Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Karena Bima Terlalu Indah Untuk Sekedar Singgah

Karena Bima Terlalu Indah Untuk Sekedar Singgah

Pernahkah kamu merasa terlalu singkat berada di suatu tempat dan rindu begitu cepat menyergap sesaat setelah kamu meninggalkan tempat tersebut. Saya baru saja merasakannya. Tiga hari berada di salah satu kota yang berada di Nusa Tenggara Barat ini terasa begitu singkat. Bagai dahaga yang belum tuntas, kami terpaksa meninggalkan Bima begitu cepat, membawa begitu banyak rasa yang belum terpuaskan. Bima memang terlalu indah untuk sekedar singgah.

  • Review 
  • Gallery 
 Begitulah kesan yang saya bawa pulang dari Bima, singkat tapi sangat mengesankan. Tanggal 31 Juli 2015 yang lalu, lewat undangan dari Fadlun Arifin –seorang teman blogger– saya dan teman perjalanan saya Evi Indrawanto bertolak dari Jakarta menuju Bima untuk bergabung bersama tujuh orang pejalan lainnya di sana. Dalam rencana, kami bersembilan akan berkeliling Kota Bima bersama teman-teman yang tinggal di Bima dalam rangka menyambut Festival Sangiang Api di kota tersebut. Di sana sudah ada Pak Alan Malingi, Fahru Rizki dan kawan-kawan yang memfasilitasi kami selama tiga hari berada di Bima.

Petak-petak tambak garam, begitu harmoni berdampingan dengan laut dan gugusan pulau
Petak-petak tambak garam, begitu harmoni berdampingan dengan laut dan gugusan pulau
Selamat datang di Bima
Selamat datang di Bima

Bima yang eksotis itu sudah terasa sesaat sebelum pesawat kecil berjenis ATR 72-500 yang membawa kami mendarat. Kontur daratan yang berbukit gersang bak savana sudah terlihat dari kejauhan. Lautan yang mengelilingi Nusa Tenggara Barat di sekitar Bima pun terlihat cantik dari jendela pesawat. Permukaan petak-petak tambak garam berkilau ditimpa kemilau mentari. Saya pun menggumam gembira membayangkan sebentar lagi saya akan menjejakkan kaki di sana.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan dari pondok pandang Pantai Ale

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kegembiraan saya semakin bertambah ketika dalam perjalanan dari Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin menuju pusat kota Bima. Sepanjang perjalanan kami disuguhi bentang alam yang luar biasa. Kiri kanan jalan dihiasi bukit-bukit dengan tumbuhan yang berwarna kekuningan dengan dedaun yang terlihat meranggas. Namun justru itu yang membuat Bima semakin eksotis karena berpadu dengan permukaan air laut yang warnanya senada dengan biru langit yang cerah. Begitu juga dalam perjalanan dari Bima ke Sangiang, tebing, bukit, pantai dan lautan adalah pemandangan yang menjadi teman kami sepanjang perjalanan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Meski cuaca terasa terik di Bima dan sekitarnya, namun angin sejuk berhembus semilir membelai kulit. Bila siang hari, suhu udara di Bima terasa cukup panas namun pada malam hari terutama menjelang dini hari, suhu udara justru terasa sangat dingin. Saat matahari mulai bergulir ke arah barat, beberapa penduduk lokal terlihat menuntun kuda pacuan mereka ke laut yang sedang surut. Sambil melatih kudanya, warga lokal memang selalu memandikan kuda mereka di laut, agar kuat dan larinya kencang kata mereka.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bicara tentang cita rasa lokal, saya menangkap bahwa asam dan asin mendominasi kuliner di Bima. Tak heran ketika saya dan teman-teman menyempatkan diri berkunjung ke pasar tradisional, saya banyak menemukan penjual yang menjajakan buah asam yang sudah dikupas. Bahkan sambal yang mereka sajikan dibuat dengan sangat simpel dan praktis. Bawang merah dan cabe hanya diiris-iris dengan menggunakan pisau dapur. Bisa juga ditambahkan daun kemangi dan irisan tomat. Sebelum disantap, lalapan daun Kemangi dan irisan tomat diremas-remas terlebih dahulu dengan garam lalu dikucuri air jeruk nipis. Hmmm, nikmat sekali…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Asam Bima yang terkenal itu
Asam Bima yang terkenal itu
Komponen Sayur bening ala Bima,
Komponen Sayur bening ala Bima,

Perjalanan menikmati pemandangan dan kuliner lokal tak lengkap bila hari tak ditutup dengan menyaksikan matahari yang perlahan menghilang di horison. Banyak spot menarik yang bisa dijadikan tempat untuk menikmati sunses di sore hari. Meski awan selalu mendampingi mentari saat turun dan menghilang, namun semburatnya tetap memberikan kemewahan buat kita yang merasakannya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tak percaya, yuuuk aku temani kamu ke Bima…

View Gallery

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

[relationship] Jangan Lupa Check Hidung Anda

Saya punya tingkat sensitifitas yang cukup baik terhadap bau, mungkin ini bawaan genetik dari ibu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge