41 tahun dan aku…

Happy birthday to you…
Happy birthday to you…
Happy birthday, happy birthday…
Happy birthday to you……………..

Lagu ucapan ulang tahun itu menyambutku. Dinyanyikan beramai-ramai oleh puluhan mahasiswa dan beberapa alumni yang berkumpul membentuk lingkaran, persis saat kakiku baru saja masuk ke dalam salah satu vila di Ciloto. Sekar, salah seorang mahasiswiku datang dari arah dapur membawa “kue tart” dengan lilin yang menyala. Aku tergelak riang sambil menggeleng-gelengkan kepala heran, terkejut dan senang. Bagaimana tidak, “kue tart” itu istimewa, terdiri dari empat buah lilin besar yang menyala di tengah-tengah Terong dan Jeruk yang disusun di atas piring semikian rupa dan dihiasi daun selada yang berkeliling menyerupai renda. Sebuah sambutan yang sederhana, namun indah di mataku. disiapkan oleh mereka yang membuat hidupku bermanfaat dan berarti.

Tak ada yang istimewa yang aku siapkan meski hari ini adalah hari istimewa. Aku dan keluarga kecilku sejak pagi sudah berkutat dengan kesibukan masing-masing, bahkan anakku kedua berangkat sekolah tanpa sempat mengucapkan selamat buat bundanya karena terburu-buru. Siang harinya aku masuk kerja seperti biasa sampai jam delapan malam, lalu sekeluarga melipir ke puncak menikmati kebersamaan berempat sambil menengok mahasiswa yang sedang melewatkan malam Inagurasi di Ciloto. 

Tapi hari memang sudah indah sejak pagi. Suasana musim penghujan yang sejuk membuatku enggan keluar dari selimut hangat kesayangan, betah di dalamnya sambil menyambut pagi dengan membuka satu persatu pemberitahuan yang masuk dari layar telepon seluler. Seperti biasa, mama dan papa selalu paling juara. Aku membaca ucapan selamat paling awal dari mereka, terutama mama yang tak pernah luput mengirimkan doa buat kami anak-anaknya bersama sholat malamnya. Aku selalu terharu membacanya. Di usia 41 tahun, setua ini, kasih sayang mereka bukan berkurang namun justru kurasakan bertambah sepanjang waktu. Mereka masih saja menjadi pelindung dan berada di barisan terdepan sejak dulu, bahkan kini bukan hanya untukku tapi juga untuk keluarga kecilku.

Pemberitahuan selanjutnya silih berganti masuk, ucapan selamat via sms, telepon dan jaringan sosial media. Satu persatu kubalas, mengucapkan terimakasih buat mereka yang ingat hari lahirku dan menyempatkan diri mengucapkan selamat dan doa. Sungguh berterimakasih pada semua yang mendoakan kesehatan, kekuatan, kemudahan, kesejahteraan, kesuksesan, kesabaran, kebahagiaan dan semua harapan terbaik yang mereka panjatkan untukku. Dengan penuh syukur dan harapan akan terkabul, aku mengamini doa dan harapan mereka sambil turut pula mendoakan yang terbaik buat mereka. Semoga Allah membalas dengan berlimpah.

41 tahun…
Entah apa lagi yang aku inginkan. Aku lebih banyak menghisab diri. Inget kata Yanti yang kelahirannya denganku hanya berselang tiga hari ketika ia kutanya, apa harapan di hari ulang tahunnya. Ia menjawab dengan sederhana namun dalam, “apa ya don? Gue sih banyak-banyak bersyukur aja, sudah banyak banget yang Allah kasih” #jleb. Lalu pertanyaannya, sudahkah aku mensyukuri semua yang Allah anugerahkan buatku selama 41 tahun.

41 tahun…
Mengingat-ingat lagi perjalanan hidup, banyak salah langkah, Kadang gak lulus ujian, mengulang kebodohan yang sama bahkan berkali menzolimi diri sendiri. Untuk semua itu aku hanya bisa memohon ampun atas semua dosa-dosa yang sudah aku lakukan selama ini. Umur panjang itu harapan hampir sebagian orang, namun umur panjang yang barokah dan bermanfaat adalah harapan utama. Seperti kata Fida, semoga bunda disayang Allah dan diangkat derajatnya, menjadi teladan seperti yang dikatakan Widi dan sebaik-baiknya hamba yang baik pula amalannya seperti kata Ai. Aamiin allahumma Amiin, terimakasih semua atas doa2nya.

P119009941 tahun…
Beberapa teman terdekat mendoakan hal yang baru kali ini aku doakan khusus, aku pengen menerbitkan buku tahun ini, minimal satu buah. Rani anakku yang kedua bahkan menempelkan hal ini pada salah satu dari 41 bintang yang aku siapkan untuk dituliskan doa, harapan, impian dan cita-cita. Menerbitkan buku yang bisa menginspirasi banyak orang, begitu katanya. Aamiin, nak. Semoga Allah mengabulkan.

41 tahun…
Rasanya dunia ini masih berkilau kemilau mempesona. Namun tak semuanya perlu diraih. Di usia sekarang urutan prioritasnya jelas, Tuhan, keluarga, karir dan hobi. Pengen lebih banyak waktu dengan keluarga, pelan-pelan menarik semua kegiatan baik yang berhubungan dengan karir, karya dan usaha bahkan hobi dengan keluarga sebagai orbitnya. Melibatkan suami dan anak-anak di dalamnya hingga aku tak perlu lagi mengkotak-kotakkan kegiatan karena semua terintegrasi menjadi satu kesatuan.

41 tahun…
Materi dan kepemilikan sudah tak lagi menjadi prioritas, atribut-atribut keduniaan bukan lagi menjadi sasaran tembak. Semua benda harus sesuai kemampuan, fungsi dan kebutuhan, gengsi dan prestise nomer sekian. Ilmu harus bermanfaat dan berbagi. Apalagi yang di cari, selamat dunia akhirat menjadi kata pamungkas. Menjadi sebaik-baiknya hamba Allah, menjadi sebaik-baiknya anak, sebaik-baiknya istri, sebaik-baiknya ibu, sebaik-baiknya dosen, sebaik-baiknya teman dan sebaik-baiknya manusia. Terlalu abstrak memang, karena terlalu pribadi rasanya harus mendefinisikan apa itu sebaik-baiknya diri. Tapi apapun itu, sekali lagi saya bersyukur dan berterimakasih pada setiap doa yang dipanjatkan, semoga Allah mengabulkan dan membalas kebajikan mereka semua.

aamiin

 Oh ya, satu lagi terlupa, Rani – melalui whiteboard – mengatakan bunda jangan sering marah  hehehe.

Ciloto, 18 Januari 2014

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Between Three Ends Plus and The Power of Content

Harus ada yang menyuarakannya! Kata-kata itu menusuk telak di jantung saya saat Kang Maman Suherman ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge