Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Andry Wiryanto, In Memoriam…..

Andry Wiryanto, In Memoriam…..

Ndry…., Jakarta diguyur hujan saat itu, sore menjelang magrib ketika aku baru tiba di kampus setelah seharian menemani Pipin yang datang dari Pekalongan ke Jakarta. Tubuhku masih lembab oleh tampias air hujan, membuat dingin semakin terasa di ruangan berpendingin udara ini. Kunyalakan komputer yang selalu terhubung dengan internet seperti biasanya dan membuka beberapa jendela media sosial yang tak pernah absen dari penglihatanku, facebook dan twitter.

Tiba-tiba mataku terpaku oleh sebuah status yang kebetulan mengambil urutan paling atas di lini masa, menandakan bahwa tulisan tersebut baru saja di posting. Ditulis oleh seorang yang sangat kita kenal, Ndry. Nun jauh di Denpasar, Tante Irmgard yang sering kita panggil dengan Tante Panggih menulis, “selamat jalan Andry semoga di terima di sisi Allah, begitu cepat dikau nak, pergi meninggalkan kita2,….”.

Jantungku seakan terhenti sejenak melihat kalimat duka dengan nama kamu di dalamnya. Tanpa membaca lebih lanjut isi tulisan berikutnya, segera aku menanyakan kebenaran berita itu langsung melalui beliau di akun facebooknya. Beliau menegaskan berita duka itu, namun bagai tak percaya dan kebingungan aku kalang kabut mencoba menelusuri langsung beberapa akun mutual friends kita dan berakhir di akunmu, Ndry.

Tangisku pecah, di akunmu yang entah sudah berapa lama tak sempat aku kunjungi itu, ucapan bela sungkawa telah berderet-deret tertulis, menandakan musibah ini sudah berjam-jam yang lalu terjadi dan aku sama sekali tak mengetahuinya. Belakangan aku baru tahu bahwa Vivie di Semarang sudah mencoba memberi kabar yang tak sempat kubaca. Namun kemudian, tak hanya isak tangis, isak berubah menjadi histeris melihat tautan link bersumber dari sebuah situs pemberitaan online Bandung yang memberitakan tentang penyebab kepergianmu lengkap dengan gambar situasi ditempat kejadian.

Jalan Kiara Condong, sebuah truk pasir , di Jumat pagi pukul 8.30 yang cerah di Kota Bandung, maut telah menjemput saat kamu mengendarai motor menunaikan kewajibanmu menuju tempat kerja. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…. semua yang berasal dari-Nya akan kembali kepada-Nya.

Waktu yang terus bergulir kugunakan untuk mencari berbagai informasi, alamat rumah, no telepon yang bisa dihubungi dan tentu saja waktu pemakaman. Hal yang sedikit melegakan adalah kamu baru akan dimakamkan esok hari jam sembilan pagi. Tak banyak hal lain yang ada di kepalaku saat itu, hanya satu, aku harus ke Bandung dan melihatmu sebelum dimakamkan. Sambil terus menghubungi papa dan mama di Lampung, aku juga memberi tahu tentangmu kepada anggota keluarga yang lain.

Semalaman aku sulit tidur, sambil menanti pagi berbagai kenangan berputar di kepalaku bagai film tentang kamu. Begitu pun esok paginya di sepanjang Cipularang dalam perjalanan menuju Bandung. Sesekali kami bertiga, aku, kak Iyan dan Agus berbincang, sambil menyebut nama kamu yang tak asing bagi keluarga kami. Bertahun kita menjadi keluarga besar Bank Exim Pekalongan. Sejak remaja bersama-sama. Banyak cerita lucu dan menyenangkan pada masa-masa itu. Terlebih saat berkumpul pada acara-acara yang diselenggarakan kantor tempat orang tua kita bekerja, entah itu di kantor Bank Exim Hayam Wuruk atau gathering ke luar kota.

Teringat pula masa-masa SMA, motor-motoran les kimia bareng, lalu sama berjuang di Semarang menembus UMPTN. Selepas masa SMA kita berpisah, kamu memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta dan aku kuliah di Jakarta. Begitu pun orangtua kita, mereka pensiun dan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Namun silahturahmi tak putus, masih saja ada canda ada gurauan kita meski hanya lewat dunia maya. Papah bahkan masih menyimpan percakapan kamu dan beliau beberapa hari lalu saat bertandang ke Bandung. Sayang Sang Waktu tak mengizinkan pertemuan kalian saat itu meski niat untuk silahturahmi ke rumah orangtuamu, Tante Ani dan Om Tono sudah direncanakan.

Andry…., dini hari kami sudah bertolak dari Jakarta ke Bandung untuk menghadiri pemakamanmu. Pagi itu matahari muncul begitu indah, pemandangan yang sudah tak bisa kamu lihat lagi. Perjalanan yang hanya dua jam terasa lama sekali, sambil berdoa semoga perjalanan lancar, aku juga tak lupa berdoa semoga tak ada perubahan rencana di Bandung. Tunggu aku, Ndry…aku datang, Begitu ucapku dalam hati sepanjang perjalanan.

Alhamdulillah, pukul 8.30 pagi di Bandung. Setengah berlari aku menuju rumah duka, mendapatimu sudah rapi di dalam keranda berlapis kain hijau bertepi emas. Tak bisa kulihat jasadmu, hanya bagian ujung kaki terbungkus kain putih yang terlihat dari kain yang tersingkap. Kupeluk satu persatu orang-orang yang kamu sayang, Om Tono dan Tante Ani, yang pada mereka baktimu selama ini dicurahkan, Yuli, Silvi dan Raihan, bidadari-bidadari dan jenderal kecilmu yang sangat kamu sayang, juga kedua adikmu Panji dan Ari. Kami semua kehilangan kamu Ndry…

Caringin siang itu masih cerah. Di sebuah kompleks pemakaman, sejuk di bawah pepohonan rindang, diantara makam nenek dan kakekmu kini engkau berdiam, berstirahat dalam tidurmu yang panjang. Seorang yang baik telah pergi meninggalkan kami semua.

Kupandangi nisanmu, 41 tahun saja masamu di dunia ini. Aku bisa melihat senyummu seolah kamu sedang duduk bersandar di papan yang bertuliskan namamu itu. Maafin aku, ya Ndry…kadang suka guyon berlebihan, suka judes. Terimakasih juga atas kebaikanmu selama ini, tak ada cela bagiku untukmu dalam persahabatan panjang kita. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku percaya orang sebaik kamu pasti akan mendapat tempat terbaik bersama Allah swt. Terlantun doa tulus buatmu dan keluarga yang ditinggalkan, juga pesan dan titipan doa dari keluarga besar Exim Pekalongan yang tak bisa hadir, Tante Panggih, Tante Mamo, Vivi, Oom Nano, Tante Tanti, juga papa dan mama. Semoga Allah memberi terang dan hangat kubur untuk orang baik sepertimu, semoga keluarga kuat dan tabah menjalani kehidupan mereka ke depan tanpa kamu.

Kami pasti kehilangan kamu Ndry…. Tapi kami percaya bahwa ketentuan Allah adalah yang terbaik. Kasih Sayang kami besar, tapi takkan mampu menyaingi kasih sayang Allah untukmu.

Baik-baik disana ya, Ndry…beristirahatlah dengan tenang.
Bandung, Pagi baik saat Jumat, 28 November 2013

Andry

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge