Home » Cerita di Balik Kisah » Yang Kusebut Surga itu….. #ArgaSeries #3
melati

Yang Kusebut Surga itu….. #ArgaSeries #3

“Keindahan semisal bunga dibalik jendela….
indah namun terpisahkan.
Terlihat namun tak tersentuh.
Bukankah kau yg patahkan kuncinya?”

Fajar terlihat berwarna merah dibalik bingkai jendela kamar pagi ini. Sejatinya indah, ada keinginan untuk segera mengabadikannya melalui kamera ponsel seperti yang biasa aku lakukan, lalu mengirimkannya ke Arga sebagai ucapan selamat pagi, bukan hanya foto-foto langit yang kukirim, apa saja yang aku anggap indah setiap pagi menjelang pasti aku abadikan dan kubagi pada Arga, termasuk keindahan seraut wajah perempuan yang baru bangun dari lelap dengan rambut acak-acakan yang terlihat di cermin. Tapi pagi ini ada yang berbeda, ada yang menghalangi ku melakukan hal yang hampir setiap pagi aku lakukan, aku tiba-tiba teringat percakapan terakhirku dengan Arga tadi malam, saat ia mengatakan. “kita coba ya dis…gak berkomunikasi sama sekali”,
mendadak tubuhku membunyikan alarm tanda peringatan, “Arga memintamu untuk tidak menghubungi dia, apapun bentuknya”

Tentu saja tadi malam aku bersikeras, ngotot mengatakan aku pasti tak akan bisa bila harus seperti itu, “aku bisa gila, Ga…” begitu kataku kemarin tanda tak setuju.
Arga tak kalah bersikeras, percaya deh, kamu gak akan gila. Harus dicoba dis, biar kita sama-sama enak. Aku gak mau kamu tersiksa dengan segala macam permintaanku dan aku juga gak mau tersiksa dengan semua keinginanku”, begitu Arga mencoba menjelaskan lebih lanjut.

Rasanya sedih sekali membayangkan tak ada sosok Arga dalam hari-hari ku ke depan nantinya. Tak ada panggilan aneh di pagi dan malam hari, tak ada yang iseng kirim bulatan2 kuning lewat layar ponsel, tak ada suara hening malam kamarmu, dan tak ada yang menggoda ku dengan keisengannya. Aku mencoba menawar, “jangan memaksaku, Arga. Kamu tau, aku dan kamu sudah pernah sama-sama mencoba cara seperti ini beberapa kali, memutus semua akses, menghapus semua nomer telepon bahkan memutus akses ke seluruh akun dimana kita terhubung melalui sosial media dan terbukti kita gak mampu.

“Sedih, Ga…”
“Sedihnya paling hanya sebentar, dis…lama kelamaan akan terbiasa”
“Aku bikin salah lagi ya, Ga….?”
“Kamu gak bikin salah, ini cuma untuk menenangkan jiwa kita berdua, aku ingin tenang dis…”
“kamu terganggu?
“ya, aku terganggu dengan perasaan2 ku, aku tau kamu pasti tersiksa tapi aku juga gak bisa begini terus adis, aku gak nyaman.”
“aku harus gimana supaya kamu nyaman?”
“Aku ingin kita berdua sama-sama nyaman, tapi kejadiannya kita ga bisa seperti itu khan, jadi kita coba langkah ini”

Aku merasa percakapan ini tak ada gunanya diteruskan, Arga terlihat mantap menempuh jalan ini, aku berserah pada keinginan Arga….rasa gak bisa dipaksakan meski aku tau pasti rasa juga gak semudah cara ini untuk dihilangkan. Saat ini Arga yang pegang kendali dan aku pasrah pada keinginannya.

Maka kuurungkan menyentuh menu “share” pada foto yang baru saja aku ambil. Kurebahkan kepalaku kembali ke peraduan, memandang gambar sekuntum melati tumpuk yang baru hari ini mekar sempurna dilayar berukuran 7 in dihadapanku. Aku gak sempat memamerkannya foto ini lagi padamu, Ga. Padahal baru kemarin aku mengirimkan gambar kuncupnya, sambil bercanda manja, “liat dong…. tanamanku mulai berbunga”, dan kau sambut dengan kalimat “ah, besok-besok juga kamu akan bosan lagi mengurus tanaman”.
Baru kemarin aku mendengarmu bercerita, membanjiriku dengan berbagai lagu dan gambar, dan mendengarkan kamu bersenandung. Disaat yang sama, kamu pun tak bosan mendengarku berceloteh tentang surga kecil diteras atas rumah, sekotak bidang di depan kamar tempatku sambil sesekali ikut bersenandung atau tertawa kecil mendengar suara pagimu, seraya menyirami tanaman cabai yang baru kusemai, memandangi melati yang mulai keluar kuncupnya dan gerombolan buah mangga yang bergantungan diatas tembok.

Kepalaku mencoba mencerna saat-saat terakhir itu, satu kalimat yang kuabaikan kemarin. Baru pagi ini aku mencernanya perlahan. Ada pertanda yang kau selipkan melalui kalimat kemarin, “bila disitu surgamu, mengapa ingin kau tinggalkan demi aku?”

Aku gak sempat bilang ke kamu, Ga….yang kusebut surga itu karena ada kamu yang menyambanginya setiap pagi…
Masihkah itu surga buatku, bila kau tak ada lagi disana.

aku pun menghela nafas panjang, menutup layar dan sekuntum melati……

hening…..

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

One comment

  1. taka a deep breath… *nunggu kisah selanjutnya*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge