Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » agar kita percaya, bahwa tak ada yang tak bisa Dia selesaikan…

agar kita percaya, bahwa tak ada yang tak bisa Dia selesaikan…

Dalam tiap masalah, sebenarnya tersimpan mutiara iman yang berharga.

Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja.

Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang?

Ada kalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNya.

Agar kita belajar percaya, tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Dia selesaikan.

*catatan kecil namun sangat berharga

@KBRI-Singapore 6 Januari 2011

=======================================================

Tulisan diatas adalah penggalan sebuah cerita dari seorang teman baik yang dikirim via ym, pertengahan Desember tahun lalu. Inti dari cerita itu memiliki nilai moral seperti yang ditulis diatas. Tentu saja saya memahami benar makna cerita tersebut sejak pertama kali saya membacanya. Sayang nya saya tidak sempat memahami lebih jauh apakah benar saya memahami dan tau rasanya bagaimana “saat pertolongan Tuhan seolah tak kunjung datang” itu. Alih-alih memaknai dalam hati, pikiran saya malah melancong ke status satu, dua orang yang ada di friendlist saya, yang sering sekali menulis kalimat2 syukur yang terkadang saya rasakan malah terkesan seperti pengumuman dan riya’ atas kesenangan yang dia miliki. Saya juga sempat berpikir, untuk orang2 yang “semua punya dan bergelimang uang atau fasilitas” tentu saja mudah sekali bersyukur karena keadaan baik2 saja. Tapi bagaimana kalau semua itu tidak ia punya, atau bila apa yang dia punya tak dapat membantunya.Saya bahkan sempat membahas soal ini pada sahabat baik saya, dan menanyakan; “orang2 kayak gini, akan menulis status yang sama gak ya kalo kondisi sudah diluar kendali dia,atau apakah dia tetap bersyukur dan tidak mengeluh bila seolah jalan keluar tak jua ditemukan. Ataukah masih seindah itu kalimat status2 nya bila pertolongan Allah seolah tak kunjung tiba. Kami berdua tidak menemukan jawabannya. Tulisan diatas pun kemudian berlalu meninggalkan benak saya.

meninggalkan inti cerita diatas sejenak, saya memikirkan diri saya hari ini…..

Saya termasuk orang yang percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, selain apa yang telah Allah rencanakan dan itu yang terbaik untuk saya. Saya juga, meski dengan penuh takut dan selalu berusaha melakukan yang terbaik, tetap berusaha menanamkan dalam benak saya, bahwa meskipun kita sudah berbuat baik dan mengikuti perintahNya, plus selalu berdoa mohon keselamatan, bukan berarti kita tidak akan di uji, bukan berarti tidak akan mengalami musibah, bukan berarti semua akan baik-baik saja dan berjalan sesuai yang kita inginkan. Sebaliknya musibah yang menimpa kita tidak selalu milik pendosa atau hukuman bagi orang2 yang berbuat dosa. Hanya Tuhan yang tahu.

Berusaha mendudukan semua perkara pada posisi tengah, membantu saya meminimalkan hasrat liar berbentuk sombong dan merasa lebih hebat dari orang lain, namun juga tetap tanpa mengurangi harkat untuk tetap mempunyai martabat dan tidak rendah diri. Introspeksi diri pada setiap kejadian yang terjadi pada diri kita, keluarga dan orang sekitar kita membantu kita belajar memaknai warna yang Tuhan torehkan pada sketsa luas di arasy Nya dengan rendah hati penuh kehambaan.

Dua paragraf diatas kemudian berkolaborasi dalam hidup saya secara berturut-turut dalam kurun sebulan terakhir kemarin. Diantara hingar bingar pergantian tahun, pembuka 2011, Allah berkenan memberi saya kesempatan untuk mengetahui bagaimana rasa yang sejati nya belum saya ketahui rasanya selain sebentuk kalimat “saat pertolongan Allah tak kunjung tiba”.

Mengejar dead line her registrasi dengan menggunakan waktu libur mengajar di laboratorium untuk menyelesaikan analisa sample agar studi lanjut ini segera selesai, ternyata harus digunakan untuk menjaga dua anak yang terserang demam berdarah, Saat waktu keberangkatan liburan yang sudah kami rancang hampir setahun makin dekat, namun kesehatan anak2 lambat sekali pulih dari sakitnya, padahal saya sudah melakukan yang terbaik dan seluruh ikhtiar, saat harus repot mengurus paspor yang hilang di Singapore, berharap SPLP selesai sebelum jadual kepulangan kami ke Jakarta, agar kami tak perlu tinggal lebih lama, padahal kami sudah dibantu kerabat kami menemui orang demi orang di KBRI sebelum akhirya sampai ke pejabat pengambil keputusan agar proses bisa dipercepat, hampir2 saya tidak bisa membedakan ini sebuah kepasrahan, keikhlasan ataukah asa yang telah pupus. Bahkan sekembali nya ke Jakarta, saya masih harus berurusan dengan hukum dan kepolisian ditengah carut marut manajemen internal institusi yang tak kunjung berakhir. Saya mulai mati rasa….

Saya bahkan tak mampu merangkai doa selain sebaris pengaduan…Tuhan, saya penat…tolong saya…

Namun saya tetap ingin ada dalam semangat tulisan di atas,

Apakah saya dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang?

meyakini bahwa ada kalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNya.

Agar saya belajar percaya, tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Dia selesaikan.

Alhamdulillah, anak-anak sudah sehat, tetap bisa liburan bersama keluarga besar dan saat ini sudah sekolah kembali. Delay pertolongan dari Allah sampai ke saat2 kritis memberi pengalaman batin buat saya dan pelajaran yang luar biasa. Tetap percaya dan sabar melakukan yang terbaik itu yang terpenting. Jumawa tak bisa membantumu meski kamu punya segala, ada kalanya ilmu dan uang mu tidak jua dapat membantumu, sombong adalah kosa kata milik Tuhan, bukan milik kita hambanya, hanya Allah yang paling tahu kapan waktu paling tepat dan dengan cara apa, dari arah mana pertolongan itu datang pada kita, dan di waktu2 penantian itu adalah waktu nya kita belajar banyak hal. Dan ketika waktunya pertolongan itu tiba, terasa indaaaaaaah sekali.

Carut marut kekuasaan, sample demi sample penelitian masih membelenggu saya, menjadi media pembelajaran yang disediakan untuk terus saya pelajari, tapi saya percaya…..Tuhan bersama orang2 yang benar di jalan Nya….

saya bersedia belajar untuk itu

jl Raya Bogor km 28, 8,

14 Januari 2011

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

2 comments

  1. Avatar

    saya juga memilih untuk tetap percara dan sabar 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge