Home » Review and Event » Di Balik Bening Sebotol Air Kemasan Dari Desa Gekbrong Cianjur

Di Balik Bening Sebotol Air Kemasan Dari Desa Gekbrong Cianjur

Seperti gelas dengan tutupnya, keinginan saya untuk bisa melihat proses pengolahan air kemasan di pabriknya langsung akhirnya terlaksana juga. Keinginan yang sudah lama ada ini akhirnya terjawab, bersama beberapa blogger yang tergabung dalam Idblognetwork berangkatlah kami ke Cianjur pada hari Sabtu, 17 Oktober 2015 kemarin. Keberangkatan yang mundur dari jadwal semula dan situasi jalur puncak pada yang padat pada akhir pekan sehingga harus mengalami buka tutup jalur membuat perjalanan terasa panjang dan lama.

Lebih dari tiga jam kami menempuh perjalanan dari Jakarta untuk tiba di Desa Gekbrong, Kabupaten Cianjur tempat di mana P.T. Tirta Investama Plant Cianjur berdiri. Dengan brand image yang sudah identik dengan air kemasan,  pabrik dengan produk bermerek Aqua ini berdiri sejak tahun 2012 di atas lahan seluas 12,15 hektar dan memilki total karyawan sejumlah 388 orang. Plant Cianjur yang terletak di kaki Gunung Gede dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ini adalah pabrik ke-13 dari 18 pabrik yang ada di Indonesia.

Usianya Plant Cianjur memang relatif masih muda, namun Aqua Grup ini sendiri sudah beroperasi sejak puluhan tahun lalu. Selain itu, Plant Cianjur ini justru adalah plant yang memiliki kapasitas terbesar dibanding plant-plant lain yang bernaung di bawah Aqua Grup. Bahkan, pabrik ini juga merupakan pabrik yang memiliki kecepatan produksi paling tinggi di Aqua Grup yaitu 40.000 bhp (bottle per hour) untuk kemasan 330 ml dan 600 ml. Dengan demikian, kita bisa membayangkan berapa botol yang diproduksi pabrik yang beroperasi penuh selama 24 jam sehari ini. Dalam setahun berapa jumlahnya? Fantatis bukan?

Saya yakin beberapa di antara kita kemudian akan bertanya-tanya melihat angka tersebut. Bagaimana bila airnya habis ya? Lalu bagaimana dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya? Bisa-bisa lingkungan akan rusak dan masyarakat akan kekurangan air akibat aktivitas pabrik. Pertanyaan-pertanyaan yang saya pikir wajar saja terbersit di pikiran mereka yang awam atau yang belum mengetahui seluk beluk tentang hal ini.

Tidak menghabiskan cadangan air

Kekhawatiran tersebut akhirnya terjawab dalam pemaparan dan diskusi santai saat kunjungan berlangsung. Selain selalu mematuhi aturan pemerintah mengenai jumlah air yang boleh digunakan , pihak pabrik juga telah melakukan riset dengan teknologi isotop untuk memastikan berapa banyak kandungan air di tiap sumber air yang digunakan. Kapasitas produksi yang selama ini digunakan tidak akan menghabiskan cadangan air di dalam tanah karena hanya digunakan sebagian saja bahkan  sisanya masih bisa mencukupi ketersediaan air hingga ratusan tahun.

Bukan air permukaan atau lapisan dangkal

Ada dua sumber air yaitu air permukaan seperti sungai, danau dan laut dan air dalam tanah. Tanah itu sendiri kondisinya berlapis-lapis dengan kualitas yang berbeda-beda. Masyarakat biasanya menggunakan air dari lapisan tanah pada kedalaman di bawah 20 meter. Kualitas air di lapisan dangkal tak sebaik kualitas air di lapisan dalam dan sangat tergantung dengan curah hujan dan kualitas tanah di atasnya. Begitu juga jumlahnya, air di lapisan dangkal jumlahnya juga tak sebanyak jumlah air di lapisan dalam.

Pabrik air kemasan menggunakan sumber air dalam tanah di kedalaman yang berbeda dengan air tanah yang digunakan oleh masyarakat yaitu berada di kedalaman lebih dari 60 meter atau di sekitar kedalaman 70-80 meter. Air di dalam tanah di lapisan ini adalah memiliki tekanan dan dapat mengalir sendiri.  Jadi pabrik akan melakukan riset di mana sumber air ini berada, lalu dilakukan pengeboran di titik pada kedalam tertentu sehingga air bisa mengalir sendiri ke permukaan dan distribusikan ke pabrik sebagai bahan baku air kemasan.

Perlunya Konservasi Air

Meski ketersediaan air masih melimpah, konservasi air adalah hal mutlak yang perlu dilakukan untuk menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas sumber air agar bisa dinikmati sampai generasi nanti. Permasalahan kekurangan air atau kualitas air yang buruk tak lepas dari bagaimana kita menjaga keseimbangan siklus air. Berbagai upaya konservasi telah dilakukan secara berkesinambungan seperti penanaman pohon, pembuatan sumur resapan dan lubang biopori, pembuatan water pond dan wetland.

Perlunya melibatkan masyarakat

Masyarakat adalah ujung tombak kemajuan suatu bangsa, maka melibatkan masyarakat dalam rangka menjaga sumber daya alam dengan membuat masyarakat di sekitar berdaya adalah langkah awal untuk mencapai kemajuan tersebut. Masyarakat yang kuat, mandiri dan berdaya akan menciptakan kehidupan sosial ekonomi yang baik. Jangan sampai keberadaan pabrik justru menimbulkan friksi dan dampak negatif terhadap masyarakat

Kami sempat diajak mengunjungi salah satu desa binaan P.T. Tirta Investama dan berbincang-bincang dengan masyarakat di Desa Kebonpeuteuy, Kecamatan Gekbrong. Saya kagum dengan keinginan kuat masyarakat untuk mau belajar, mau dibina, mau mencoba dan berusaha menjadi kuat dan berdaya. Mereka kini memiliki pertanian organik yang menghasilkan. Salah satunya adalah beras organik yang diberi label My Rice. Beras ini sudah dipasarkan ke luar Cianjur. Mereka juga memiliki kelompok usaha mikro dan koperasi yang menangani pertanian organik ini dengan nama HIPOCI.

Ada juga Depo Pengelolaan Sampah Bina Lestari. Mereka mengumpulkan sampah-sampah, memilah antara yang organik dan anorganik. Sampah anorganik seperti kemasan plastik mereka kumpulkan dan dijual setelah jumlahnya banyak. Mereka kreatif sekali mengelola setiap peluang yang ada meski kami tahu itu tidak mudah. Namun penghargaan demi penghargaan, baik dari pemerintah daerah maupun skala nasional, itu sudah membuktikan bahwa kerja keras mereka menunjukkan hasil. Itulah yang disebut sinergi.

Semoga tetap lestari.

Oh ya, anda bisa ikut berpartisipasi dalam kelestarian lingkungan dan air dalam lomba penulisan Anugerah Jurnalistik Aqua. Info lengkapnya di sini ya.

Salam Lestari….

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Kulit Kering dan Tumit Pecah-pecah? Ternyata Gampang Mengatasinya!

Kulit kering dan tumit pecah-pecah itu bagi saya bukan hanya sekedar mengganggu penampilan namun juga mengganggu ...

7 comments

  1. Avatar

    Waaah keren kunjungannya Mbak Donna. Jadi tahu bagaimana cerita di balik Aqua. Saya dari dulu memang mikir gimana Aqua bisa kelola cadangan airnya ya. Makasih ya Mbak sharingnya 🙂

  2. Avatar

    Keren yaa konservasi lingkungan yang dilakukan Aqua ini
    Maya Siswadi recently posted…MyRice, Nasi Liwet Instan Kreasi HipociMy Profile

  3. Avatar

    wah mba donna ke cianjur yaa, aku ikut yang klaten tahun lalu, jauhnyaaa
    Dewi Rieka recently posted…Paduan Cita Rasa di Londo Jowo Resto UngaranMy Profile

  4. Avatar

    Ohh jadi begitu ya.. Ane baru tau kali ini mbak malahan 😀 artikelnya bagus..
    btw, aqua adalah minuman favorit saya 😀 Hehehe
    Eksa Studio recently posted…Mengunjungi Wisata Alam Jumbleng Biru BoyolaliMy Profile

  5. Avatar

    Masyarakat harus ikut kreatif dan peduli yo, Mbak.
    Idah Ceris recently posted…Cukup Mudah Menikmati Wisata AlamMy Profile

  6. Avatar

    Hipoci inspiratif banget ya mba..sayang cuma sebentar berkunjung ke sana. Kayaknya bisa jadi beberapa topik pemberdayaan masyaaka
    kartinaikasari recently posted…RoomToday, Solusi Menguntungkan Jual Kamar HotelMy Profile

  7. Avatar

    warga lokal cianjur juga wajib diikutsertakan dalam tahapan produksi, dan sudah terpenuhi dengan baik 😀
    Salman Faris recently posted…The Lucky 17 At Mandiri Karnaval 2015My Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge