Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Kisah Biru dan Pembelajaran Tentang Pencegahan Kematian Janin Dalam Rahim
Photo Credit In Harmony Clinic

Kisah Biru dan Pembelajaran Tentang Pencegahan Kematian Janin Dalam Rahim

Kisah Biru dan Pembelajaran Tentang Pencegahan Kematian Janin Dalam Rahim

Novel bersampul biru bergambar pesawat terbang ini hadir di pangkuan bersama sekuntum mawar merah sebagai hadiah ulang tahun dari dua bidadari remaja untuk ibunda mereka yang tercinta. Siapa yang menyana, cerita dalam novel tersebut kemudian membawa saya terbang kembali ke kisah biru di masa lalu.

Critical Eleven yang ditulis Ika Natassa seakan menghentikan jarum waktu. Sejenak saya menghentikan kegiatan membaca, menyandarkan punggung ke dinding kamar dengan pandangan lurus ke arah teras. Di pelupuk mata, hadir kisah yang nyaris sama dengan yang dialami tokoh di buku tersebut. Tentang sebuah kehilangan sang buah hati.

Menuliskan kisah ini sesungguhnya membutuhkan kekuatan tersendiri. Ada bagian dari diri saya yang sesungguhnya masih saja tak rela membagi bagian yang terdalam sekaligus terkelam ke ruang publik. Kehilangan putri pertama 17 tahun yang lalu bagi saya adalah kehilangan segalanya. Bukan sekedar kebahagiaan tapi juga harapan, bukan hanya saat itu namun bertahun-tahun kemudian dan sebagian sisanya masih saya rasakan hingga saat ini.

Namun tak ada salahnya menengok sejenak ke belakang tuk sekedar mengingat kembali pembelajaran yang diberikan oleh masa lalu buat kita. Saya membiarkan ujung mata menghangat mengingat sosok yang menyapa kami dalam keheningan di 21 April tahun 1998. Senyap, tanpa tangis layaknya bayi-bayi lain yang begitu lantang menyapa dunia begitu terlahir dari rahim ibunya.

Tak banyak kata yang tertumpah saat itu selain pertanyaan, “Mengapa saya, Tuhan ?, apa dosa saya?” Dan Tuhan seolah tak berkenan menjawab pertanyaan saya. Tahun demi tahun saya merajuk pada Tuhan, bak anak balita yang sudah tak mau lagi diberi gula-gula karena ibunya menolak memberikannya pada saat dia inginkan. Ia tak lagi meminta dan tak lagi berharap, dan hidup dalam fantasinya sambil menikmati perihnya kehilangan.

Tak henti saya menyalahkan diri sendiri, bahwa semua ini harusnya tidak terjadi bila saya awas dengan kehamilan saya. Saya seolah menjadi pembunuh anak saya sendiri. Terlebih bila ada orang yang menelisik semua kemungkinan penyebabnya. Pertanyaan mereka saya rasakan sebagai tuduhan yang menghujam tepat di jantung saya. Tanya mereka seolah menegaskan, saya adalah contoh buruk seorang ibu yang tak mampu menjaga kandungannya.

Saat itu saya merasakan bahwa semua nasehat mereka bagai ribuan lebah yang sedang menyengat saya sedemikian menyakitkan hingga membuat saya tak mampu lagi mengaduh. Saya mulai merasa bahwa Tuhan tidak adil.

Harusnya kamu melakukan USG
Harusnya kamu meminta saran khusus ketika saat perkiraan lahir telah terlampaui
Seharusnya kamu setiap hari kontrol bila sudah melewati perkiraan waktu kelahiran
Seharusnya kamu malam itu segera ke rumah sakit ketika menyadari gerakan bayi dalam perutmu melemah
Mengapa baru berangkat ke rumah sakit ketika bayi dalam kandunganmu sudah tidak bergerak?!
Saya tergugu… terdiam dalam isak dalam benak. Saya marah dengan Tuhan.

Namun Tuhan memang sayang dengan saya, Dia biarkan saya merajuk. Dia biarkan saya bermain dalam jet coaster kehidupan bertahun-tahun setelah itu. Sesekali saya melambung ke atas, kadang nyaman di ketinggian tertentu, namun tak jarang berputar membuat saya mual, lalu sedemikian cepat ke arah bawah, membuat saya menukik dan seolah terjerembab tanpa ampun ke permukaan bumi. Dan saya selalu punya alasan mengapa saya tidak kunjung hamil lagi hingga di tahun ke-4 setelah pernikahan kami.

Dan ternyata, setelah itu saya diberi ganti yang sama, buka hanya satu, tapi dua bayi perempuan mungil yang hanya berjarak satu tahun kelahiran. Saya seolah tertampar, bila Allah menghendaki, tak ada yang sulit. Kehilangan satu diganjar dengan dua, sehat sempurna. Lalu nikmat mana yang hendak aku dustakan?

Demikianlah Tuhan mengajari saya. Pelajaran yang tidak pernah ada kurikulum bahkan di tingkat tertinggi pendidikan yang sempat saya tempuh. Kehilangan seseorang dalam hidup kita selalu menghadirkan perasaan sedih yang mendalam meski sejatinya apa yang hilang dari hidup kita sebenarnya hanya titipan dan Sang Pemiliknya yang akan merawat serta menempatkannya pada tempat terbaik. Menurut ukuran Tuhan, bukan ukuran manusia.

Dan bila hari ini saya menuliskan kembali kisah berpulangnya gadis kecil kami tercinta, dan bila pula masih ada airmata yang jatuh, itu bukan lagi penyesalan dan amarah. Namun semoga bisa diambil hikmah dan pembelajaran. Tak hanya bagi saya namun juga perempuan-perempuan lain di luar sana. Bahwa takdir adalah di ujung usaha manusia dan tugas manusia adalah mengupayakannya.

Belakangan saya mengetahui bahwa dalam istilah kedokteran, kematian janin dalam kandungan yang saya alami tersebut disebut dengan Intra Uterin Fetal Death (IUFD). Istilah ini digunakan untuk kematian janin dalam rahim dengan usia kehamilan di atas 20 minggu atau janin sudah mencapai berat 500 gram atau lebih.

IUFD seringkali terjadi di semester kedua kehamilan atau usia kehamilan menjelang masa persalinan yaitu di bulan ke delapan atau bahkan di bulan ke sembilan seperti yang saya alami. Banyak sekali faktor yang bisa menyebabkan terjadinya Intra Uterin Fetal Death (IUFD), beberapa diantaranya seperti:

  • Masalah genetik, kelainan kromosan pada janin dan kelainan jantung pada janin dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat atau terjadi komplikasi kehamilan yang tidak diinginkan sehingga menyebabkan kematian janin dalam kandungan.
  • Kondisi kesehatan ibu hamil seperti kehamilan di usia lanjut, kondisi bentuk rahim yang tidak normal, obesitas atau gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan. Pada ibu hamil yang mengidap hipertensi, diabetes atau jantung serta adanya penyakit infeksi seperti toksoplasmosis atau Infeksi Menular Seksual pada ibu, juga ditengarai menjadi penyebab IUFD.
  • Terhentinya atau berkurangnya suplai oksigen pada janin.
    Gerakan bayi yang berlebihan atau hiperaktif dapat menyebabkan kondisi tali pusat terpelintir dan menghentikan pasokan oksigen untuk janin sehingga menyebabkan kematian janin dalam kandungan.
  • Kehabisan ketuban, kondisi plasenta dan lewat Hari Perkiraan Lahir (HPL)
    Air ketuban yang habis tak hanya bisa membuat janin lemas di dalam kandungan namun juga bisa menyebabkan kematian. Begitu juga dengan kondisi plasenta. Letak plasenta yang tidak normal seperti plasenta previa atau plasenta yang menutupi jalan lahir juga bisa menyebabkan kematian janin dalam rahim. Untuk kasus IUFD yang saya alami, dokter yang menangani memperkirakan bahwa kemungkinan besar penyebabnya adalah karena kehamilan lewat HPL atau lewat hari perkiraan persalinan. Menurut teori, bayi harus dilahirkan maksimal dua minggu dari HPL, lebih dari itu janin bisa meninggal dalam kandungan.

Meski kehamilan saya baru lewat satu minggu dari HPL, namun ternyata kondisi plasenta sudah menua. Plasenta yang telah menua akan berkurang fungsinya dan tidak mampu lagi meyokong kehidupan bayi yang saya kandung. Saat melahirkan terlihat air ketuban telah berwarna hijau dan kental, menunjukkan bahwa kualitas air ketuban bukan hanya sudah menurun namun juga sangat berbahaya bagi janin dalam kandungan. Cairan ketuban ini masuk ke dalam paru-paru janin dan membuat janin keracunan sehingga meninggal.

Sadari pentingnya USG
Hari kini USG bukan lagi hanya untuk melihat jenis kelamin janin atau melihat wajah janin seperti yang sering di share wanita-wanita hamil di sosial media, namun justru jauh lebih penting dari itu. Saya menyesal tidak melakukan USG pada waktu itu. Padahal teknologi sudah memungkinkan calon ayah dan ibu untuk melihat dan memantau pertumbuhan janin dalam kandungan sang ibu melalui USG termasuk kondisi plasenta dan air ketuban. Jadi jangan sampai tidak dilakukan ya, hal ini bisa mencegah gawat janin yang kita tidak inginkan.

Awas dengan tanda-tanda
Sebenarnya sebelum kematian janin dalam kandungan terjadi, ada tanda-tanda yang bisa dideteksi sebelumnya. Sayang beberapa ibu hamil, termasuk saya pada saat itu tidak awas dan tidak segera mengambil tindakan. Nah, ini hal-hal yang harusnya bisa menjadi warning buat ibu hamil terkait IUFD

  • Kram, sakit perut, atau pendarahan
    Ibu hamil yang merasakan kram atau sakit perut yang semakin parah dari waktu ke waktu bisa jadi kehamilannya bermasalah. Apalagi sampai mengalami pendarahan hebat, bisa jadi satu tanda jika janin telah meninggal di dalam kandungan.
  • Janin Tidak Bergerak
    Segera periksa ke rumah sakit jika janin yang ada di dalam kandungan tidak bergerak sama sekali selama 8 sampai dengan 12 jam. Hal pertama yang dilakukan oleh dokter adalah memeriksa detak jantung janin, jika detak jantung janin tidak ada atau menghilang bisa dipastikan bahwa kondisi janin meninggal di dalam kandungan. Saya sendiri sebenarnya sudah mengkhwatirkan kondisi sang janin saat menyadari tak ada pergerakan selama beberapa jam, sayangnya saya terlambat berangkat ke rumah sakit sehingga sang janin sudah terlanjur tak tertolong lagi.

Tanpa harus menceritakan kisah sendu yang pernah saya alami ini, saya kini selalu dengan senang hati mengingatkan perempuan-perempuan yang akan menikah atau yang sudah menikah dan ingin segera hamil untuk melakukan pemeriksaan dan vaksinasi saat merencanakan kehamilan atau sebelum kehamilan terjadi.

Sedangkan untuk wanita-wanita hamil di sekitar saya, saya suka mengingatkan mereka untuk menjaga kesehatan serta rajin dan disiplin memeriksakan kandungannya ke dokter, termasuk melakukan pemeriksaan janin dalam kandungan dengan USG. Melakukan USG bukan sekedar urusan ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi tapi untuk memastikan dan memantau tumbuh kembang janin dalam kandungan.

Jangan sungkan untuk menyampaikan keluhan pada dokter, sekecil apapun itu. Bila tak nyaman dengan rumah sakit atau paramedisnya, pilih tempat lain yang membuat nyaman menjalani kehamilan hingga melahirkan kelak, bahkan kalau perlu, cari second opinion bila merasakan keluhan tak mendapat respon atau solusi yang tepat. Kita berhak mendapatkan perlakuan medis terbaik sebelum semuanya terlambat. Jangan menunggu waktu periksa berkala agar tak terlambat.

Dari kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, kini saya belajar memaafkan diri saya sendiri. Semoga Tuhan memaafkan dan menjaga saya serta dua gadis amanah yang dititipkanNya sampai kelak mereka akan bermain bertiga di surga yang engkau sediakan buat gadis-gadis kami ini.

Kini saya siap menjalani hari, melanjutkan karya dan terus belajar tentang hidup dan banyak hal ke jenjang tertinggi yang saya mampu. Sungguh, tahun demi tahun berlalu, saya belajar dari kehilangan ini, bahwa sesungguhnya, segala sesuatu itu bisa dilakukan pencegahan. Kisah ini menjadi rambu sepanjang hidup saya kini. Tugas saya kini adalah mempersembahkan yang terbaik untuk menjalankan peran sebagai hamba Tuhan menuju takdir yang telah disediakan Nya.

Perkenankan duhai Gusti Allah…

Referensi:
http://hamil.co.id/  Diakses pada tanggal 26 Maret 2016
http://bidanku.com/ Diakses pada tanggal 26 Maret 2016

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

[relationship] I am What I am, as simple as that

“I am what I am…if you dont like me, turn your head and walk away… ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge