Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Kolam Pikiran, Sebuah Filosofi Sederhana….

Kolam Pikiran, Sebuah Filosofi Sederhana….

Adakah Dari Telaga Yang Jernih Mengalir Air Yang Keruh?

Teko bila diisi dengan kopi akan mengeluarkan kopi, bila diisi dengan teh akan mengeluarkan teh

 ~Pepatah~

Kalimat di atas menjadi pengantar refleksi diri hari ini. Bermula dari sebuah percakapan di grup. Saat itu sudah hampir larut malam ketika mencoba untuk menghadirkan kantuk dengan menggeser-geser layar sentuh telepon seluler yang saya pegang. Percakapan antara dua orang ini menarik perhatian saya karena diinisiasi sebuah topik bagus tentang sebuah kegiatan nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan. Keduanya mumpuni, dari yang mereka sampaikan saya bisa melihat setidaknya masing-masing dari mereka punya pengalaman banyak tentang kegiatan seperti ini. Tapi sayang kemudian diskusi itu berjalan tidak mulus dan tak seimbang.

Saya prihatin (baca: gemas) karena topik yang bagus dan dimulai dengan baik tidak bisa diimbangi dengan sikap yang baik saat perbedaan pandangan ada diantara keduanya. Tiba-tiba saja saya kehilangan selera mengikuti pembicaraan yang ternyata kemudian berhenti begitu saja karena salah satunya sudah malas melayani lawan bicara yang terlalu agresif. Salah satu dari mereka berbicara berdasarkan pengalaman positif yang dialaminya sementara lawan bicaranya ngotot mematahkan argumen tersebut berdasarkan pengalaman negatifnya. Bahkan sedemikian agresifnya sampai-sampai yang bersangkutan menggunakan pilihan kata yang tak enak dibaca. Itu yang membuat saya makin kehilangan selera. Bagaimanapun,menggunakan kata-kata cemoohan dalam sebuah diskusi serius menurut saya sangat tidak etis. Hingga dalam hati saya berpikir, baguslah diskusi ini dihentikan. Memang ada orang-orang yang bukan partner diskusi yang baik. Orang-orang dari tipe ini selalu merasa pendapatnya yang paling benar dan yang ia lakukan adalah yang paling hebat. Melayani ia yang tipe seperti ini hanya menghabiskan energi dengan menyediakan diri mendengar pendapat tanpa ia berusaha mendengar pendapat dari sisi yang berbeda.

Setiap dari kita pasti pernah mengalami peristiwa negatif, pernah mengalami hal yang tidak enak yang sering membuat kita putus asa. Tetapi bukan berarti hal yang kita alami pasti akan dialami orang lain dan bukan juga berarti tak ada hal positif yang bisa kita ambil bahkan dari hal yang paling negatif sekalipun. Kita tidak bisa memaksa orang untuk skeptis seperti kita hanya karena kita mengalami hal yang gak enak dalam suatu permasalahan. Kuncinya adalah seberapa besar kita mau membuka diri menerima kebenaran, berbesar hati menerima kenyataan bila ada orang lain yang bisa melakukan lebih baik dari kita dan ada yang harus diperbaiki dalam diri kita. Nah, untuk yang seperti ini tidak semua orang mau, tidak semua mau legawa dan belajar dari orang lain.

Saya sering geleng-geleng kepala bahwa terkadang manusia dewasa sering sekali berhenti bertumbuh, berhenti belajar. Apa yang sudah didapatnya membuat ia merasa sudah paling hebat. Padahal ketika ia sudah merasa hebat, dan berhenti belajar maka ia berhenti bertumbuh. Saya menganalogikan hal ini dengan air didalam kolam. Sebagaimana air dalam kolam begitu pula isi pikiran kita. Pikiran yang tertutup akan penuh dengan pola pikir yang lama dan tiada berkembang, tak dapat menerima informasi baru yang akhirnya membuat seseorang hanya sibuk dengan pikiran dan pandangannya sendiri. Padahal untuk menerima informasi baru, hanya bisa dilakukan dengan membuka diri dan berbagi, menyediakan ruang agar pikiran kita terbuka dan siapa menerima informasi baru. Bila seseorang tidak bersedia untuk itu maka bersiaplah untuk jalan ditempat alias berhenti bertumbuh.

Sebagaimana kolam yang sudah penuh berisi air tidak akan mampu menampung air dari luar kolam. Air kolam harus dialirkan secara berkala, mengeluarkan yang sudah ada didalam kolam lalu mengisi dengan air yang baru. Dengan demikian maka air kolam akan senantiasa jernih hingga tumbuhan serta ikan yang indah pun akan hidup didalamnya. Bayangkan bila kolam itu dibiarkan penuh dengan air yang ada tanpa pernah mengalir dan mendapat air baru. Lama kelamaan akan keruh dan akhirnya ikan dan tumbuhan yang ada akan mati. Yang tersisa hanya lah gulma yang tumbuh liar tiada bermanfaat.

Menutup tulisan ini ijinkan saya mengutip sebagian dari kata mutiara yang ditulis oleh Imam Syafii yang mengatakan bahwa: “aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang”

Pilihan ada ditangan kita….menjadi air yang mengalir atau tergenangMengisi teko kepala kita dengan pikiran yang positif atau negatif. Sepenuhnya hak setiap individu.

Selamat bertambah bijak..

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

2 comments

  1. Avatar

    Tangan yg menggenggam selamanya tidak akan bisa menerima pemberian orblain lagi.. gelas yg penuh selamanya tak akan bisa diisi lagi…
    Duh… semoga terhindar dr sikap demikian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge