Home » Family and Parenting » cinta dan varicella

cinta dan varicella

Amazing, wajah damai yang muncul dibalik pintu kamar dan menyampaikan salam itu membuat saya mendadak sembuh sore ini setelah seharian perut saya seperti orang yang kena maag akut dan kepala pusing tujuh keliling plus bosan tingkat dewa karena gak bisa ngapa2in. Sebenarnya sih bukan semata karena virus varicella yang bikin beberapa bagian tubuh saya berbintil lepuhan merah ini saja penyebabnya tapi mungkin juga karena bosan dan gak tau mau ngapain. Saya termasuk orang yang gak bisa diam atau kalopun diam saya membaca, namun hari ini makin diam saya, atau makin banyak membaca maka saya makin pusing. Ah, sakit memang tidak enak kok.

Kembali ke wajah damai yang nongol dibalik pintu itu, saya jadi ingat bahwa beberapa hari yang lalu saya baru aja share ke seorang teman dan mengatakan bahwa, saya bersyukur dan sangat teranugerahi dengan apa yang saya miliki sekarang. Meski bukan mercy, kami bisa kemana-mana gak kehujanan dan gak kepanasan, meski bukan di Pondok Indah, kami punya tempat berteduh yang hangat dimana anggota keluarga didalamnya saling sayang, saya punya pekerjaan untuk menjemput rizki yang Allah sediakan sekaligus tempat saya berkarya, saya punya suami yang dengan bahasa nya saya mengerti bahwa dia mencintai saya dan dua gadis kecil manis dan tomboy sebagai penyejuk mata kami. Mengingat semua ini, teringat satu petikan kitab suci, maka nikmat Tuhan yang mana yang hendak engkau dustakan, donna.

Sang wajah damai tadi senyum2, sesaat setelah saya menggodanya dengan kalimat setengah merajuk, “tega ih, pulang lama-lama, aku khan lagi sakit”. Eh, mr plegmatis itu hanya menjawab, ehhhh….aku khan kerja, mau dibeliin apa? Aku makan ama mandi dulu ya, nanti dibeliin”.

Lihatlah, gak ada jawaban romantis, gak ada basa-basi bukan, tapi lihat pula efeknya, aku mendadak sembuh, tapi dasar donna, tetep aja menyodorkan daftar yang ingin dibeliin, sambil menyampaikan kalimat penutup, “terimakasih, tintoku” hehehehe.

Hm, begitulah cara cinta menyapa kami. Mengutip dari Lima Bahasa Kasih, Dr. G. Chapman, meski kami cukup lama untuk belajar dan sampai ke tahap ini, namun saya secara pribadi dapat menyimpulkan bahwa kata kuncinya buat saya dan itu pula yang saya upayakan dan lakukan buat pasangan terus menerus bahwa, yang saya butuhkan adalah seseorang yang memilih untuk mencintai saya, dan melihat dalam diri saya “sesuatu yang pantas untuk dicintai”. Cinta yang dengan sengaja dan diusahakan.
Syukurlah menurut beliau bahwa dari sekian banyak cara untuk menyengajakan dan mengusahakan cinta bisa dimengerti oleh pasangan kita itu pada prinsipnya hanya satu cara atau bahasa yang dominan dari 5 yang umum dimengerti.
Entah itu kata-kata pendukung/penghargaan atau motivasi, atau mungkin momen2 istimewa/saat2 berkesan, ataukah mungkin hadiah/uang, dan dua yang terakhir yaitu pelayanan dan sentuhan fisik.

Pertanyaan bagi kita semua adalah, apakah anda bangga dengan pasangan anda dan mendukung kegiatan2 nya yang membuat ia bertumbuh? Atau justru anda kesal karena kegiatan2 tersebut tidak melibatkan anda atau anda anggap mengambil jatah waktu anda bersama pasangan anda?
Apakah anda memiliki waktu2 yang berkualitas diluar waktu kerja dan hobi anda untuk bersama menikmati momen2 berkesan dengan pasangan, atau anda sekedar pergi bersama dan tidak melepaskan perhatian anda dari layar ponsel atau gadget anda?
Apakah anda kerap memberinya kejutan berupa hadiah, atau justru anda pikir, toh dia punya uang dan bisa beli sendiri.
Apakah anda melayani dalam arti meluangkan waktu untuk memberi perhatian pada keinginan2 pasangan anda ? atau ah, suami istri hari gini harus mandiri lah, urusan masing2 aja.
Atau apakah anda menyempatkan diri menepuk bahu pasangan anda, atau sekedar memeluknya? Atau itu hanya sekedar aktifitas didalam kamar?
Anda yang temukan apa bahasa kasih anda dan pasangan anda dan sampaikan dengan cara yang ia mengerti.

Sebelum mempelajari hal ini saya suka “bingung” dengan pasangan2 yang “beda banget”, saya pikir dan yang sempat saya alami perbedaan ini akan membuat jurang yang tajam buat sebuah pasangan saling mengerti. Namun ternyata perbedaan itu juga baik, karena justru akan saling melengkapi asal bisa saling mengerti dan rendah hati. Pemakaian kata “rendah hati” itu saya sengaja karena manusia itu sejatinya makhluk egois yang maunya “didepan, didahulukan”, kebayang khan bila kosa kata yang ada dalam sebuah rumahtangga adalah, “dia yang harus berubah, I did it my way”, hadeuuuhhh. Bukankah harus nya sebaliknya, ‘aku tau yang dia inginkan, dan aku mau lakukan”, maka pasti yang sebaliknya juga akan terjadi pada kita. Lakukan dulu baru baru berbalas hehehehehe. Jangan sebaliknya.

Masa memang berganti, ada pasang ada surut, gak selamanya ombak tenang, kadang juga bergelombang. Namun insyaallah sih, bila kita masih bicara dengan bahasa yang sama, ombak akan kembali tenang, dan layar ini akan terus berkembang, melaju menuju dermaga tujuan dimana perkawinan itu dirancang.
Selamat berlayar.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Emakku Superhero

Ya, memang julukan yang mungkin terasa cukup aneh. Apalagi bunda sebenarnya memang gak punya mata ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge