Home » Cerita di Balik Kisah » Tentang Arga #ArgaSeries #2
6883576063_fdbf7c6ac4_z

Tentang Arga #ArgaSeries #2

Aku dan Arga bertemu enam tahun lalu setelah berpisah selama 20 tahun. Lama terpisahkan samudera diantara dua pulau besar negeri ini kala kami masih remaja berseragam putih biru tua. Bahwa lalu kami bertemu kembali diwaktu yang sudah tak tepat lagi inilah yang kemudian menjadi pangkal rangkaian never ending story diantara kami bertahun-tahun.

Terhitung sudah memasuki tahun ke enam kami bertemu lagi kala kami sudah sama-sama dewasa. Tak disangka, kenangan masa kecil membuat kami saling mencari dan berhasil bertemu kembali. Ini yang sering kusebut bahwa, kerinduan selalu akan membawa seseorang pada penemuan penemuan dimana rindunya bermuara, terlebih aku yang memang dengan sengaja dan penuh kesadaran tak pernah meninggalkan sedikit pun kenanganku tantang Arga kemana pun aku melangkah.

Arga seumur denganku, karakternya yang keras, tak banyak bicara namun sensitif sudah terbentuk sejak kecil. Aku ingat kala kami masih anak-anak, meski kami satu sekolah bertahun-tahun, Arga jarang sekali bermain bersamaku. Dari beberapa teman lelaki yang kerap bermain dan belajar bersamaku, nama Arga tidak termasuk di dalam salah satu teman di lingkaran terdekat, ia lebih memilih teman laki-laki. Di umur yang masih sangat belia itu, aku sudah melihat Arga berbeda dibanding teman-teman lainnya, setidaknya dimataku. Aku sering mengawasinya dari jauh, memperhatikan apa yang dikerjakannya, dan merekam dengan baik apa yang kulihat itu hingga aku dewasa. Arga memang istimewa, setidaknya bagi seorang Adis kecil.

Arga meski cenderung penyendiri, namun jahil. Saat berkumpul dengan teman yang lain ia bisa membuat suasana menyenangkan dengan gurauannya yang khas. Aku menikmati semua tingkah lakunya bila kebetulan sedang berada di tempat yang sama, meski tak urung kejahilannya itu pernah membuat aku kecil sampai menangis dan dipanggil ke ruang guru. Tapi itulah Arga, sementara aku masih sesenggukan sambil mendengarkan petuah guru, Arga mendengarkan dengan santai, tetap dengan mimik wajahnya yang khas, jahil tanpa merasa berdosa. Ah…betapa kesalnya aku kala itu.

Kemudian kami sama-sama tumbuh menjadi remaja. Kota kecil tempat kami tumbuh dan besar memungkinkan kami untuk tetap melanjutkan di sekolah yang sama. Kami pun mengganti warna putih merah seragam kami menjadi putih biru tua. Tapi sejak itu kami tak pernah lagi bersama. Bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai sekolah yang berbeda, membuat jarak yang memang telah ada menjadi lebih jauh. Kami jarang sekali bertemu, kelas kami berjauhan. Bila bertemu pun aku berusaha menghindar tatapan matanya. Bagaimana tidak, Arga cepat sekali bertumbuh, bukan hanya semata fisik, Arga yang berubah menjadi remaja tampan bertubuh tinggi tegap digandrungi teman-teman sebaya, sementara aku merasa masih saja kanak-kanak, tak cantik seperti teman-teman lain, tak mudah bergaul dan bukan termasuk dalam kelompok anak-anak terkenal di sekolah kami yang baru. Secara mental ini membuatku minder, maka makin menjauh aku dari Arga dan makin asing lah sosok Arga dimataku. Sejak itu…..aku kehilangan Arga

***

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge