Ini Soal Pilihan Hidup

Hap hap hap….aku melangkah ringan dengan hati senang, berjalan menuju peron stasiun Pondok Cina bersama gerimis yang awet menemani pagi sejak aku membuka mata. Tak ada masalah dengan hujan, kunikmati sebagai anugerah dari Nya yang Maha Memberi. Dengan amunisi lengkap didalam ransel aku siap menempuh perjalanan menuju Duren Tiga, ada payung, sarapan ringan, air mineral dan buku bacaan, aku siap memasuki gerbong Commuter Line yang akan membawaku berkumpul dan belajar bersama teman2 baru yang memiliki kesamaan…suka menulis dan ingin belajar bersama hari ini.

Mungkin karena hari-hariku didominasi dengan rutinitas rumah dan kampus yang berjarak tempuh pendek, maka setiap perjalanan diluar urusan rumah dan kampus apalagi dengan jarak dan waktu tempuh yang cukup panjang, ke tempat yang aku belum pernah datangi dan menggunakan transportasi masal sendirian pula, aku seperti menjelma menjadi sosok lain yang berbeda. Saat-saat seperti ini rasanya seperti seorang turis di kotaku sendiri. Berjalan ringan dengan ransel di pundak, menikmati semua yang jarang dan belum tentu aku bisa lihat setiap hari sepanjang perjalanan. Sesekali bertanya kepada orang yang aku temui dijalan untuk memastikan arah atau kendaraan umum yang akan aku naiki benar menuju tempat yang aku tuju. Jadi kalo satu dua orang yang belum lama mengenalku bertanya “kok naik angkot?” seolah aneh seorang donna tanpa her Red Beauty (julukan buat city car kesayanganku), pasti dia belum tau cara nikmat naik kendaraan umum. Hehehe.

Aku mulai menikmati kegiatan mencari banyak informasi dimana aku bisa berkumpul dan belajar menulis, belajar tentang photography, belajar tentang perencana keuangan dan hal-hal lain selain teknik kimia, objek yang lekat dan sedemikan lekat selama lebih dari 20 tahun hingga hampir identik dengan diri. Aku seperti menemukan kunci memasuki pintu sebuah dunia baru dan asyik membuka satu persatu jendela dunia yang jumlahnya banyak sekali. Membuka dengan penuh antusias dan menikmati kekaguman atas pemandangan luas dan indah yang tersaji setelah jendela terbuka lalu melahirkan hasrat baru untuk melihat lebih jauh, terus begitu sehingga tanpa terasa aku sudah menggunakan sedemikian banyak waktu luangku didalamnya.

Seperti hari ini, aku seperti melihat dunia baru yang begitu heterogen. Aku bertemu dengan pria dan wanita yang begitu beragam umur, profesi dan latar belakang. Bayangkan…aku berkenalan dengan dua wanita berumur lebih dari 60 tahun yang masih ingin belajar menulis dengan begitu semangatnya, tapi aku juga berkenalan dengan anak muda yang masih kuliah dengan tujuan yang sama. Ada pula yang sudah sering memenangkan lomba menulis bahkan sudah dikontrak sebuah penerbit untuk menulis sebuah novel dan ada yang memang sadar passion atau sekedar ingin tau dunia menulis lebih jauh.

Belum lagi dilihat dari latar belakang kami yang berkumpul disini, tak ada satu pun yang sama persis, ada karyawan, mahasiswa, ibu rumah tangga, internet marketer, bahkan pak polisi. Perbedaan yang begitu beragam justru membuat kami asyik ngobrolsatu dengan yang lain seolah kami sudah pernah berjumpa sebelumnya, kami asyik sekali berbagi rasa berbagi berbagi cerita dalam suasana santai dan penuh tawa, tapi begitu serius menyimak saat mendengarkan materi belajar dari Pak Jonru yang pada hari itu berkenan membagi ilmunya kepada kami. Thanks banget pak.

Apa yang aku cari disini, apa yang mereka cari, apa yang kami cari? Meski tujuannya sama untuk belajar menulis tapi sajauh mana tulisan itu masuk dalam kehidupan kami tentu saja berbeda. Satu hal yang aku catat dengan huruf besar dan garis bawahi adalah satu kalimat Pak Jonru, sebuah jawaban pertanyaan yang selalu membuat saya gelisah….apa betul saya bisa menulis dan apakah benar saya bisa jadi penulis yang hebat? Banyaknya orang yang mengatakan saya memiliki bakat menulis tak jua menggerakkan tubuh dan pikir saya untuk bisa menghasilkan tulisan dengan kuantitas dan kualitas yang bertambah tahun ke tahun. Apalagi kalo melihat karya-karya penulis yang sudah menerbitkan banyak buku dan terkenal di seantero negeri ini. Jelas, saya minder habis. Saya hanya menulis mengikuti mood dan kata hati, kalo lagi pengen nulis ya nulis, kalo lagi males ya gak nulis dan celakanya lebih banyak malas daripada rajinnya. Ternyata jawabannya singkat jelas padat menohok telak….”ini bukan sekedar bakat, ini masalah pilihan hidup”. #jleb. Lha gimana mau jadi penulis hebat? Seberapa besarnya bakatmu, donna kalo gak memilih hidup sebagai penulis ya gak akan pernah jauh perjalananmu.

Lalu saya flashback ke belakang. Apakah saya punya bakat di bidang Teknik Kimia, apakah saya punya bakat jadi dosen? Saya pikir tidak. Saya termasuk orang yang salah jurusan sejak SMA, harusnya saya berani mengambil jurusan sosial bukan eksakta yang menurut seorang Donna yang saat itu berumur belasan terdengar lebih bergengsi. Demi gengsi saya masuk jurusan biologi, jurusan yg menurut saya jurusan “tengah-tengah”. Lalu salah lagi saat memilih jurusan di jenjang pendidikan tinggi, kok kulian malah ngambil Teknik Kimia yang makin njlelimet dan setiap ujian bikin mules perut. Dan kesalahan terakhir adalah kita saya punya kesempatan untuk ngambil “stream” manajemen teknologi saat menempuh pendidikan pasca sarjana, saya masih saja memaksa diri untuk mengambil “stream” teknologi proses hanya karena temen2 se-gang saya gak ada yang ngambil manajemen..cemen banget khan.

Tapi dari semua kesalahan saya tersebut, alhamdulillah tak satu pun menjadikan saya orang yang gagal paham, gagal memilih, meski pada setiap tingkatnya makin terengah-engah saat menjalaninya. Bukan karena bakat khan? Tapi karena saya sudah memutuskan, dan memilih Teknik Kimia dan dosen sebagai jalan hidup saya. Saya bertanggungjawab dengan pilihan saya dan saya bersedia menjalani proses yang gak gampang, menuntut keuletan lebih dibanding mereka yang memang punya bakat dibidang ini. Saya mau menginvestasikan waktu, uang dan tenaga untuk dunia yang saya pilih dan kemudian saya bagikan pada mahasiswa dan institusi yang membayar saya.

Jadi kembali ke soal bakat dan menulis, saya mulai mencubit2 hati saya menuntut jawaban, apakah arti menulis buat saya, bakat semata atau pilihan hidup. Terlebih ketika saya menyadari dan menemukan ada objek2 yang begitu luas yang menarik dan saya kagumi yang bisa saya bagikan, bermanfaat dan menyentuh kehidupan orang banyak melalui tulisan. Apakah saya bergeming?

Saya akhiri tulisan ini dengan kutipan Thomas Wolfe, seorang penulis Amerika di buku nya pak Jonru yang saya dapatkan secara “free” di Kopdar dan workshop belajar menulis kemarin.

“Jika seseorang punya bakat dan tidak memanfaatkannya, maka dia gagal. Jika dia punya bakat dan hanya memanfaatkan setengahnya, maka dia setengah gagal. Bila dia punya bakat lalu belajar memanfaatkannya secara maksimal, maka dia akan sukses luar biasa..” (Thomas Wolfe).

Buat saya…sukses ukurannya sederhana, bukan seberapa banyak uang yang saya dapat atau seberapa harta yang berhasil saya kumpulkan tapi seberapa banyak kehidupan orang lain yang mampu saya sentuh melalui tulisan saya…

Menulis sudah menjadi pilihan hidup saya….sejak hari ini.

Duren Tiga, 3 November 2012

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

2 comments

  1. Avatar

    “Menulis sudah menjadi pilihan hidup saya”.

    Pengen rasanya ngucapin kalimat di atas dgn penuh kemantapan dan bertanggung jawab penuh atas ucapan tsb, hehe…

    Aku baru ngeh kalo aku ‘bisa nulis’ sekitar th 2005. Suka senyum2 sendiri kalo inget dulu waktu SD. Frase “pada suatu hari” rasanya begitu kuat memaku otak sehingga frase itu harus ada di awal setiap karangan.

    Sayangnya, ‘bisa nulis’nya aku itu belum ter-manage dgn baik. Masih lebih banyak mandeknya dibanding jalannya. Kalopun jalan, msh belum terarah ke suatu arah yg jelas. Mungkin karena aku blm bisa mengintegrasikan ‘bisa nulis’ itu dgn hal-hal lain.

    🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge