Home » Review and Event » Newmont Sustainable Mining Bootcamp : Berburu Jejak Tailing di Batu Hijau

Newmont Sustainable Mining Bootcamp : Berburu Jejak Tailing di Batu Hijau

Kesempatan tak datang dua kali, kalaupun datang lagi pasti situasinya sudah berbeda. Jadi tak ada alasan untuk mengatakan tidak ketika Bulan Oktober 2015 yang lalu, Amelia dari Edelman yang mewakili P.T. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) mengundang saya untuk bergabung dengan Sustainable Mining Bootcamp (SMB) Batch V di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat selama 9 hari. Meski keberangkatan sempat tertunda dua kali, namun pada akhirnya kepastian akan keberangkatan datang juga, bahwa saya dan peserta SMB Batch V lainnya akan berada di Batu Hijau dari tanggal 14-22 Februari 2016.

Newmont Bootcamp atau yang sering disebut juga dengan Sustainable Mining Bootcamp (SMB) adalah suatu program kegiatan edukasi yang dirancang oleh PT. Newmont Nusa Tenggara bagi masyarakat umum untuk melihat langsung kegiatan tambang, pengelolaan lingkungan dan reklamasi, program tanggung jawab sosial, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat di sekitar lokasi tambang sambil menikmati keindahan alam Sumbawa Barat. Dari kunjungan tersebut, peserta bebas mengunggah serta membagikan apa pun yang mereka lihat dan alami, tanpa intervensi dan imbalan ke masyarakat luas.

IMG-20160216-WA0007
Peserta bootcamp dengan latar belakang pabrik pengolahan batuan tambang

Tentu saja hal ini sangat membuat saya bersemangat sekali. Bahagia rasanya menjadi salah satu dari 26 orang-orang terpilih sebagai bootcampers –sebutan buat peserta bootcamp— di SMB Batch V ini. 20 orang diantara kami adalah mereka yang memenangkan kompetisi menulis tentang tambang dan pengelolaan lingkungan. Sisanya adalah para undangan dan mereka yang dipilih dari akun media sosial PTNNT serta roadshow PTNNT di kampus-kampus di Sumbawa.

Keragaman menjadi hal yang menarik dalam kegiatan ini. Kami semua berbeda, baik dari usia, latar belakang profesi serta minat, juga domisili kami berasal. Dilihat dari latar belakangnya, hampir separuh peserta ini adalah para akademisi, baik dosen maupun mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang beragam. Separuh lainnya adalah para praktisi dan profesional dari berbagai bidang, termasuk di dalamnya para penulis, fotografer dan awak media. Bisa terbayang serunya bersama-sama dalam perbedaan yang menjadikan SMB 5 ini berwarna.

IMG-20160220-WA0017
Perbedaan yang bikin seru, beda usia, jenis kelamin, latar belakang dan profesi.

Sejak diluncurkan pertama kali pada tahun 2011, program SMB yang diselenggarakan setiap tahun ini memang sengaja menjaring mereka-mereka dari berbagai latar belakang. Yang paling penting adalah mereka yang terpilih ini memang memiliki semangat yang tinggi untuk membagikan pengalaman mereka melalui media sosial dan tulisan. Tak heran meski berbeda latar belakang, hampir semua dari kami adalah penggiat sosial media dan menulis.

Selamat Datang Di Batu Hijau

Minggu pagi tanggal 14 Februari 2016, sebelum mentari di atas Soekarno Hatta International Airport menampakkan diri, saya sudah tiba di terminal 1C di bandar udara di Cengkareng satu setengah jam lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan Mbak Jenni dari Newmont untuk berkumpul bersama peserta lainnya pukul tujuh pagi. Dari titik temu tersebutlah, saya dan peserta Newmont Bootcamp lainnya kemudian terbang menuju Bandar Udara Lombok Praya untuk bergabung dengan peserta lainnya yang berasal dari luar Jakarta lalu bersama-sama menuju Batu Hijau.

IMG_20160214_130848
Sebagian peserta dari Jakarta saat transit di Lombok

Perjalanan yang cukup panjang dan berganti berbagai moda transportasi harus saya tempuh seharian untuk tiba di Batu Hijau. Beruntung bonding di antara peserta cepat terjalin, kami langsung akrab satu sama lain sehingga lelah tak terasa. Tak ada jarak antara peserta, panitia, dan awak media, semua langsung akrab bercanda dan berbincang satu sama lain, terutama keberadaan Cumi Lebay sebagai kepala suku kami, selalu berhasil membuat suasana cair.

Perjalanan memakan waktu yang cukup panjang dan benar-benar lengkap, baik perjalanan darat, laut maupun udara. Mirip iklan obat anti mabuk ya kalimatnya hehehe. Untunglah peserta tak ada yang mabuk selama perjalanan. Dari Bandar Udara Soekarno Hatta di Tangerang, Banten kami terbang selama 1,5 jam menuju Bandar Udara Lombok Praya, kemudian berganti melalui jalur darat selama kurang lebih dua jam menggunakan bus dari bandara ke Pelabuhan Kayangan untuk kemudian menyeberang menuju Pelabuhan Benete di Sumbawa Barat menggunakan jetty milik Newmont selama 1,5 jam hingga akhirnya lewat senja kami disambut sebuah ban besar di visitor centre, PTNNT Batu Hijau.

IMG-20160214-WA0069
Selamat Datang di Batu Hijau

Rumah Kami, Rumah Bootcampers
Selama bootcamp, kami menginap di mess karyawan di Town Site yang berada di dalam lingkungan PTNNT di Batu Hijau. Bangunannya bertingkat dua, mirip barak atau kontainer panjang yang disusun bertingkat. Kontur tanah yang tidak rata membuat barisan-barisan mess ini berada di ketinggian yang berbeda. Lumayan bikin ngos-ngosan menyeret kaki dalam boot setiap kembali ke mess setelah seharian beraktivitas yang menguras energi. Terasa sekali saat harus mengangkat sendiri koper dari satu anak tangga ke anak tangga lain yang lumayan banyak ke kamar. Saran saya sih untuk peserta bootcamp yang akan datang, jangan bawa barang banyak-banyak kalau nggak mau gempor hehehe.

Setiap kamar terdiri dari dua tempat tidur yang terbalut rapi dengan sprei dan selimut serta dilengkapi dengan lemari dan sebuah meja kecil. Di antara dua kamar tersedia satu ruangan yang terdiri dari kamar mandi, toilet dan washtafel yang disusun terpisah dan digunakan bersama oleh penghuni dua kamar tersebut. Kamar-kamar ini tak terlalu luas dan sangat compact, hanya cukup untuk berisitirahat saja, namun pendingin udara dan fasilitas air hangat untuk mandi di dalam sangat membantu istirahat saya selama bootcamp terasa nyaman.

P_20160215_062434
Rutinitas tiap pagi, dengan safety gear lengkap bergegas ke mess hall. Latar belakang foto adalah tempat bootcampers tinggal selama bootcamp. Jangan lupa ID Card!!

Setiap pagi kami harus bergegas mandi dan bersiap diri. Acara sudah disusun sedemikian padat dan terjadwal. Disiplin terhadap waktu dan manajemen diri sangat diperlukan, satu saja keterlambatan dan keteledoran akan berdampak pada peserta lain dan acara selanjutnya. Ada saja sih kejadiannya, dari yang telat bangun dan terpaksa nggak mandi atau bis yang terpaksa harus putar arah dan kembali ke tempat semula untuk mencari barang yang konon kabarnya tertinggal namun ternyata terjatuh tak jauh dari tempat duduknya di dalam bis hehehe.

Safety First dan  ID Card
Sejak awal tiba di Visitor Centre, Admin 1 di hari pertama, peserta sudah diwanti-wanti sekali untuk memperhatikan keselamatan dan kelengkapan diri. ID card tak boleh lepas dari badan apalagi sampai hilang, pasti akan merepotkan tuan rumah untuk mengurusnya. Pemeriksaan ketat selalu dilakukan setiap rombongan keluar dan masuk restricted area. ID Card itu bagai kunci untuk bisa masuk dan keluar di berbagai area pertambangan yang kita kunjungi termasuk ruang makan. Bisa-bisa nggak makan lho kalau ID Card hilang.

P_20160215_081540
Ini nih barang sakti hehehe.

Kecuali di luar area Newmont dan di dalam town site, memakai kelengkapan keselamatan adalah wajib hukumnya. Safety shoes, vest, kacamata, dan helm adalah safety gear standard yang harus digunakan. Bahkan untuk di area proses tertentu, kita wajib menggunakan masker dan penutup telinga atau ear plug. Awalnya tak nyaman karena tak terbiasa, tapi lama-lama akan terbiasa. Nah, sangat disarankan tuh menggunakan kaos kaki tebal untuk mencegah lecet pada kaki.

Sempat terlintas dalam pikiran saya sebelum berangkat bahwa waktu sembilan hari di Batu Hijau itu bukanlah waktu yang sebentar. Tapi ternyata hari demi hari berlalu begitu cepat, hingga ketika saya harus berkemas untuk kembali pulang, saya sempat berseloroh dengan Ibu Intan yang menjadi room mate saya selama 8 malam, “beneran nih kita pulang besok, bu?” tanya saya sambil tersenyum. Rasanya baru kemarin kita bertemu, berkenalan dan menginjakkan kaki di kamar ini.

P_20160222_070643
Bunda Intan Rosmadewi, my roommate selama bootcamp. Ah, tiba-tiba kangen canda dan obrolan jelang tidur.

Hari-hari memang kami lalui dengan acara yang padat namun tak terburu-buru. Kami bisa berlama-lama di suatu tempat, mengeksplore ke segala arah dan mengajukan berbagai pertanyaan sampai semua rasa ingin tahu terjawab. Itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang saya sukai dalam program Sustainable Mining Bootcamp. Seingat saya hanya ada satu yang terasa terburu-buru yaitu saat presentasi di enviro, namun itu pun terbalas dengan leluasanya waktu yang diberikan pada kami untuk mengeksplore kegiatan enviro di lapangan.

Saya bahkan masih terbayang bagaimana sabarnya Pak Ari dan teman-teman menjawab seluruh pertanyaan peserta, sampai titik darah penghabisan deh pokoknya. Uhmmm, maksudnya sampai kami tak ada lagi pertanyaan alias sudah puas hehehe. Gimana nggak salut sama mereka yang mendampingi kami di lapangan, bayangkan ada 26 peserta yang memberondong dengan berbagai pertanyaan bahkan ada beberapa orang yang menanyakan hal yang sama hingga berulang-ulang. Dan mereka dengan sabar tetap menjawabnya, yang gemes malah saya hehehe.

IMG-20160221-WA0001
Gaya banget ya.. hahaha. Merekam, mendengar sambil mengambil gambar. Halaaah….

Konsep Mengambil dan Mengembalikan.
Dalam sebuah sesi sharing, seorang anak muda, putra asli Sumbawa menyampaikan satu kalimat yang saya suka. Dengan bahasa yang sederhana ia menyampaikan bahwa Newmont memang memanfaatkan kekayaan alam Sumbawa, namun Newmont juga mengembalikannya meski dalam bentuk lain. Saya pikir itu tak berlebihan. Terciptanya lapangan pekerjaan, terbukanya wilayah-wilayah yang terisolir, infrastruktur yang baik, sarana transportasi, perekonomian yang berkembang adalah kontribusi yang nyata yang dilakukan Newmont untuk daerah-daerah di lingkar tambang.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pak Arifin, penduduk asli Sumbawa yang sempat berbincang-bincang bersama kami saat bermalam di rumahnya. Beliau menceritakan bagaimana kondisi di Batu Hijau khususnya di Kecamatan Maluk sebelum PTNNT beroperasi di sana. Sebuah dusun terpencil, terisolir tanpa akses transportasi yang memadai. Kehidupan modern yang kami lihat saat ini tak lepas dari keberadaan Newmont yang membawa perubahan yang sangat signifikan.

IMG-20160224-WA0037
Berinteraksi dengan masyarakat sekitar di SMKN 1 Maluk

Tidak hanya itu, saat kami mengunjungi satu per satu lokasi program tanggung jawab sosial PTNNT di sekitar lingkar tambang, sangat terlihat bahwa begitu banyak bentuk tanggung jawab sosial yang diberikan PTNNT, dari membangun infrastruktur, memberikan modal atau jaminan pinjaman modal, berbagai pelatihan hingga pendampingan dan pemasaran. Tidak hanya di bidang usaha tapi juga kesehatan dan pendidikan. Begitu banyak fasilitas dan kemudahan yang diberikan justru membuat saya khawatir akan suatu hal. Cepat atau lambat, kegiatan tambang ini akan berakhir, dan cepat atau lambat mereka harus bisa mandiri meski tanpa keberadaan Newmont.

Proses Pengolahan Batuan Tambang
Secara teori, proses pengolahan batuan tambang yang mengandung mineral-mineral berharga sudah sering saya ajarkan di kampus. Secara kebetulan pula saya juga pernah mengunjungi salah satu tambang emas terbesar yang ada di Papua. Namun rasa penasaran tetap saja terbawa dan mendorong untuk bisa berada di Batu Hijau dan melihat pengolahan langsung di sana. Sejak dari batuan tersebut ditambang hingga diproses menjadi konsentrat logam berharga yaitu tembaga, perak dan emas.

IMG-20160215-WA0016
Open pit Batu HIjau. Dari sinilah semua batuan tambang berasal.

Di luaran sana, masih banyak sekali yang salah kaprah dengan produk yang dihasilkan PT Newmont Nusa Tenggara. Ada yang mengira yang di produksi adalah tembaga yang sudah dimurnikan bahkan ada yang menyangka bahwa produknya adalah emas batangan. Padahal yang diproduksi masih dalam bentuk konsentrat dengan kandungan tembaga yang masih bercampur dengan kandungan logam lainnya seperti besi, emas dan perak dalam jumlah yang sangat kecil.

Bisa dikatakan seluruh proses yang dilakukan untuk mengolah batuan tambang menjadi konsentrat ini menggunakan proses fisika. Kalaupun ada bahan kimia yang ditambahkan, seperti pada proses flotasi, bahan kimia yang digunakan hanyalah sebagai reagen yang tidak beracun dan berbahaya serta dalam jumlah yang sangat kecil. Bahan ini juga tidak menimbulkan reaksi kimia yang menghasilkan zat baru. Jadi sangat aman digunakan.

IMG-20160216-WA0002
Grinding Mill, tempat menggerus batuan tambang sebelum dipisahkan konsentratnya

Pengelolaan Lingkungan
Tailing atau lumpur sisa batuan tambang yang sudah diolah memang menjadi isu yang paling sering digelontorkan untuk menjadi santapan publik dan menggiring opini negatif soal kegiatan tambang, begitu juga dengan PTNNT. Namun saya melihat tak ada yang salah dalam penangan tailing ini. Lumpur sisa pengolahan batuan tambang ini telah memenuhi baku mutu yang diijinkan pemerintah untuk keluar dari areal pabrik dan ditempatkan di dalam palung laut yang dalamnya mencapai 3000 meter melalui pipa yang ditanam sedalam 125 meter di bawah laut.

Secara berkala area yang terkena dampak baik wilayah laut maupun daratan dan area reklamasi selalu dimonitor, dianalisis dan hasilnya dilaporkan kepada pemerintah. Sejauh ini tak ada pelanggaran yang dilakukan oleh PTNNT, bahkan hingga saat ini kinerja pengelolaan lingkungan di PTNNT telah mendapat predikat KLHK-Proper hijau sebanyak 6 kali dan biru sebanyak 5 kali, itu belum termasuk berbagai penghargaan yang diperoleh PTNNT dari Kementrian ESDM.

IMG-20160224-WA0057
Lelompatan di wilayah reklamasi East Dump sambil menikmati Elang yang hilir mudik

Upaya reklamasi sudah dilakukan tanpa harus menunggu kegiatan tambang selesai. Secara keseluruhan, wilayah yang sudah direklamasi hingga saat ini hampir mencapai 800 hektar. Saat kami melihat langsung di lapangan di sekitar east dump, vegetasi di sana sudah tumbuh tinggi dan lebat, dengan hewan-hewan endemik yang hidup bebas di sekitarnya. Di lokasi ini saya menikmati sekali banyak burung elang yang hilir mudik terbang di sekitar wilayah reklamasi.

Alam, kuliner dan pembelajaran.
Kunjungan ke suatu tempat tak lengkap bila tak menengok keindahan alam dan menikmati makanan khasnya. Di tulisan yang akan datang saya akan bercerita tentang warna biru yang selalu bikin saya betah memandang langit dan laut Sumbawa Barat. Tentang berpiring-piring pisang goreng yang dimakan dengan Sambal Tuhak yang masuk ke perut saya di Pantai Maluk. Tentang hangatnya pasir pantai Rantung yang menjadi alas saya rebah menikmati mentari yang turun ke peraduan bumi.

Kelak saya juga akan bercerita bagaimana saya menyerah pada sejuknya air di Air Terjun Perpas dan rasa rindu yang menemani perjalanan menuju ke sana. Tentang Rarit dan Sayur Sepat yang menjadi santapan khas favorit saya, juga tentang mimpi-mimpi anak sekolah dan kibar bendera di kaki bukit itu dan obrolan hangat menjelang senja.

IMG-20160221-WA0000
Perpas Water Fall… serasa yang punya

Semua bagi saya adalah pembelajaran. Sembilan hari yang luar biasa. Tak hanya belajar melihat kegiatan tambang dengan perspektif yang berbeda namun juga belajar tentang banyak hal. Disiplin, manajemen diri, dan belajar menjadi pemain kelompok yang baik adalah beberapa diantaranya. Bisa merasakan merasakan bagaimana kehidupan pekerja tambang dan mendapat jawaban atas segala pertanyaan dan kegelisahan seputar kegiatan tambang dan kehidupan masyarakat di lingkar tambang.

Seeing is believing. Tanpa hadir di Batu Hijau, pengalaman ini tak mungkin saya dapatkan. Melihat langsung adalah jawabannya. Sustainable mining bukan semata sebuah kegiatan tambang yang berkelanjutan namun juga pembangunan sumber daya manusianya.

IMG-20160215-WA0003
Sampai jumpa di Minahasa #ehGimana

Terimakasih Newmont Nusa Tenggara, terimakasih sudah memilih saya untuk menjadi keluarga Newmont Sustainable Mining Bootcamp. Tak ingin mengucapkan salam perpisahan meski kegiatan ini telah usai. Hanya ingin mengucapkan sampai jumpa lagi di lain waktu,

semoga bisa berjumpa lagi di Minahasa

me at sag

Photo : Koleksi pribadi, Newmont Nusa Tenggara dan para bootcampers

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Pentingnya Menjaga Kebersihan Area Kewanitaan Bagi Perempuan

Bagi perempuan seperti saya, urusan kebersihan organ kewanitaan menjadi urusan penting dalam kehidupan sehari-hari, terlebih ...

31 comments

  1. Avatar

    Keren nih Mbak Don. Detail tulisannya. Yang belum ikut jadi dapat gambaran lebih utuh
    Evi recently posted…Dunia Tambang Dengan Semangat TurismeMy Profile

  2. Avatar

    Setuju, Bu Donna. Bahwa meskipun pada dasarnya pertambangan itu mengambil sesuatu dari alam, kontribusi yang diberikan terhadap negara dan masyarakat juga tak sedikit. Yang penting pertambangan tetap dijalankan secara bijak dan taat aturan.

  3. Avatar

    kabarnya indutri tambang lagi lesu, tapi hebat ya newmont masih menggadneng para blogger untuk promosi dan edukasi secara langusng

  4. Avatar

    Semoga next bootcamp Newmont saya bisa jadi peserta. Soalnya lokasi tambang ini bagus banget.
    Huang recently posted…Malam Jumat Bersama Vivid F. Argarini dan Lenovo Vibe S1 Mengenai SelfiedenceMy Profile

  5. Avatar

    Pak Markus belum dimasukin bunda? Ini kenangan sangat berharga loh di Newmont hahahaha…

  6. Avatar

    Asyik banget kegiatannya Mbak Donna. Jadi pengin ikutan juga 😀
    Hairi Yanti recently posted…Tentang Mandai, si Kulit CempedakMy Profile

  7. Avatar

    Kegiatan berikutnya kapan ya kak ? (pengen ke sumbawa)

  8. Avatar

    Siip abis – abisan inigh reportasenya ; bisa jadi rujukan semua fihak. Salam kangen jangan lupa sisisr jika bepergian

  9. Avatar

    Reportase keren abis – abisan dan ada ambo mejeng disinan
    Jangan lupa bawa sisir jika berpergian jauh Bu Dos (muka bantal)

  10. Avatar

    tulisan yang renyah dan mudah dicerna oleh awam sekalipun.. terima kasih bu dosen.. 😀

  11. Avatar
    Intan Rosmadewi

    Citra Ibu Dosennya berasa sekali good pisan laa

  12. Avatar

    Kalo tailing di jadiin lulur menghaluskan kulit kayak nya bakal laku nggak yaaa????
    cumilebay recently posted…Yuk Yaa Yuk … Liat GERHANA di PalembangMy Profile

  13. Avatar

    Kalo tailing ini di jadikan masker wajah atau lulur buat tubuh, kira2 laku ngak ??? hahaha
    cumilebay.com recently posted…Nongkrong di Dapur bareng Komodo DragonMy Profile

  14. Avatar

    Saya gak mau comment kalo foto saya gak dimasukin. ^_^

  15. Avatar

    Malam ini lagi blowalking ke beberapa blog peserta, dan bikin kangen memang …

    Salam kangen dari Tangsel bu dosennnn — jd inget pas menyapa Mbak Donns pertama kali dengan sebutan ‘bu dosennn’

    😀 😀 😀
    Timothy W Pawiro recently posted…Mengenal dunia tambang melalui Newmont BootcampMy Profile

  16. Avatar

    Bu donnaaa…suka banget deh! Lengkap dan enak dibaca artikelnya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge