Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Becak… akankah kelak hanya sebuah legenda?

Becak… akankah kelak hanya sebuah legenda?

Stasiun Tawang jelang jam 5 sore, saat aku duduk manis di atas becak yang dikayuh perlahan menelusuri Kawasan Lama Semarang. Terik sudah bergeser ke arah Barat dan samar angin sesekali meniup tubuhku yang lekat oleh sisa keringat siang tadi, menghadirkan suasana tempo dulu yang tiba-tiba membawa resah. Sebentuk tanya hadir. Sampai kapan becak ini akan bertahan tergerus jaman? Akankah nasibnya sama dengan becak-becak di Jakarta yang kini hanya bisa kita dengar sebagai legenda.

Di kota-kota lain selain Jakarta, makin hari makin sulit menemukan angkutan ini beroperasi di jalan-jalan utama. Keberadaannya makin terpinggirkan, dan hanya bisa beroperasi di kawasan tertentu saja. Di beberapa kota di Pulau Jawa, becak yang dulunya digerakkan sepenuhnya dengan tenaga manusia kini satu persatu berganti dengan tenaga mesin yang kemudian mereka sebut dengan bentor yang merupakan singkatan dari becak motor.

Di Sumatera –terutama di Medan dan Aceh– mereka memang sudah menggunakan bentor jauh sebelum kendaraan ini digunakan di beberapa kota di Pulau Jawa seperti sekarang. Bedanya, kalau bentor di sana, tempat duduk penumpang ada di sisi kiri motor pengemudi, sedangkan di Pulau Jawa, penumpang tetap berada di depan pengemudi becak.

Ada tulisan Seulawah. Jauh juga yaaaa
Ada tulisan Seulawah. Jauh juga yaaaa

Aku masih ingat sekali kenangan saat pertama menggunakan bentor di kota yang terletak di ujung pulau Sumatera tersebut. Masih kecil sekali, masih usia sekolah dasar dan sudah berlalu lebih dari 30 tahun yang lalu. Tapi bunyinya yang khas dan keriangan saat pertama kali tersebut rasanya masih membekas jelas di benak saya.

Becak juga menjadi bagian kehidupan saya sehari-hari saat menetap di Pekalongan. Becaklah yang mengantar dan memulangkan saya setiap hari, dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Sesekali menggunakan angkutan umum, tapi becak tetaplah menjadi pilihan favorit saya kala itu.

Pada pagi atau sore hari saat matahari tidak sedang terik bersinar, biasanya Pak Becak –demikian saya menyebut para pengayuh becak– membuka atap atau tutup becak mereka. Hal ini sangat menyenangkan buat saya, karena saya dengan leluasa bisa menikmati pemandangan dan udara terbuka sepanjang jalan. Sesekali melambaikan tangan pada teman yang berpapasan di jalan atau sambil ngobrol dengan Pak Becak sepanjang jalan. Sungguh sebuah interaksi yang akrab antar manusia terjadi di sini.

Tak semua kota di Indonesia memiliki becak sebagai alat transportasi umumnya. Lain becak di Pulau Sumatera, lain yang di Pulau Jawa, lain pula yang di Kalimantan, khususnya Kota Kandangan di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Saya menemukan becak yang ukurannya lebih langsing dan sedikit lebih tinggi dari kedua macam becak yang saya sebut di atas. Pengemudinya berada di bagian belakang.

Becak di Kandangan
Becak di Kandangan

Namun, jenis apapun becak-becak tersebut, saya merasa bahwa ada sensasi tersendiri saat menaiki becak. Dan rasanya lebih nikmat dbanding naik kendaraan bermotor, baik sepeda motor ataupun mobil. Buat pejalan lambat seperti saya, keberadaan becak juga memberi kesempatan buat saya melihat-lihat dengan santai saat berkeliling suatu kota.

Hampir selalu saya lakukan, saat berada di kota yang memiliki becak, pasti saya menyempatkan diri berkeliling kota mengendarai becak. Dengan becak, saya bebas melihat-lihat suasana kota, hop on hop off dari satu tempat ke tempat lain, singgah dan menikmati kuliner setempat sambil ditunggui Pak Becak.

Ah, kenangan di banyak tempat membuncah seiring resah yang singgah di benak. Semoga becak-becak ini akan senantiasa ada, tak tergerus jaman, atau setidaknya masih bisa dinikmati oleh para pejalan meski di kawasan terbatas. Becak… semoga kelak tak hanya sebuah legenda.

Yuk, kita becak-becak'an
Yuk, kita becak-becak’an

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

[relationship] Jangan Lupa Check Hidung Anda

Saya punya tingkat sensitifitas yang cukup baik terhadap bau, mungkin ini bawaan genetik dari ibu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge