Sunday, September 24, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Transformasi Pengorbanan, sebuah renungan Idul Adha
idul adha

Transformasi Pengorbanan, sebuah renungan Idul Adha

Takbir sudah mulai berkumandang, aku belum beranjak dari ruang kerja sejak siang tadi. Mendung yang menggelayuti langit cimanggis sepanjang hari membuat ruang kerja lebih dingin dari biasanya, seolah melengkapi muram senja hari ini.

Tak mampu kupaksakan menebar senyum untuk membuat hangat suasana kerja tempat ini, menenggelamkan diri dalam tumpukan kertas kerja dan laporan kuanggap jauh lebih baik dibanding membiarkan pikiran ku liar berkelana memikirkan sesuatu yang tak pantas mendapat porsi dipikir dan benakku, sambil menunggu waktuku menunaikan kewajiban ku malam ini….mengajar jam delapan nanti.
=================

Langkah pertamaku tertahan di pintu kelas, beberapa mahasiswa memandangku penuh harap…”ibu, malam ini khan takbiran….kuliah kosong ya bu…..? Terlihat wajah2 lesu sepulang kerja mengajukan permohonan.
Aku tersenyum…ganti memandang mereka, dalam hati berkata…..

“Tuhan, andai mereka tahu, betapa takbir itu mengiris-iris hatiku dan menggetarkan seluruh saraf ditubuhku,
andai mereka tau, betapa inginnya aku saat ini berlari, mengunci diri dalam kamar hangatku dirumah, dan melepas seluruh penatku….berdua, hanya berdua…..hanya aku dengan Tuhanku”.

Namun sudah kuputuskan….kelas harus berjalan..dan kalimat yang keluar menyusul senyumku adalah…
“ok, class….., kita lanjutkan pembahasan minggu lalu mengenai mechanical energy balance….
dan mereka pun pasrah sembari membuka buku.
==================

B 8196 OB membelah dinginnya malam, mengantarku pulang menemui Mu, kubuka kaca lebar2 sepanjang jalan raya bogor dan membiarkan takbir yang masih berkumandang bersama dengan hembus dingin angin terus mengiris-iris benakku.
Ingin kunikmati kebesaran Mu, Tuhan….masuk kedalam seluruh aliran darahku….menyentuh seluruh rindu ku, malu ku, harap ku, perih ku, penat ku….utuh, penuh, seluruh….
sampai ku tersungkur……..

siapa aku di banding utusan Mu….
yang begitu ikhlas menempatkan diri sebagai sebenar2nya hamba dihadapan sang pencipta
merelakan anaknya untuk dipersembahkan meski dengan menghilangkan nyawa belahan jiwanya

tak seujung kotoran kukupun, aku mampu bersanding
kesombongan besar bila ku mampu mengatakan aku mengorbankan diriku
karena bahkan untuk nikmat anugerah yang Kau beri pun, aku lalai bersyukur.

Bila bukan karena sayangMu memanggilku malam ini
maka aku tidak akan pernah merasakan rindu ini
bila bukan karena sayangMu membuatku merintih malam ini
maka aku tidak akan pernah merasakan butuhku

seorang hamba papa dan hina…..
penuh malu memohon….

Peluk aku Tuhan……
dan jangan pernah lepaskan aku

Peluk aku Tuhan….
malam ini….

=====================

Tuhan….
Ketika hewan qurban disembelih …..mudah2an kami menyembelih pula sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kami.
Jangan biarkan kami, manusia jatuh derajatnya menjadi ”binatang”,karena sifat-sifat bahimiyyah (kebinatangan)yang telah melingkupi perangai dan perilaku kami….

Tuhan…..
Ketika menyaksikan penyembelihan hewan qurban,
kami belajar bahwa Engkau pada hakikatnya tidak membutuhkan apa-apa, termasuk persembahan. Perintah itu hanya untuk menguji ketaatan kami dalam merespons pesan dan perintah Mu
=============

Dan mengapa Engkau memerintahkan menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba …..
Karena Engkau mengajarkan bahwa manusia manusia adalah makhluk yang sangat mulia disisi-MU.
Bukan untuk dikorbankan seperti yang dilakukan orang-orang jahiliyah

Teringat sebuah fenomena disebuah negeri antah berantah….
bila manusia merupakan makhluk paling mulia di banding makhluk2 lain yang Engkau cipta
Maka sungguh aneh kalau di zaman sekarang ada orang yang dengan mudahnya mengorbankan sesama manusia demi mengejar kepentingan pribadi dan jabatannya…..

menginjak-injak manusia lain dan harkat kemanusiaannya.
Berkhianat terhadap amanah jabatan yang diembannya dan menempatkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain……
menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan berbagai jabatan dan kedudukan yang dianggapnya menguntungkan diri dan kelompoknya.
Mempertahankan jabatan walaupun secara etika dan moral sudah tidak layak disandangnya

=========================
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dua manusia terbaik yang ada di bumi telah berhasil mengangkat nilai martabat manusia pada kedudukan yang sesungguhnya, penghambaan secara total kepada Sang Khalik. Ibrahim menyerahkan putranya untuk disembelih dihadapan Allah, sebuah penggambaran totalitas ketertundukan seorang manusia kepada Tuhannya.

Melalui Nabi Ibrahim, manusia telah melihat sebuah nilai pengorbanan yang bersih dari nilai-nilai kesombongan, keangkuhan, dan kesemuanya hanya tertunduk patuh pada-Nya.
Kerelaan Nabi Ismail untuk disembelih merupakan perwujudan cinta kasih yang sangat luar biasa kepada sang ayah atas nama Tuhan. Ketika pengorbanan diminta, tak ada perdebatan, tak ada keberatan, tak ada penolakan sedikitpun, inilah manusia yang mulia yang mampu membebaskan dirinya dari belenggu nafsu yang selalu mengajak untuk cinta dunia secara mutlak.

semoga aku….bisa belajar lebih banyak

9 Djulhizah 1430 H
masih ditempat yang sama
teras muka kamar atas nirmala II

*spesial thanks for Tie….
untuk 5 menit tadi malam
tentang makna sebuah peristiwa
“jangan berburuk sangka dengan Dia….”

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge