BERANI BERUBAH

Tulisan ini diawali oleh sebuah perasaan yang tergelitik saat Dekan FTI-UJ, Darma Setiawan mengatakan dalam acara silahturahmi halal bi halal bahwa untuk menyelamatkan institusi maka semua pihak yang terkait di semua lini di Universitas Jayabaya khususnya FTI mau tak mau harus “sedikit berkorban”, terutama dalam mengelola anak asuh kami yang baru “Program Kuliah Malam”. Karena memang pada kenyataannya dalam fase ini semua dari kita mau tak mau bekerja mengelola program ini “tanpa di bayar” (istilah lain yang lebih suka aku pakai tuk menggantikan kata “dibayar dengan jumlah yang sama sekali tidak memadai”). Untungnya kalimat tersebut dilanjutkan dengan ucapan terimakasih atas semua pengorbanan yang dilakukan dan mengajak kita semua untuk senantiasa memiliki semangat dalam program penyelamatan tersebut.

Bicara mengenai upah atau bayaran, kondisi diatas bisa saja terpaksa dialami dalam jangka waktu pendek tapi amat berbahaya dalam jangka waktu yang panjang. Mengutip kalimat “Mike Delaney” dalam buku The Power of Thinking Big yang ditulis oleh John C Maxwell:

” Setiap bisnis atau industri yang memberikan upah sama kepada orang yang berprestasi rendah maupun orang yang berprestasi tinggi, cepat atau lambat akan memiliki lebih banyak orang yang berprestasi rendah daripada orang yang berprestasi tinggi”.

Nah…bayangkan aja deh kalo itu terjadi, satu per satu orang-orang yang berjuang itu itu akan kehabisan tenaga dan meninggalkan arena. Atau kondisi rata-rata tsbtelah menjadi sedemikian buruknya sehingga seseorang bisa sekedar hadir tuk menjadi ketua kelas. Mengaku seorang pemimpin, agar dapat dihormati namun tanpa kontribusi nyata sebagai pemimpin.

Gak banyak dari kami yang masuk dalam katagori mau ikut berjuang. Bisa saja mereka ada didalamnya tapi sekedar ikut menikmati atau terpaksa ikutan. Kutipan diatas benar2 FTI alami. sekian lama diperlakukan sebagai orang rata-rata, jadi orang baik atau tidak pun gak ada bedanya, sekarang FTI lebih banyak punya orang yang berprestasi rendah di banding yang mau berprestasi ( gak tega nulis berprestasi tinggi: emang gak punya sih…!!!). mo seenaknya juga gak ada sangsi kok. Mo jadi baik juga gak ada manfaat nyata. Untungnya masih ada segelintir orang yang tetap berjuang dengan kekuatannnya masing2 melakukan apa yang terbaik yang mereka miliki.

Mungkin saja ada darah segar yang mengalirkan semangat baru saat Program Kuliah Malam mulai dijalankan, tapi kalo tidak ada perubahan dalam sistem reward and punishment nya, niscaya sejarah akan berulang. Bercermin pada pengelolaan Program Ekstensi Sabtu Minggu yang sedikit demi sedikit merubah paradigma kita mengenai etos kerja dimana hanya yang mengeluarkan “keringat” lebih banyak lah yang akan menikmati reward lebih besar, maka mau tidak mau mereka harus berubah mengikuti aturan mainnya. Gak mudah memang dan juga gak semua mau, hanya orang2 yang mau berubah yang bisa ikut dalam permainan dan ikut dalam aturan main. Lah yang gak mau….monggo, nonton aja ya di pinggir lapangan. Tapi awas….yang ikutan main jangan curang….cari2 celah longgar tuk kesenangan pribadi.

Berharap pada setiap bagian dari FTI-UJ menyadari bahwa kapal kita banyak mengalami kebocoran dan salah satu cara menutup kebocoran itu dengan berani berubah dari pola kerja selama ini menjadi pola kerja yang baru. Namun semua itu harus dimulai dari sebuah tujuan mulia dalam hati kita masing-masing. Karena orang akan bekerja delapan jam sehari untuk upah, sepuluh jam sehari untuk boss yang baik tapi akan bekerja dua puluh empat jam sehari untuk tujuan yang baik. Bukan pula berarti kita tidak mengerjakan hal lain tetapi 24 jam itu berarti kita fokus mencurahkan waktu dan tenaga kita tuk tujuan tersebut. Yang berati pula apapun yang kita pikirkan dan kita kerjakan harus mengarahkan kepada tujuan itu, kalo gak kesana arahnya ya jangan kita lakukan.

Hal2 kecil sajalah, misal: apakah kalo kita mengajar tidak tepat waktu dan sesuai dengan jumlah SKS itu bisa membawa jayabaya lebih baik dari hari ini? Kalo jawabannya gak ya jangan dilakukan. Sebaliknya apakah kita bila bekerja dengan jam kerja yang lebih panjang dan menyelesaikan lebih banyak dan lebih baik pekerjaan kita dapat mebawa Jayabaya kondisinya lebih baik? Kalo jawabannya Iya mengapa tidak kita lakukan. Apakah dalam melayani mahasiswa karyawan dah melakukan sesuai dengan tanggung jawabnya? kalo belum ya diperbaiki. It’s so simple. Yang bikin gak simple adalah karena kita gak mau melakukannya. Gak mau berubah dari pola yang selama ini dah nyaman kita lakukan namun terbukti tidak membuat kita jadi manusia yang lebih baik.

Apakah kita berani berubah…..jawabannya ada dalam benak kita masing2. Apakah institusi akan menerapkan sistem Reward dan Punishment? mari sama2 kita rintis……


About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge