Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Gak Semua Pria itu “Lelaki”

Gak Semua Pria itu “Lelaki”

Kertas yang baru saja keluar dari mesin ditangan tertera angka 28, itu artinya hanya empat antrian sebelum saya dilayani oleh customer service di salah satu layanan smartphone di salah satu mall di terkemuka Jakarta Timur. Tak banyak memang, hanya empat antrian. Namun saya tak berharap banyak akan dapat dilayani secepat mungkin. Pemandangan disekitar saya memberi tanda bahwa saya harus banyak bersabar kali ini. Saya tersenyum sinis, 2-3 jam menanti dengan kepastian 90% urusan saya akan beres, tak masalah toh ini hanya soal perbaikan alat komunikasi. Banyak penantian lain dalam hidup saya yang probabilitas berhasilnya jauh di bawah angka 50%, memerlukan waktu bukan hanya 2-3 jam tapi bisa 2-3 tahun atau bahkan 20-30 tahun lagi bila umur saya panjang. Keluhku tak lagi untuk urusan ecek-ecek seperti ini.

Ruang tunggu di desain sangat nyaman, dengan pendingin udara yang sejuk, layar televisi dengan program dari tv cable dan sofa empuk. Saya pun mengambil tempat disofa yang terletak di pojok ruangan, sofa yang ukurannya lebih panjang dari sofa lain disisinya yang dirancang untuk selonjor. Saya tak ambil pusing dengan orang disekitar saya, dengan desain demikian saya percaya diri untuk tdak sungkan duduk memanjangkan kaki saya senyaman mungkin, membuka netbook mungil saya dan mulai menulis.

Batin saya tergelitik untuk menulis tentang lelaki, terdorong rasa yang timbul saat saya membaca tentang hal yang melalui akun twitter saya. Ustadz Feliz Siauw, demikian nama pemilik akun tersebut. Beliau hanya menulis beberapa baris kalimat seperti ini.

1. Lelaki yang menggalau karena urusan dunia | apa yang mau diharap untuk urusan akhiratnya?
2. Lelaki yang tiada bisa disandarkan lisannya | bagaimana bisa jadi sandaran wanita?
3. Lelaki yang ringan tangannya, kasar lisannya | bagaimana ia bisa membina istri dan mendidik anak-anaknya?
4. Lelaki yang hanya bisa mencintai tanpa menikahi | ialah tak tahu diri karena mau menikmati tanpa membeli.
5. Lelaki yang membaca Al-Quran saja tak lurus | bagaimana membimbing ke jalan yang lurus?
6. Lelaki yang dengan agama saja asing | bagaimana bisa bahagiakan istri disamping?
7. Lelaki yang mendidik wanita dengan amal haram | jangan heran masa depannya juga akan kelam.

Sejujurnya saya ngeri saat membaca satu persatu kalimat diatas, batin saya bertanya, Masih banyak gak sih pria-pria seperti ini didunia yang sudah tua ini? Apakah lelaki-lelaki disekitar saya ini masih banyak yang masih masuk katagori diatas? Saya mulai menyangsikan jawaban saya sendiri. Saya sangsi bisa mendapatkan jumlahnya meski hanya sebanyak jumlah jari yang ada ditangan saya untuk lelaki dengan katagori diatas.

Mungkin untuk point pertama, pria-pria seumur saya sudah sebagian besar melewati fase ini. Jarang saya menemui yang masih galau, kebanyakan dari mereka sudah masuk fase mapan, sibuk dengan karir dan pekerjaannya dan sudah mulai enjoy dengan kegiatan2 hobi diluar pekerjaannya, entah itu sebagai pribadi maupun bersama keluarga. Tapi wallahualam soal lisan, mungkin tak lagi membual seperti pria2 muda yang ingin diakui eksistensinya tapi lisan untuk urusan uang, bisnis dan perselingkuhan, hmmm banyak khan yang tipu-tipu dikit.

Lelaki yang ringan tangan dan kasar lisannya, juga saya jarang sih nemu atau dengar langsung, entahlah kalau jenis lelaki ini sedang marah, atau memang hidup dibawah tekanan, entah itu pekerjaan, ekonomi atau masalah keluarga. Tapi menurut pandangan saya sebagai wanita sebenarnya kekerasan dalam rumah tangga itu tidak hanya masalah kekerasan fisik dan verbal. Membiarkan wanita hidup bersama dalam rumah tangga yang tiada kasih sayang didalamnya, tekanan hidup yang tinggi secara mental maupun materi, dan ketika seorang wanita merasa terpaksa harus melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak ia inginkan dan ia tidak bahagia karenanya, itu adalah bentuk kekerasan yang sesungguhnya, karena mental nya lah yang terluka, tergerus dari masa ke masa. Mudah saja kok mendeteksinya, ingat2 kapan pasangan anda tertawa lepas penuh bahagia bersama anda. Perempuan mungkin diam, tapi tangkinya kasih sayangnya kosong. Bagai mesin yang dipaksa terus berputar tanpa bahan bakar. Hanya menunggu waktu. Ah…alih2 membina istri dan mendidik anak-anaknya, mendidik dirinya sendiri untuk layak disebut pemimpin keluarga saja belum bisa.

Bicara point ke empat, saya tersenyum miris. Mungkin ustdaz Felix seperti sedang menyoroti lelaki single yang tak kunjung jua menikah dan memilih untuk berlama-lama berpacaran. Atau bisa jadi ustadz menyoroti mereka yang masih muda-muda yang masih jauh dari usia menikah, asyik berpacaran. Kata2 diatas sungguh tajam memang dan keliatan terlalu lugas. Tapi beliau pasti tak sembarang bicara, fenomena itu cermin kehidupan kita saat ini. Mencintai pasangannya tapi mencintai juga pasangan orang lain, menikmati kehidupan perkawinan dalam pernikahan tapi juga menikmati kehidupan perkawinan tanpa pernikahan. Yang gak punya uang tetap bisa menikmati yang seperti ini atas dasar suka sama suka, yang punya motif ekonomi pun tak kalah banyak. Ada yang berkelimpahan dan ada yang membutuhkan, simbiosis mutualisme. Bukannya gak inget Tuhan, seorang pendosa pun bahkan masih menyebut nama Tuhannya saat maksiat. Apalagi dikaitkan dengan uang yang digunakan, wah saya sebulan terakhir ini masih geleng2 kepala terus dengan harta nya Joko Susilo, Fathanah, Eyang Subur dan para koruptor2 lain dengan sederet nama wanita didalamnya, Ah sudahlah….

Terakhir…. didunia yang sekuler ini, kita gak akan pernah menemukan titik temu seperti di acara perkumpulan para lawyer negeri ini yang berdebat setiap minggu dengan seru di salah satu televisi swasta. Hingga sepertinya agama tak lagi menjadi the way of life dan jawaban semua permasalahan. Agama sudah sedemikian absurdnya untuk dipahami. Agama dan kehidupan menjadi dua hal yang terpisahkan.

Sungguh saya tak mengeneralisir semua laki-laki, sejak awal saya menggunakan kata sebagian atau banyak lelaki sebagai ungkapan bahwa masih ada sebagian lain yang “on the right track”. Tapi pertanyaan saya seperti di awal tulisan, yang ada itu berapa banyak?

Memang…..tak semua pria itu “lelaki”
bahkan seorang superman sekalipun
Wallahualam bi shawab

Cibubur Junction
15 Mei 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

2 comments

  1. Avatar

    Mak jleebbbbbb….

  2. donna imelda

    gue yg gak laki aja baca kultwit nya serasa si tujesh tujesh, noe….*ampun Gusti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge