kelahiran dan kematian

Tulisan ini dibuat tuk mengingatkan aku tentang makna kehidupan. Betapa kita sering sekali lalai bersyukur tuk semua yang telah kita dapatkan. Kita suka sekali mengeluh…..ada aja yang membuat kita betah ngumpul ama teman2 tuk sekedar berlomba2 memamerkan betapa banyak keluhan yang kita punya. Tentang suami, keluarga, mertua, teman kerja, boss, uang, kesehatan dan seribu satu keluhan lainnya dibanding membicarakan hal2 positif dalam hidup kita serta merancang hal positif tuk kehidupan kita di masa datang.

Kamis malam sehari sebelum hari kelahiran ku, saat pulang kerja mobil kami diarahkan melalui jalan yang lain di dalam kompleks oleh pihak keamanan karena jalan yang bisa kami lewati sedang didirikan tenda , kami melihat bendera kuning disana. Mendadak kami terkesima, siapa gerangan yang menghadap sang Khalik. Ternyata seorang ibu yang aku kenal sebagai pribadi yang santun dan masih segar bugar di pagi hari ini. Seorang istri yang kebetulan sedang ditinggal suami bertugas di luar kota, dengan seotang anak tunggal yang baru menjelang dewasa. Duh….begitu cepatnya beliau pergi….

Aku termenung…..Ya Tuhan bagaimana dengan aku. Apakah besok aku masih bisa berjumpa mentari pagi di hari ulangtahunku. Bukan kah sehat bugar dan muda bukan jaminan ajal tak menjemput. Dimanakah aku bila saat itu tiba, dan sedang apa aku, apakah anak2ku dan suamiku ada disampingku, dan berapa banyak pelayat yang datang tuk mendoakan ku. Dan apa yang mereka kenang dari aku…..kebajikan atau keburukan kah Ya Allah….

Tuhan…..bila esok aku masih Kau beri nafas kehidupan…. izin kan aku di hari kelahiran ku memohon tuk kau berikan rahmat tuk jadi lebih baik, berhenti mengeluh, senantiasa bersyukur dan berbuat kebajikan di masa yang akan datang dan mendapatkan kematian yang menjadi akhir yang baik……amin.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge