Home » Family and Parenting » traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…
P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya.

Cuplikan kalimat yang aku ambil dari buku yang tak pernah turun dari tas karya Kahlil Gibran yang berjudul Pasir dan Buih ini seolah menjadi pengantar perjalanan kami sekeluarga menghabiskan libur lebaran tahun 2012. Diba dan Rani, begitu aku memanggil duo gadis kecilku seolah tak berhenti berceloteh di dalam taksi menuju Bandar Udara International Soekarno Hatta Jakarta, meski mereka baru beberapa jam lalu tiba dari Bandar Lampung usai mudik lebaran di rumah kakek. Tak terlihat lelah di mata mereka kecuali antusias luar biasa karena akan melanjutkan libur mereka beberapa tempat di Jawa Tengah.

Seperti kalimat di awal tulisan ini, begitulah cinta berlagu melalui bibir anak-anak, ekspresi kebahagiaan bisa traveling bersama anggota keluarga kecil kami lengkap berempat. Betapa tidak, berbeda dengan aku, ibu mereka yang memiliki waktu lebih fleksibel dibanding mereka yang terikat oleh kalender akademik, aku lebih memiliki banyak peluang untuk melakukan perjalanan. Meski aku kemudian seringkali mengganti kesempatan yang hilang untuk traveling bersama keluar kota dengan mengagendakan perjalanan bersama ke tempat-tempat yang tak jauh dari Jakarta, toh selalu ada lagu rindu yang mengalun disetiap perjalanan sendiriku untuk membawa serta mereka ke tempat-tempat yang pernah aku kunjungi.

Seperti biasa perjalanan kami selalu memanfaatkan tiket promo dari berbagai maskapai penerbangan. Kali ini promo Nol Rupiah dari Air Asia yang cukup ditebus dengan biaya Asuransi Jasa Raharja sebesar 5.000 rupiah sekali jalan menjadi tiket kami berempat, sehingga hanya dengan 40.000 rupiah terbanglah kami melalui rute Cgk-Smg untuk menelusuri tempat-tempat menarik di Semarang, Dieng dan Pekalongan.

Tak terlalu repot berpergian dengan dua anak yang sudah menjelang remaja. Diba yang berusia 12 tahun dan adiknya Rani yang hanya terpaut usia satu tahun dari kakaknya, sudah terbiasa mandiri sejak kecil. Dengan packing list yg biasa kami gunakan sebagai panduan berkemas, Diba dan Rani tak mengalami kesulitan apapun untuk berkemas sendiri setiap berpergian, hanya saja bedanya kali ini, mereka harus berkemas seefisien mungkin dan menata barang bawaan mereka tidak di travel bag seperti biasanya namun di ransel masing-masing. Tas dan isinyaseberat kurang lebih 5 kilogram itulah yang akan memenuhi kebutuhan mereka selama lima hari ke depan, ke beberapa kota dan bertanggungjawab penuh segala keperluan mereka selama perjalanan. Maka, dengan penerbangan paling pagi kami pun memulai perjalanan.

Cerita selengkapnya insyaallah akan aku tulis secara bertahap, namun izinkan aku menulis ulang tulisan singkat Diba di bawah ini. Tulisan apa ada nya dari seorang anak…. dan ini lah bagiku makna tulisan Kahlil Gibran diatas, lagu cinta seorang ibu yang mengalir dari bibir anaknya.

Selamat menikmati.

Liburan Ala Backpacker

Judul diatas bukan sembarang judul, karena aku benar-benar sedang belajar jadi backpacker. Salah satu syarat: semua kebutuhan individu ada didalam backpack/ransel masing-masing. Liburan low budget/biaya rendah dan tidak mengeluh.
Awal cerita dimulai di Depok. Aku terpaksa melewatkan pesantren kilat di SMPN 15 Depok karena aku harus berangkat lebih cepat, bundaku baru pulang dari atambua waktu itu, tapi aku harus mudik lebih cepat karena itu aku mudik dengan sepupuku.
Aku mudik ke Palembang walaupun dengan cara bertahap. Kami ke Pelabuhan Merak dan pertama kalinyanya aku naik kapal bertitel MEWAH, mewahnya nama kapal itu Dharma Kencana IX karena isinya bak kapal pesiar, dilayani pelayan, ruangan eksekutif dan tidak dikenai biaya tambahan. WOW!.

Sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, kami langsung menuju rumah nenekku, perutku keroncongan, aku terpaksa membatalkan puasaku, maklum kurus-kurus begini perutku perut karet. Aku terkejut ketika memasuki kota Bandar Lampung. Wah, tempat ini lebih maju, tampak disana-sini pekerja bangunan sibuk membangun fly over/jalan layang, mall disana-sini. Kota ini layak disebut kota masa depan.
Aku mempercepat ceritaku, kalau tidak kertas ini bisa jadi tidak cukup, jadi sesampainya sepupuku yang lain dan ortuku yang menyusul, kami langsung berangkat ke Baturaja, Sumsel, jarang sekali orang tahu kota Baturaja. Sebenarnya apa yang kami lakukan? Jawabnya, ziarah. Jadi selama di sana kami keturunan Pangeran Djahrie berziarah ke makam-makam keluarga besar Pangeran Djahrie. Seusainya kami beranjak ke Palembang. Bismillah.

Aku melewatkan cerita sholat ied ya, seusai sholat Ied kami makan ketupat lalu bergegas ke Palembang, menginap selama dua hari. Seusainya kami pulang ke Lampung. Esoknya kami ke Jakarta. Lalu tanggal 14 Agustus kami ke Bandara International Soekarno-Hatta untuk ke Semarang. Backpacker kok naik peswata sih? Aneh ! ya karena kami naik pesawat Air Asia yang kelas ekonomi dengan tiket promo seharga 5.000 rupiah! Lebih murah dari pajak bandaranya hehehe. Tiket pesawat kok lima ribu!
Sesampainya di Semarang kami bergegas menuju Dieng, kami sudah memesan homestay, tour guide dan mobil. Tour guide kami namanya oom amiem, orangnya asik, dia juga bawa temannya om Tako dan Om Ahmad.
Di Dieng pada pagi buta kami naik ke puncak gunung sikunir, wakau dingin asal niat pasti bisa, aku kebetulan membawa handphone, apa yang terjadi ternyata ada sinyal!!! Tapi yang kami tunggu bukan sinyal, tapi matahari terbit yang cantik, Ya Tuhan, betapa cantiknya alam di Indonesia, bantu kami untuk menjaganya.

Dari Dieng kami ke Pekalongan, sampai di Pekalongan kami pamit dengan oom-oom tour guide, kami menginap di hotel Gren Mandarin, bundaku reuni dengan teman-teman SMA, aku bermain dengan anak-anak teman bunda yang sebaya denganku.
Seusai dari Pekalongan, kami kembali ke Semarang dengan kereta Kaligung Mas, menginap di hotel Pandanaran lalu ke Lawang Sewu, Sam Poo Kong dan ke rumah eyang Mamok. Hari itu tanggal 17 Agustus 2013, jadi wajar dong kalo jalanan macet.
18 Agustus 2013, kami ke Bandara Ahmad Yani. Rasanya tak ingin pulang, tapi Jakarta dan Depok bukan tempat yang buruk, betul? Taksi dari bandara mengantarku pulang kerumah. Jadi para pembaca, apakah anda berniat jadi backpacker?

[DI] Rizka Farah Diba Dianti
18 Agustus 2013
Depok

About donna adofani

Check Also

15thn

15 tahun…wedding anniversary

Tahun ini genap 15 tahun usia pernikahan kami dan 13 tahun saya menjalani kehidupan dengan ...

3 comments

  1. Kok aku kepingin nangis baca ceritanya Diba, haru.. Nanti, apakah Daffa' & Abyan bisa membuatku menagis dengan cerita sebagai backpacker? Love it!

    • donna imelda

      insyaallah….pasti banyak cerita nanti antara kalian bertiga. Tapi apakah Daffa atau Abyan akan menulisnya kelak mungkin harus di stimulan sejak dini, Noe. Kebetulan Diba dan Rani dari semenjak bisa nulis sudah dibiasakan berkomunikasi lewat tulisan meski sekedar, “hai Bunda…I love you…” Ah..percaya lah, kalo emaknya model Nurul mah….bisaaaaaa

  2. hai pembahasannya sangat menarik, terima kasih sudah berbagi informasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge