Home » Review and Event » Peluang dan Tantangan Koperasi dan UKM dalam bisnis e-commerce: Sebuah Diskusi Singkat
Para pembicara bersama para peserta diskusi

Peluang dan Tantangan Koperasi dan UKM dalam bisnis e-commerce: Sebuah Diskusi Singkat

Peluang dan tantangan sepertinya memang ditakdirkan untuk selalu berpasangan. Begitu juga pada begitu banyaknya peluang yang terbuka ketika internet hadir sebagai bagian dari kehidupan manusia di banyak bidang, termasuk di dalamnya peluang dan tantangan untuk mengembangkan bisnis e-commerce bagi para pengusaha kecil dan menengah di era digital seperti sekarang ini.

Buah pikir tersebut menghampiri saya dalam bentuk undangan diskusi yang diselenggarakan oleh Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah UKM di kantor mereka di Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta 9 Februari 2016 yang lalu. Judul diskusinya persis seperti tulisan di atas, “Peluang dan Tantangan Koperasi dan UKM dalam bisnis e-commerce.”

Hadir dalam diskusi tersebut Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Wayan Dipta, pengamat e-commerce ITB, Kun Wahyu Cahyantoro dan Fajrin Rasyid selaku salah satu CEO bukalapak.com. Hadir pula dalam acara tersebut para pelaku usaha, netizen, blogger dan beberapa perwakilan media online.

Sebagai pembicara yang pertama, Wayan Dipta dalam paparannya mengatakan bahwa setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi para pelaku usaha untuk memasuki bisnis e-commerce, yaitu infrastruktur jaringan, knowledge dan keamanan bertransaksi. Masih ada beberapa daerah yang belum memiliki jaringan infrastruktur yang memadai, padahal pelaku usaha itu tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia hingga ke pelosok.

Tantangan lainnya adalah masalah knowledge termasuk didalamnya kemampuan berbahasa. Seringkali ditemukan bahwa produk yang dihasilkan bagus dan bermutu dan diminati pasar asing namun tak dapat dipenuhi karena ketidakmampuan berkomunikasi dengan pihak asing termasuk didalamnya pengetahuan yang memadai untuk bertransaksi secara aman.

Semua tantangan ini tentu saja harus dijawab dan bukan tak ada solusinya. Kementrian Koperasi dan UKM dalam hal ini telah dan masih terus mengawal para UKM dengan melakukan berbagai kegiatan termasuk didalamnya pelatihan, bantuan dana, dan pengurusan merek atau paten. Kemenkop dan UKM juga memfasilitasi UKM untuk bekerja sama dengan pihak ketiga seperti dengan beberapa marketplace agar para pelaku UKM dapat memasarkan produknya dengan lebih luas.

Salah satu marketplace yang diajak bermitra oleh Kemenkop dan UKM adalah bukalapak.com. Fajrin Rasyid yang pendirinya sengaja dihadirkan dalam diskusi hari itu menjelaskan bahwa dua kendala untuk memulai bisnis adalah modal dan distribusi. Namun dengan internet kedua masalah itu bisa diatasi. Karena untuk menjual produk-produknya kini tak lagi dibutuhkan biaya untuk menyewa atau membeli ruang display atau toko.

Para pembicara bersama para peserta diskusi
Para pembicara bersama para peserta diskusi

Produk juga bisa distribusikan lebih luas ke banyak tempat dan wilayah di Indonesia bahkan hingga ke luar negeri tanpa harus menyediakan stok barang di tempat tersebut. Barang yang akan dijual cukup didisplay secara daring di internet dan barang didistribusikan sesuai jumlahnya dengan permintaan pembeli. Dengan begitu modal dan biaya operasional bisa banyak berkurang.

Jangan khawatir soal MEA, karena ini justru adalah peluang untuk memperluas target pasar. Bayangkan, bila 40 % pasar di negara-negara Asean ada di Indonesia, maka itu berarti masih ada 60 % yang bisa menjadi target pasar oleh pengusaha di Indonesia. Untuk memudahkan penetrasi pasar dan memperluas jaringan maka bisa dikembangan menjadi bisnis e-commerce.

Banyak cara yang bisa dilakukan dalam memasarkan produk dengan bisnis e-commerce, dari memanfaatkan sosial media, membuka toko online hingga bermitra dengan marketplace yang sudah ada. Tiap cara atau bentuk memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Misal berbisnis dengan memanfaatkan sosial media, memang lebih simpel dan transaksi pembayarannya langsung antara pembeli dan penjual dan cash.

Namun transaksi bisnis seperti ini kurang aman kecuali kita sudah kenal dengan penjual atau pembelinya. Sistem yang seperti ini juga biasanya masih dikelola secara manual, akan merepotkan ketika bisnis mulai membesar. Hampir mirip dengan online shop, bisnis yang seperti ini membutuhkan investasi effort yang tinggi untuk maintenance dan branding dibanding bermitra dengan marketplace.

Marketplace memiliki sistem yang sudah otomatis dan canggih, semua transaksi tercatat dalam sistem dan mudah dipantau. Marketplace juga lebih ramah pada mesin pencari sehingga memudahkan pembeli menemukan produk-produk kita. Transaksinya aman, karena pembeli hanya akan mendapatkan barangnya bila pembayaran sudah dilakukan, dan penjual baru bisa mendapatkan uangnya bila barang telah tiba di pembeli dengan baik dan sesuai.

Senada dengan dua pembicara lainnya, Kun Wahyu Cahyantoro mengatakan bahwa fenomena yang terlihat saat ini adalah kecenderungan masyarakat lebih banyak mengakses media internet, baik via gawai maupun komputer dibanding mengakses media yang lain. Hal ini berpengaruh besar terhadap bisnis retail yang secara pelan namun pasti akan berubah menjadi bisnis online atau e-commerce.

Satu yang perlu kita catat adalah Indonesia merupakan pasar retail terbesar sehingga menjadi incaran bagi pebisnis online dari luar negeri termasuk negara-negara di Asia Tenggara, di mana target produk pasar pada kalangan muda yang akan semakin membesar hingga tahun 2020 dan akan terus bertahan hingga tahun 2035. Jadi kita punya waktu 15 tahun untuk bisa menikmati masa-masa e-commerce sedang bertumbuh dengan pesat. Nah, tunggu apalagi, yuk kembangkan bisnis e-commerce untuk produk-produk anda agar lebih berdaya.

Semoga…

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Kulit Kering dan Tumit Pecah-pecah? Ternyata Gampang Mengatasinya!

Kulit kering dan tumit pecah-pecah itu bagi saya bukan hanya sekedar mengganggu penampilan namun juga mengganggu ...

6 comments

  1. Avatar

    bisnis selagi masih muda yaa.. jadi terinspirasi nih saya 😀

  2. Avatar

    berkunjung ya mbak donna, sambil baca2 karya tulsannya mbak donna
    andriza recently posted…BenQ PG2401PT dan SW2700PT Kenyamanan Mata Pekerja SeniMy Profile

  3. Avatar

    sebagai penggiat e commerce, menurut saya tantangan terbesar karena mesti bersaing sama “big player” macem tokopedia, bukalapak, lazada dan sejenisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge