Buang Yang Tidak Perlu

Cerita ini aku ambil dari buku Piano di Tepi Pantai, Jim Dornan. Mengenai sebuah patung kuda gagah yang sangat indah dan besar yang dibuat hanya dari sebongkah batu karang.
Pada suatu hari, ada yang mengajukan pertanyaan pada pemahat kuda itu, “bagaimana caranya anda bisa menghasilkan sebuah karya yang begitu indah hanya bermodalkan palu dan pahat saja.

Ia pun menjawab:” begini, …….seperti yang umumnya dilakukan orang-orang lain, mula-mula saya mempersiapkan sebongkah batu karang ukuran besar. Lalu saya membayangkan obyek yang akan saya buat pada batu tersebut. Selanjutnya, cuma dengan menggunakan palu dan pahat, saya mulai mengikis bagian-bagian yang BUKAN termasuk obyek yang saya bayangkan dalam benak saya. Akhirnya terciptalah bentuk seekor kuda sesuai dengan yang saya bayangkan dalam benak saya.

Perumpamaan diatas menjadi sebuah pembelajaran dirumah kami.
Islam mengajarkan kita tentang niat yang memulai sebuah kegiatan, ilmu sosial populer mengatakan tentang pentingnya visi dalam sebuah organisasi dan teori motivasi mengutamakan perlunya sebuah impian untuk hal-hal yang kita kerjakan.
Nawaitu, visi, impian memang berbeda, namun mereka tidak berdiri berjauhan, mereka saling menaungi, memandu ke mana langkah harus diarahkan. Sayang tidak semua dari kita memiliki itu.
Jika itu diibaratkan sebuah gawang, bukankah tidak bijaksana seseorang berlari-lari mengelilingi lapangan untuk memasukkan bola yang dia sendiri tidak tahu kemana bola itu harus diarahkan.
Miliki lah impian Karena kalau tidak anda hanya berlari-lari sampai anda tidak lagi memiliki energi namun tetap akan membuat anda berada ditempat yang sama.

Saya tidak ingin bicara lebih jauh tentang hal diatas, saya yakin besar atau kecilnya impian seseorang, pasti harapan selalu ada disetiap hati kecil manusia bahkan pada manusia yang mengatakan bahwa dia sudah tidak lagi memiliki harapan. NAmun saya ingin menggarisbawahi kaliman sang pemahat pada cerita diatas. Bila anda percaya dengan hukum proses maka anda akan setuju dengan saya bahwa Result Oriented itu diperlukan, namun proses menuju hasil itu lah yang pada akhirnya akan membentuk seseorang. Bayangkan kalo sang pemahat gak punya bayangan patung seperti apa yang akan dia bentuk maka dia tidak akan pernah tahu mana bagian yang harus dibuang dan hasilnya tentu saja bukan patung kuda gagah dan indah

Proses memang sebuah pengalaman yang menyakitkan, bayangkan…untuk mendapatkan bentuk diri yang kita inginkan kita harus membuang hal-hal yang tidak membawa kita ke arah bentuk yang kita inginkan. ketika kita berkomitmen ingin menjadi seorang dengan bentuk yang kita inginkan bersiaplah untuk menjalani prosesnya.

Hal pertama yang paling sulit adalah HIJRAH….berpindah dari satu pola pikir ke cara berpikir baru…
Sebuah kalimat bijak mengatakan bahwa anda akan sama seperti siapa anda sekarang 5 tahun yang akan datang kecuali dua hal yaitu orang-orang disekeliling anda dan buku apa yang anda baca. Maaf bila tulisan ini terasa mengusik hati kecil manusia. Karena norma yang sering diajarkan adalah kita gak boleh pilih-pilih teman seolah bila kita memilih dengan siapa anda berinteraksi adalah hal yang buruk.
Tapi logika berpiikir ini sebenarnya sederhana, coba kita bayangkan bahwa apa yang kita lakukan tergantung apa yang kita pikirkan bukan?? dan apa yang kita pikirkan tergantung dari informasi yang masuk dalam kepala kita dimana informasi tersebut berasall dari orang-orang disekeliling anda dan buku-buku apa yang anda baca. Coba cek diri anda…benarkah demikian.

Sang pemahat juga mengatakan dia hanya perlu melakukan satu hal untuk menghasilkan karya indah tersebut, yaitu MENGIKIS BAGIAN-BAGIAN YANG BUKAN TERMASUK OBYEK YANG SAYA BAYANGKAN.

Cara ini lumayan banyak membantu saya untuk mencapai bentuk yang kami inginkan. Kami ingin jadi pribadi yang sukses namun tetap rendah hati, kami ingin jadi pribadi yang orang selalu nyaman berada didekat kami karena kami memiliki integritas, dan Kami sudah punya bentuk yang terpatri kokoh dalam benak kami tentang rumahtangga yang bagaimana yang kami inginkan. Meski untuk itu kami harus sedikit berbeda dengan keluarga-keluarga lainnya dan mengasuh anak-anak kami dengan cara yang sedikit gak “ordinary people”.

Rapuh, mudah mengeluh, iri, putus asa merupakan bagian-bagian yang harus dikikis. Untuk apa menangisi hal-hal yang tidak layak untuk ditangisi kalo tidak merubah kondisi menjadi lebih baik. Mengeluh pun hanya mengundang simpati dan bak obat bius yang sejenak menghilangkan sakit namun tidak menyembuhkan penyakitnya. Lagian gak banyak kok manusia didunia ini yang sebenarnya dengan tulus berempati terhadap sesamanya karena kadang mereka sendiri banyak memiliki masalah. Iri terhadap apa yang dimiliki orang lain sejauh bermakna positif silahkan saja namun untuk apa iri terhadap sesuatu yang sebenarnya bukan yang kita inginkan melainkan lahir dari ego manusia terhadap keberhasilan orang lain.

Pada akhirnya, proses ini akan selalu membantu kita untuk gampang mengambil keputusan. Tanyakan saja apakah orang ini, masalah ini, cara ini, kejadian ini, hal ini, buku ini, kegiatan ini, pembicaraan ini, kebersamaan ini layak mendapatkan porsi yang pantas atas waktu dan pikiran ku dan akan membawa kita kepada bentuk yang kita inginkan. Dan kalau jawabannya tidak……tetap dengan menghargai perbedaan, dengan rendah hati dan santun…….tinggalkan saja…!!!
Dan kita sudah mengikis hal-hal yang bukan termasuk obyek yang kita bayangkan.

Bukan hal mudah memang, terlebih bila anda “sendirian”, untuk itu atur lingkungan anda, pilih yang nomer satu (dave j Scwartzs) dan isi dengan informasi yang cukup.
Bukan kah dalam ilmu teknik dikatakan pressure merupakan rasio antar gaya yang bekerja dengan luas area (P=F/A), sehingga bila informasi yang anda punya lebih banyak dari gaya negatif yang anda terima maka tekanan yang kita terima akan menjadi kecil…..he he he

selamat mencoba

Lembaga Nirmala II
15 Agustus 2009

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

4 comments

  1. Avatar

    Apa ini? Kau ingin aku menjauhimu? Baiklah! Xixixi koment gk penting.

    Srtuju bunda.. hal nggak penting ya tinggalin. Klo berteman malah bikin ketularan penyakit.. ya mending menjauh ūüėČ

    • donna imelda

       

      hahaha…..kalo masih ngigo maksa komen nih gini. cuci muka dulu sonoh noe.¬† Ya…bertemu hal negatif atau orang negatif hal yg jamak. Tapi gak harus kita jadi negatif juga khan. Hantam dng pengalaman posiif banyak2…. Menjauh darimu? ah becanda kamuh hahahaha

       

       

       

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge