Home » Cerita di Balik Kisah » paradise in my mind

paradise in my mind

Waktu menunjukkan pukul 01.18 waktu Indonesia bagian tidur, devina masih terjaga didepan layar desktop dengan mata yang segar bugar. Tinggal satu langkah lagi dengan menekan tombol enter maka tahapan ini akan ia selesaikan. Ia mengambil nafas panjang sejenak, memberikan ruang untuk 1% keraguan menyelesaikan tahapan ini, dan kemudian menyerahkan 1% sisanya kepada Sang Kuasa. Ruang kecil dalam benaknya yang dahulu gelap itu secara perlahan mulai berpendar, dan keputusannya kelak dengan menekan satu tombol enter itu akan membuatnya bercahaya penuh.

Tak ada lagi keraguan sebenarnya, hanya sekedar membiarkan nafas mengambil oksigen agar dada ini terasa longgar, karena walau bagaimana pun, langkah2 administrasi sederhana yang ia lakukan barusan terasa terseret karena ada muatan disetiap tarikan nafas yang mengiringinya. Ia harus memastikan bahwa destinasi yang ia pilih benar tujuan hatinya dan hanya ada dua nama yang ia ketik.

Ia ingat betul 20 tahun lalu ketika pertama jemari kekar itu menggandeng tangannya berkeliling banjar memperkenalkan satu persatu kehidupannya dan menjelaskan dengan rinci, dengan nada suara dan sorot mata “stranger” yang ternyata menjadi ciri khas lelaki itu kemudian. Menjelaskan makna kain kotak-kotak yang membalut arca, bagaimana membuat banten yang tersusun indah dan makna setiap komponen didalamnya, bagaimana lelantun doa dan pujian disenandungkan. Semua didengarkan devina dengan mimik serius, yang membuat lelaki itu makin semangat menceritakan semuanya.

Ah….kenangan ini membuatnya tersenyum kecil, mengingat bagaimana sesungguhnya pada saat itu ia tak mengerti semua yang diceritakan. Devina sesungguhnya sedang sibuk mengatur irama hatinya yang mulai tak beraturan, mengatur rasa yang bergejolak ingin melompat kedalam pelukan dan membalas genggaman tangan itu dan mengatur harmoni agar tetap terlihat tetap seperti gadis manis dihadapan wajah damai itu, terlebih saat berkayuh berdua didanau dan lelaki itu mengatakan, “nanti deh ya, kapan-kapan kita kesana, kamu bisa lihat langsung semua ini didaerah asalnya”. Ah, betapa mudahnya perempuan muda belia jatuh cinta.

Perlahan senyum devina memudar, seiring tarikan nafas panjang saat ingatan melangkah di hitungan dua tahun kemudian saat ia melepas lelaki itu ke tempat yang ia ceritakan itu, kota yang sama dengan tujuan yang barusan ia pilih dilayar desktop tadi. Tak mungkin dilupakannya kalimat terakhir sebelum lelaki itu masuk ke kendaraan yang membawanya pergi. “aku gak lama, na…cuma seminggu, aku harus menjenguk meme, akan kuceritakan tentang kamu pada beliau”. Saat itu untuk pertama kalinya devina melihat binar diwajahnya saat lelaki itu menggodanya devina dengan kalimat, “dari ceritaku nanti tentangmu, aku rasa meme juga akan jatuh cinta padamu seperti aku, dan menyuruhku untuk segera melamarmu”.

Ah…nurani tak pernah menipu, entah mengapa devina hanya membalas dengan senyum datar dan menjawab dengan jawaban standar, “sudahlah…hati-hati dijalan, dan jangan lupa kasih kabar”

Devina tau diri….”ada pagar ayu yang tak mungkin kita tembus, ka, kecuali kamu mau berjuang untuk itu’”, dalam hati devina berkata sambil berbalik sesaat setelah kendaraan bergerak meninggalkan tempat.

Devina perlu mengambil oksigen lebih banyak saat ingatan sampai disuatu malam, duduk berdua ia di teras rumah tanpa pagar, menahan gemuruh yang meraja, dengan tangan mendekap sebuah undangan pernikahan yang basah ujungnya oleh air dari sudut mata. Waktunya tiba juga, lelaki itu sudah menentukan pilihan hidupnya. Meski kemungkinan ini sudah diperkirakan sebelumnya, tak urung air mata nya baru kering setelah menangisi undangan itu berhari-hari, siang dan malam. Tak diperdulikan semua kalimat pelipur lara itu, devina tak perduli ada alasan yang masuk akal dan penuh logika yang disampaikan raka, tak perduli pula pada ribuan kata maaf sebagai pengganti tanyanya “kenapa sekarang…kenapa bukan aku yang kamu pilih, bukankah kita masih ada waktu?”.

Lalu hening, berjam-jam sampai lelaki itu pamit meninggalkan teras yang terasa tak hanya dingin namun membeku seolah kehidupan berhenti berputar di tempat itu.

“Bukan aku yang kamu pilih…bukan aku yang kamu pilih”, devina seolah meratap.

Hmmmm…….memang itu selalu jadi bagian terperih direntetan cerita tentang mereka berdua dan selalu jadi bayang yang tak pernah lepas sejak saat itu, meski tahun berganti dikehidupan devina. Raka selalu hadir, disetiap sudut kampus, sepanjang jalan pulang ke rumah, di bis kota dengan nomer tertentu dan setiap devina melihat vespa biru. Ingat vespa biru itu, devina tersenyum kembali.

Mengingat cerita ini utuh selalu menjadi cara ampuh buat devina untuk melewati masa-masa sulit. Berhenti pada episode “tidak dipilih” hanya akan memberikan perih. Berhenti di episode bangku kampus akan menyajikan kelabu, maka ia melihatnya selalu utuh cerita ini sampai di titik waktu saat devina mengingatnya. Selalu ada cerita baru sebagai akhir sementara disetiap pertambahan waktu ia mengingatnya, karena waktu terus bergulir dan ia terus tumbuh didalamnya.

Devina ingat, masa mempertemukannya kembali dengan raka. Pembicaraan serius kaku, meski ada sedikti canda namun tak bisa menutupi bahwa ada harapan yang tak sampai dimasa yg telah berlalu. Devina ingat bagaimana ia menjawab dengan ketus saat raka bercerita bahwa akan ada upacara besar dikampung halamannya, upacara pembakaran mayat seorang kerabatnya yang menjadi tetua adat disana. Raka mengatakan pula bahwa biasanya ini menjadi obyek wisata yang menarik untuk turis dan devina pasti tertarik pula.

Dengan emosi menggelegak, devina menjawab…”paradise island kebanggaan mu itu sudah amat sangat tidak menarik buat aku raka sejak kamu pilih perempuan lain, mungkin tidak hanya saat ini, namun sepanjang hayatku. Ajari aku bagaimana menikmati indahnya pulau itu dan semua budaya yang indah yang pernah kuceritakan itu berteman nestapa sendiri tanpa kamu”, Entahlah bila kelak ku mampu lakukan itu, maka itu berarti aku sudah ikhlas melepas mu dan bahagia dengan hidupku tanpa kamu”. Lalu raka terdiam.

Pembicaraan ditutup dengan kalimat “Tuhan selalu punya cara menuntun kita pada apa yang ada dibenak kita, raka, bisa sebagai ujian bisa pula sebagai petunjuk….biarkan ini mengalir, jangan dipaksakan jangan diperlambat, dan ingat…..bila pertemuan ini tidak baik buat kita, pergilah, namun yang pasti harus kamu ingat adalah jangan pernah lagi sekalipun mengucapkan selamat tinggal, sudah cukup salam perpisahan mu 13 tahun yang lalu itu”.

Ups….layar desktop dihadapan devina berkelap kelip, tanda bahwa ia sudah hampir kehabisan waktu untuk segera menyelesaikan tahapan ini. Ditinggalkan ruang benaknya, dipastikan bahwa perlahan selama 18 tahun akhirnya ia mampu menata hatinya. Tak ada alasan untuk lebih lama memenjarakan hati, tak akan reinkarnasi bagiku untuk menunggu giliran hidup bersamamu, dilantunkannya doa, dan dengan nama Tuhan….ditekan tombol enter, lalu muncul tulisan “booking number, MS2912DI, CONFIRMED.

Dibisikkannya ditelinga pria yang tertidur disebelahnya, yang dengkuran halusnya menemani nya sampai selarut ini. “tlah kutinggalkan semua muatan sarat masa laluku, tak ada dendam, tak ada penyesalan, purnama yang akan datang hanya ada aku, kamu, dan impian kita…..menikmati gelitik ujung daun padi di Ubud, di setiap langkah menyusuri pematang sawah di Tegal Sari dan deburan ombak malam Kuta yang akan membawa kita ke purnama ……

Teras atas Nirmala,

September 2011

02.20 wib

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge