyakan kembali apakah perasaan nya sudah membaik, dan bila mereka mengatakan “belum atau masih ada yang mengganjal” maka saya dengan tegas mengatakan bahwa berarti masalah nya ada di diri nya sendiri, dia harus perbaiki dulu dirinya.

Dulu di awal2 pernikahan kami sering sekali bertengkar, saya dengan mudah menyebut sumber baunya, entah soal uang, soal keluarga pasangan, pertemanan dan lingkungan sosial sekitar rumah, bahkan untuk hal2 kecil seperti pekerjaan rumah dan pola pengasuhan anak, tapi ternyata meski sumber baunya sudah pergi atau masalahnya udah “clear” dan bisa diatasi, kok kami masih sering bertengkar ya? Dan ternyata bukan itu sumber baunya, tapi cara saya memandang permasalahan dan sikap saya dalam mencari solusinya. Namun setelah saya mengambil pendekatan yang berbeda, baru saya sadar bahwa, bau itu justru ada didalam rumah kami huffhhhh, cape kan?!. Jadi, bersihkan dulu, benah2 diri dan senantiasa bercermin, siapa tau ada kotoran yang lama tidak dibersihkan sehingga menumpuk atau ada kotoran yang terbawa dari luar.

Kini saya seperti paman “keju panggang” , saya berusaha selalu mencium bau sedap dalam hidup saya. Rasanya seperti menghirup udara segar setiap hari. Bila mulai ada bau yang tak sedap, saya selalu mulai dari bercermin, ada kotoran gak, bersih2 dari diri saya, dan meyakinkan bau itu hilang dari rumah saya, dari seputaran keluarga saya, dari surga anugerah Tuhan di dunia ini. Dan kalaupun bau itu masih ada, biarkan itu ada diluar, bukan dari tubuh saya dan tidak akan membuat saya ribet kesana kemari dengan urusan bau, lalu mengatakan pada seluruh isi dunia bahwa dunia saya bau. Dengan kemampuan yg saya miliki, bila saya bisa bantu bersihkan, ya saya bantu bersihkan, tapi bila tidak bisa atau memang ada mereka yg sulit sekali berbersih, mungkin itu pilihan mereka yang ada diluar sana.

Pilihan ada ditangan anda…….pastikan hidung anda bersih ya

Nirmala, 6 oktober 2011

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

[relationship] Jangan Lupa Check Hidung Anda

Saya punya tingkat sensitifitas yang cukup baik terhadap bau, mungkin ini bawaan genetik dari ibu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge