Lelaki Itu….

lebay ah…..

aku mengutuk diriku sendiri saat mematut wajah ku dimuka cermin jauh sebelum fajar merekah, mempersiapkan diri untuk perhelatan akbar dies natalis universitas jayabaya 7 oktober kemarin.

Pujian rani terhadap pakaian yang aku pakai, sedikit membuat ku tersenyum namun tak cukup mengusir gundah yang berkecamuk dalam benak.

Ah……aku merindukan moment tahunan yang selalu membuat dadaku bergetar dan membuat kuduk ku merinding….moment dimana barisan para pemimpin universitas dan jajarannya memasuki ruang dies natalis dan wisuda dalam sebuah prosesi.

Tapi apakah hari ini sama dengan tahun-tahun kemarin?

ah…kenapa jadi melow begini sih….

ada rasa yang teramat perih saat aku tidak mendapati wajah seorang bapak, yang selama sepuluh tahun aku menjadi pendamping wisudawan setiap dies natalis, selalu hadir dan kucari wajahnya dalam barisan prosesi…wajah yang selalu menebar senyum dan anggukan khas itu tidak ada….lalu kenapa sudut mata ku hangat….dan aku tak mampu melihat barisan itu selesai….kuhela nafas panjang…kualihkan pandanganku….aku kehilangan sosok itu….

prosesi selesai….aku duduk….semua menjadi tak ada….

-……cuma ada aku….. dan perih ku…

sebulan terakhir kami memang sudah bersiap melepas beliau purna tugas sebagai dekan yang telah memimpin fakultas lebih dari satu dekade. Melepas seorang pemimpin kami, guru kami, mitra kerja kami, ayah kami, sahabat kami…..yang dengan personality khas nya membuat fti sungguh kaya warna dan sarat karya…..guratan dedikasi beliau, komitmen, loyalitas dan terutama INTEGRITAS sampai saat ini menjadi bagian yang tak terbantahkan menjadi bukti bagaimana cara beliau memimpin fakultas ini. Berada di barisan terdepan, bersama-sama orang memiliki visi yang sama bertahan dan berjuang menghadapi krisis di fakultas sehingga hasil perjuangan bersama bisa dinikmati bersama pula untuk puluhan perut.

Namun..saat waktu itu tiba…..kenapa harus menghadirkan luka bagi kami……

ah….bagaimana mungkin aku tidak lebay

beliau lah yang meletakkan dasar setiap langkah yang aku lakukan selama bekerja.

Saat itu dalam sebuah kesempatan wawancara calon dosen tetap di tahun 1999, beliau lah orang pertama di institusi ini yang menitipkan kepercayaan atas dasar sikap atau attitude yang menurut beliau cukup buat aku menjadi bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi almamater ku sendiri. Dan itu yang aku pegang selama sepuluh tahun….menjadi afirmasi setiap aku melangkah, melaksanakan tugas dan tanggung jawab bahkan pengingat di saat aku lengah dan menyimpang. Bahwa sikap adalah diatas segalanya….ssesuatu hal kecil namun yang membawa perbedaan besar pada diri seseorang.

bagaimana mungkin aku tidak menghaturkan ribuan terimakasih buat beliau…

aku tumbuh selama sepuluh tahun menjadi pribadi yang insyaallah menjadi lebih baik melalui tugas2 yang beliau berikan…..tugas-tugas kecil yang bahkan mungkin bagi sebagian orang tak penting untuk dilakukan…tugas untuk dosen muda tak berpengalaman dan tak bergelar tinggi…..tugas yang …..

ah…. aku bahkan ingat seorang kolega yang mengatakan…..”kalo ada tugas2 seperti itu serahkan aja donna karena dia pasti mau meski tak ada honornya”.

Terimakasih atas ejekan itu…karena dari tugas seperti itu aku bisa belajar menulis, aku bisa belajar berbicara didepan umum, aku bisa belajar rendah hati melayani, aku bisa belajar tentang kerja keras, belajar tentang dedikasi, belajar tentang loyalitas, dan ribuan pelajaran lainnya….belajar untuk terus tumbuh dan mampu mengerjakan tugas-tugas yang lebih besar.

Bagaimana mungkin aku tidak mengatakan bahwa beliau lah yang berjasa membuat aku berada di titik ini….

sangat amat “mewah” buat seorang donna untuk menjadi pembantu beliau….membantu beliau mengurusi keuangan fakultas dan orang2 yang bekerja didalamnya….dan sungguh aku terproses didalamnya.

Terproses dengan irama kerja beliau yang sering bikin termehek-mehek, terproses dengan personality beliau yang koleris melankolis….semua harus dikerjakan secepat mungkin, sebaik mungkin, dengan cara beliau, dari sudut pandang orang lain, kepentingan orang lain terutama orang2 yang “jauh dari sumber kekuasaan dan uang”…..

beliau memang istimewa….berbicara dengan gaya lugas, kadang seenaknya, dengan bahasa yang kadang kita harus mengerutkan dahi untuk berpikir apa maksud beliau….bukan situasi yang nyaman kadangkala..namun kadang sangat menyenangkan pula sewaktu2…

ah….semua itu terasa maniiiiis sekali saat ini….

sungguh…aku akan kehilangan moment itu…

sekarang…aku tak keberatan bila dikatakan berlebihan…

kubiarkan mata ini basah…….aku biarkan tangis ini pecah saat beliau memintaku untuk menghubungi beliau lewat telepon….hanya untuk mengatakan sebuah hal kepada seorang donna yang gak penting ini…..

sebuah kalimat sederhana yang hanya mampu aku jawab melalui sms…

bahwa ribuan terimakasih pun rasanya tak cukup untuk beliau…terimakasih atas pembelajarannya…..terimakasih formulir studi lanjut nya pak….terimakasih atas telepon barusan…. yang menjadi energi buat saya untuk “menyelesaikan apa yang sudah saya mulai”….

bila nanti saatnya tiba….di 2010 saat tugas saya di jalur 2 berakhir dan 2011 yang jadi timetable saya meyelesaikan study lanjut…kedua moment itu saya dedikasikan sebesar-besarnya buat bapak….

Pemimpin saya, guru saya, bapak saya….

dekan kami FTI-UJ…..1995 – 2009

Ir. Darma Setiawan, M.Si.

cimanggis yang redup…

8 oktober 2009

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge