Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Nostalgia SMA, jelang temu kangen 2009

Nostalgia SMA, jelang temu kangen 2009

“Jadi siap-siap ya, minggu depan kita harus sudah pindah, papah harus segera dinas di Pekalongan”
Sebuap percakapan singkat suatu sore di sebuah rumah dinas perbankan di ujung pulau Sumatra, Nanggroe Aceh Darussalam (saat itu masih dengan sebutan Banda Aceh)

Bagi kami ini bukan hal yang mengagetkan karena kami tahu setiap tiga tahun hal ini harus terjadi. Sebagai anak seorang karyawan di sebuah Bank Nasional milik pemerintah, hal ini biasa terjadi setiap periode.
Tiga tahun lebih sedikit kami sudah di sini. Dan saat nya kami harus meninggalkan Banda Aceh.

Tapi kabar sore itu tidak cukup menarik hatiku.
haaa….!!! Pekalongan..?!
duh itu khan hanya sebuah kecil di Jawa Tengah? Ah…gak keren ah, kenapa gak di Semarang aja sih, sekalian di pusat pemerintahan Jawa Tengah. Demikian keluhku waktu itu…keluhan yang ternyata di jawab Tuhan dengan ribuan cerita yang tak terlupakan.

Catt: maka bersabarlah dengan sesuatu yang tidak kamu sukai, karena mungkin kamu sebenarnya diberikan sesuatu yang akan kamu sukai.

Pekalongan…adalah masa remaja yang manis, masa dimana putih abu-abu menjadi keseharian, belajar….main…. dan menikmati masa-masa jatuh cinta xixixixi.
Dan setiap kejadian yang masih terekam didalamnya sungguh membuat aku menyesali pernah tidak menginginkan berada disini.

masih jelas terekam di benakku, saat St Bernardus “terpaksa” menjadi pilihan untuk menyelesaikan studi jenjang menengah atas. Namun tradisi keluarga kami yang akrab menyekolahkan anak2nya di sekolah swasta katholik sejak kami kanak-kanak tidak membuat aku ragu menapakkan diri didalamnya.

Sekolah ini sungguh luas, dengan gerbang yang kokoh berlapis dua. Sehingga kalo kami terlambat, meski dapat melalui gerbang pertama, jangan harap bisa lolos dari gerbang yang kedua. Dengan senyum dibuat manis pada satpam yang sok gagah berusaha lolos melewati gerbang ha ha ha….namun kejadian yang muncul setelah lolos dari satpam kemudian adalah berhadapan dengan Kepala Sekolah, waktu itu ibu Theopile Pawarti (hormat saya bu, dan maaf atas kelancangan kami mengolok-olok ibu waktu itu), pasrah menunduk dan mendongkol, serta mengutuk dalam hati membayangkan hukuman menanti setelah rangkaian petuah ini selesai.

Sekolah ini sangat nyaman, selain lapangan luas ditengah deretan kelas yang mengelilingi lapangan tersebut, kamar mandi yang selalu bersih dan higienis ( nyaman untuk ngumpet, xixixi), laboratorium lengkap baik scientis maupun seni budaya, UKS yang seperti rumah sakit kelas satu yang selalu dijaga suster galak sehingga gak pengen sakit, khawatir kalo sakit malah makin sakit di jutekin xixixixi. Lah gimana gak galak, pelajar2nya juga bengal2 banget…jadi bukan susternya yang salah, tapi siswanya aja yang gak jelas he he he

Di belakang bangunan bertingkat khusus laboratorium, ada halaman belakang yang kami sebut kebun karena memang diperuntukkan untuk menanam banyak sekali jenis tanaman, beberapa jenis hewan dan kolam kecil….ditutupi rumput yang nyaman untuk duduk-duduk. Saat jam istirahat aku dan beberapa teman suka bersantai disana.

Salah satu tanaman yang ada disana kayaknya ada pohon kecubung deh, yang kalo pelajaran kimia menjelang, temen2 suka “ngemil” itu biji kecubung (gak jelas juga sih gimana proses itu terjadi xixixi), pokoknya dengan itu maka kejadian memalukan di depan papan tulis karena gak bisa menulis reaksi kima asam basa dan kroni2 nya terjadi, teman2 itu akan tetap menebar wajah polos tanpa dosa….(mabok kecubung sih xixixixi, bukan begitu Pry…??).
Jadi saat namanya di panggil, mereka cukup menjawab dengan …”tidak bereaksi, Bu…” he he he

Upacara bendera setiap hari senin selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Terutama untuk kelas biologi. Ada aja deh tingkah laku temen2 yang bikin aku ketawa. Ada aja yang suka dengan sengaja bikin ngaco, misalnya saat menyanyikan lagu wajib, lah bayangkan, saat dirigennya memberi tanda untuk menyanyikan lagu Garuda Pancasila, eh…mereka yang bengal2 itu menyuarakan lagu Halo-Halo Bandung dari mulutnya…kebayang khan betapa ngaconya.

Belum lagi kenakalan-kenakalan di dalam kelas. Apalagi terhadap guru muda, biasalah ..kita khan beraninya ama yang begitu.Jangan coba2 ngerjain guru senior, kualat bin hukuman siap bikin kita malu.
Guru sejarah kami merupakan guru termuda. Pak Joko namanya…hmmm, agak manis sebenarnya, tapi jaimnya itu lho…..gak nahan. Dan beliau ini lah yang sering jadi obyek kenakalan anak-anak. (aku gak lho….karena aku sibuk menghitung berapa kata “ya” yang dia ucapkan saat menjelaskan Perang Diponegoro” xixixixi)

Bolos….?!
wah ini mah makanan wajib anak2….(anak2 bengal ya..he he he)
dalam sebulan gak bolos kayaknya gak enak….
kita pernah mengalami dapat kelas yang berbatasan dengan tempat parkir. Bolos yang paling gampang ya saat hari jumat. Saat anak2 kelas satu boleh pulang maka yang bolos tinggal lompat jendela, dan berbaur dengan anak kelas satu…ngaciiiiiir. Atau..dalih terlambat dan kongkow2 dikantin luar sekolah…itu mah hal biasa.

kalo soal yang nakal2 …..kayaknya aku gak bagian deh…xixixixi
jadi biar aja, ntar ada yang share pengalaman pribadinya di note ini.

terlalu banyak yang harus diceritakan, dan gak mungkin dituangkan saat ini. Karena kayaknya butuh tujuh hari tujuh malam saking banyaknya.
Belum lagi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menggambarkan kota Pekalongan itu sendiri…butuh seminggu lagi kayaknya he he he.

Insyaallah tanggal 26 nanti ada temu kangen di sekolah kami…..
gak sabar rasanya menunggu masa itu tiba. Melihat kembali sekolah yang aku belum lihat sejak tahun 1995, melihat para guru2 kami, melhat tempat2 favorit kami, mengembalikan semua kenangan yang pernah ada di sana.

Sudah ter-rencana dengan baik bahwa aku akan menyusuri kembali masa itu, sepanjang jalan jendral Sudirman menuju Tentara Pelajar. Mampir ke beberapa tempat makan yang biasa kami datangi, tempat2 favorit diluar sekolah, tempat nongkrong bareng, tempat nonton bareng, pantai, alun-alun, sepanjang hayam wuruk-gajah mada yang mungkin sekarang sudah berubah.

Jakarta memberi segalanya….tapi bukan mall atau gedung mewah yang aku cari disana
tapi kenangan yang membentuk diri, terpatri sampai hari ini…
di sana….

tunggu aku ya….

jakarta
5 desember 2009

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge