Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Its time to take your interest seriously

Its time to take your interest seriously

Udara di sekitar Ubud mulai hangat, matahari perlahan meninggi menyinari hamparan tanaman padi yang bulirnya mulai menguning dihadapanku. Aku masih saja berbaring santai di bale-bale beralaskan kasur empuk di sebuah villa menikmati buku yang sudah hitungan bulanan tak beranjak dari tas ranselku kemana pun aku pergi, bahkan ikut menemaniku terbang berlibur menjauh dari Jakarta sampai ke Bali jelang akhir tahun 2012 ini . Rasanya tak ingin meninggalkan buku ini dirumah, buku ini istimewa, isinya seolah tak kunjung selesai ku baca. Setiap berpindah ke halaman berikutnya, aku acapkali kembali sejenak ke halaman sebelumnya, sekedar untuk memastikan bahwa setiap kata yang kubaca telah kupahami benar isinya dan merupakan satu jalinan benang yang tak boleh terputus. Buku yang Rene Suhardono tulis dengan sangat apik ini seolah bicara tentang aku, bicara tentang kegelisahanku. Topik apa lagi yang lebih menarik di muka bumi ini selain bicara tentang diri sendiri…bukan kah begitu? Buku ini bertajuk ”Your Job is not Your Career”. Menarik bukan?

Ada beberapa bagian yang mencuri perhatianku, kadang mencubit hatiku, cekit-cekit rasanya. Di lain kesempatan untaian kata-kata seperti hujan yang menggantikan terik siang hari, bikin adem. Tapi tak jarang pula kalimatnya menampar keras pipiku, seolah berkata…wake up, donna….move on. Its time to take your interest seriously.

Tiga hal utama yang saya catat merupakan inti dari buku ini, adalah passion, purpose dan value. Bagian terlama yang pertama-tama harus saya pahami adalah passion, hingga ketika ini terlampaui saya lebih mudah memahami apa bagian berikutnya yaitu memahami apa yang menjadi tujuan hidup dan nilai diri. Sulit buat saya untuk mendefinisikan apa itu passion, bahkan setelah saya selesai membaca pun saya masih berhadapan dengan keterbatasan saya menggambarkan apa yang Rene bilang “produk hati” tersebut. Ya…rasa memang susah untuk didefinisikan.

Tiga hari berhenti sejenak dari rutinitas dan carut marut Jakarta, tanpa dering telepon, sms dan bbm soal kerjaan memberikan saya kesempatan untuk berdialog mesra dengan hati, menelaah perlahan dan tenang satu persatu aktivitas saya selama tiga belas tahun terakhir. Berani jujur menyampaikan pada diri sendiri aktivitas apa saja yang membuat saya nyaman dan apa-apa saja yang membuat saya tidak nyaman dalam rangka menemukan passion yang sejatinya sudah tertanam dalam diri saya, karena aktivitas apa pun yang membuat diri merasa asyik, seru dan kuat adalah petunjuk shahih dan mudah atas passion, termasuk menentukan objek apa yang kita kagumi pada aktivitas tersebut.

Alhamdulillah, saya seperti menemukan sesuatu yang hilang dalam diri saya, juga menemukan sesuatu yang tidak saya sadari sudah ada didiri saya sebelumnya. Jelas tetap sulit mendefinisikan rasa, tapi saya menemukan beberapa kata yg bisa menggambarkan secara sederhana, seperti; sharing, communication, capturing moment, writing, traveling, education. Tapi saya harus jujur bahwa ternyata “Chemical Engineering” bukanlah objek yang terlalu saya kagumi dan tak bisa membuat saya nyaman sepenuhnya dalam aktivitas didalamnya. Saya lebih tergila2 dengan hal yang akhir-akhir ini membuat saya dahaga kronis dan tak berhenti mereguk informasi demi informasi tentang dunia penulisan, anak-anak dan pendidikan karakter.

Your Job is not Your Career, saya setuju dengan pernyataan itu dan saya bersyukur bahwa apa yang saya kerjakan dalam kehidupan profesional sejak tahun 1999 merupakan career itu sendiri, bergerak dan melaju diatas passion yang saya miliki. Saya bekerja didunia pendidikan, bersentuhan dengan banyak orang, punya panggung tempat saya sharing di kelas bersama mahasiswa-mahasiswa saya, juga punya banyak kesempatan menciptakan banyak momen didalamnya yang sampai saat ini selalu manis untuk dikenang, dan saya juga secara tak sadar tidak memilih objek mengajar yang merupakan jantung cabang utama ilmu teknik kimia meski karena hal itu saya kemudian mendapat julukan dosen sastra kimia (saya senyum saat menulis kalimat ini). Saya menggunakan gambar atau photo dan tulisan untuk berbagi selain dengan berbincang langsung, baik atas apa yang saya baca, yang saya lihat, yang saya dengar disekitar saya maupun hasil dari beberapa perjalanan yang saya lakukan. Menurut saya…ini sungguh menyenangkan.

Memahami passion membuat langkah saya kedepan lebih mantap, tegas dan terarah. Namun tantangan terbesar saya saat ini adalah bagaimana cara pandang saya terhadap pekerjaan dan karier saya. Dengan jujur pula saya harus mengatakan bahwa selama ini refleksi karier saya masih berupa rupiah yang masuk ke kantong saya melalui jabatan yang saya pegang. Sehingga saya merasa tertampar saat menemukan kalimat, “your job should never define you”, bahwa jabatan, pangkat, gelar akademis (yang sangat diagung-agungkan didunia kerja saya), hanyalah atribut-atribut sementara. Pekerjaan adalah milik perusahaan, bukan milik kita. You may have attachments to your job but it is not and will never be yours (Rene, 2012) #plak tertampar.

Saya masih terdiam saat saya harus menjawab pertanyaan ini, I happy here? Will I be to fulfillment my dreams? What have I contributed to my surroundings, the society, and the universe? ….*terhenyak, hening….

Saya tutup buku bersampul hitam ini, bukan karena saya telah usai membacanya. Saya perlu berdialog lagi dengan suara hati saya. Mencoba menjawab pertanyaan beranikah saya melanjutkan pekerjaan dan karir saya diatas passion yang saya miliki dengan membelokkan kemudi kearah objek yang baru, dengan menetapkan misi yang tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tapi jauh lebih besar dari itu, ……untuk Indonesia.(perlu keberanian luar biasa saat menulis “Untuk Indonesia”)

Rene menulis, “menjalani passion mungkin tidak mendatangkan manfaat ekonomi secara instant, namun akan membuka pintu menuju menuju hidup yang tidak hanya diwarnai kepentingan ekonomi. A great life!!”

Semoga Tuhan merestui….

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge