Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Media Sosial: Antara Nyata dan Maya

Media Sosial: Antara Nyata dan Maya

Menulis bukanlah kegiatan yang baru buat saya. Rasa-rasanya hidup saya tak pernah berhenti menulis. Jaman sekolah dulu, saya rajin menulis di buku harian, lalu jaman kuliah rajin menulis catatan kuliah sampai-sampai catatan saya menjadi catatan yang laris manis untuk di foto copy teman-teman kuliah yang mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Saat bekerja, rajin menulis modul dan materi mengajar buat mahasiswa saya, dan saat internet masuk dan sosial media pertama yaitu Friendster masuk, rajin pula saya menulis status di dunia maya tersebut.

Menulis dan Berbagi adalah Passion
Ditutupnya Multiply membawa berkah tersendiri buat saya. Merasa sayang dengan tulisan-tulisan yang pernah dibuat, dan tak mau kejadian tersebut berulang, maka saya pun membeli domain pribadi lalu memindahkan seluruh tulisan yang pernah saya buat ke www.donnaimelda.com. Tak lama dari situ, terpikir oleh saya untuk serius mengerjakan website tersebut dengan baik agar benar-benar bermanfaat dan menjadi rekam jejak untuk anak cucu saya kelak. Maka saya putuskan untuk serius mengerjakan dan serius pula mempelajari lebih dalam seluk beluk media online ini.

Mulailah saat itu saya bergerilya di dunia maya, mencari sebanyak mungkin informasi di mana saya bisa dapatkan pengetahuan dan ilmu tentang menulis. Saya tak segan jauh-jauh datang ke suatu workshop atau seminar, berkenalan dengan siapa pun yang saya temui sambil terus merajut jejaring. Bagi saya, selalu ada yang kita bisa pelajari dari seseorang. Tak harus melulu soal ilmu, saya juga belajar tentang semangat, sikap dan perilaku dari banyak orang. Alhamdulillah sampai saat ini saya masih setia untuk terus belajar dan menikmati prosesnya sambil pelan-pelan memetik hasil.

Bersedialah Bertumbuh dan Sabar dalam Berproses
Bulan September lalu, saya mendapat ilmu lagi dari sebuah acara yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan dan Tokopedia. Acaranya dikemas sangat menarik, bertempat di kantor Tokopedia yang unik di daerah Slipi. Acara ini menambah lagi kesadaran saya bahwa saat kita memutuskan untuk serius menekuni suatu bidang maka seriuslah untuk belajar dan melakukannya, karena dari situlah akan tercipta peluang-peluang baru untuk kita yang nantinya akan kita nikmati hasillnya termasuk benefit secara finanisial.

Dari acara Ngobrol Cantik, saya juga belajar bagaimana media sosial bisa bekerja untuk kita dengan mengoptimalkannya. Media sosial yang tadinya hanya digunakan saat dibutuhkan, bisa dioptimalkan menjadi sebuah kebiasaan baik entah itu untuk menyebarkan informasi atau berkomunikasi. Media sosial memang diciptakan untuk itu, untuk berkomunikasi, bersosialisasi di mana teknologi membuat jarak tak lagi menjadi penghalang. Selalu ada yang bisa kita bagikan di sosial media, bila bisa dimanfaatkan untuk menebarkan manfaat lalu kita sendiri juga mendapatkan timbal baliknya, mengapa tidak?

Karakter Media Sosial
Ada banyak sosial media yang bisa kita gunakan. Saya sendiri menggunakannya secara aktif untuk menyebar informasi tulisan saya di Google+ serta beberapa akun di media sosial yang saya punya yaitu: Facebook, Twitter, Instagram, dan Path. Untuk Periscope dan You Tube, masih jarang sekali saya gunakan karena belum pandai membuat video. Rasa-rasanya saya akan mulai belajar bikin video untuk dua akun sosial ini. Untuk mengoptimalkannya pun, kita harus tahu karakter masing-masing sosial media ini agar bisa bekerja dengan baik untuk kita. Setidadknya begitu yang saya lakukan untuk akun-akun media sosial saya.

Facebook misalnya, media sosial satu ini lebih kental sebagai jaringan pertemanan dengan platform yang memungkinkan kita untuk bisa mengunggah informasi, foto, video bahkan notes. Facebook memungkinkan kita menulis dengan banyak karakter dalam satu statusnya. Formatnya juga memungkinkan pengguna berinteraksi secara langsung di kolom comment, bahkan di setiap comment disediakan fasilitas reply masing-masing. Atmosfer Facebook terasa lebih akrab dan interaktif buat saya, tak heran kalau ini adalah media sosial favorit saya selain Instagram.

Twitter sebenarnya lebih merupakan merupakan jaringan informasi. Media sosial ini hanya menyediakan 140 karakter dalam satu kali tweet-nya namun kemampuannya menyebar informasi sangat cepat bahkan untuk informasi yang terbaru atau terkini. Tak heran jika Twitter sering digunakan untuk buzzing, menyebarkan informasi secara cepat dan masal yang oleh berbagai pihak digunakan untuk kampanye atau mempromosikan acara atau produknya.

Saya penikmat fotografi, sudah pasti Instagram adalah salah satu media sosial favorit saya. Di Instagram saya bisa berbicara atau menyampaikan sesuatu secara visual lewat foto atau gambar, terlebih saat berbagi pengalaman saya di seputar traveling. Deretan foto yang apik membuat saya betah berlama-lama menatap layar gawai. Beberapa di antaranya memberi ide untuk daerah tujuan perjalanan saya dan membuat saya tak pernah ingin berhenti berkelana.

Bagaimana dengan Path? Media sosial ini lebih pribadi sifatnya. Biasanya untuk berbagai hal-hal yang sifatnya tertutup atau hal-hal yang hanya ingin dibagikan pada orang-orang tertentu yang ada di jaringannya. Jaringannya hanya bisa menampung maksimal 500 orang saja dalam satu akun. Begitu juga saya, di Path saya lebih leluasa berekspresi dan mengeluarkan pendapat, karena saya yakin yang melihat dan membacanya adalah orang-orang terdekat yang kecil sekali kemungkinanya untuk salah persepsi dengan apa yang saya tulis. Saya tak suka memulai konflik.

Optimalkan Media Sosial
Dengan banyaknya peluang di media sosial saat ini, membawa pendekatan yang berbeda pada saya dalam menggunakan media sosial. Meski dari dulu saya memang bukan termasuk kelompok yang menggunakan sosial media untuk curahan hati nan galau atau mengkritisi orang lain atau pemerintah, Namun itu pun tak cukup, makin ke sini saya makin selektif soal berbagi. Saya hanya ingin lebih banyak berbagi hal-hal yang bermanfaat, yang informatif, membawa pencerahan dan menginspirasi orang lain. Urusan pribadi biarlah didiskusikan di ranah pribadi dengan lingkaran keluarga dan sahabat.

Bila dulu beberapa akun sosial media saya di-setting private only, kini semuanya terbuka untuk umum. Media sosial buat saya kini adalah etalase karya saya, buah pikir saya yang boleh dinikmati oleh semua orang untuk diambil manfaatnya. Media sosial adalah etalase bagi pihak ketiga yang ingin melihat profil, kegiatan, ketertarikan dan keseharian saya yang mungkin cocok bagi perusahaan atau pemegang merek untuk bekerja sama. Bagai sebuah portofolio yang bertumbuh setiap harinya. Buat saya proses ini sangat menyenangkan, duduk manis di depan layar laptop dan melihat di sosial media bahwa kita bertumbuh setiap harinya.

Banyak kejadian pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan uang dikarenakan oleh profil positif media sosial pribadi yang kita rawat. Bukan… ini bukan masalah pencitraan. Tapi sebuah upaya bahwa kita memang ingin menjadi pribadi yang lebih baik dengan melakukan dan berbagi hal-hal yang baik. Buat saya seharusnya dunia nyata dan dunia maya haruslah memiliki benang merah. Bila kita baik di dunia maya begitu juga di dunia nyata. Toh pekerjaan yang kita terima di dunia maya juga akan kita kerjakan secara nyata dan memberi dampak yang diharapkan nyata oleh semua pihak. Apalagi sebagai netizen, apa yang kita lakukan di dunia maya akan berdampak pada kehidupan kita di dunia nyata.

Tak percaya? Coba ingat-ingat lagi pengalaman tentang hal ini.
Ingin berbagi soal pengalaman antara dunia nyata dan dunia mayamu? Yuk berbagi di kolom komentar.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

[relationship] Jangan Lupa Check Hidung Anda

Saya punya tingkat sensitifitas yang cukup baik terhadap bau, mungkin ini bawaan genetik dari ibu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge