Home » Uncategorized » [Tantangan Pojok WB] – Aku dan Cerita di Balik Permainan Masa Kecil

[Tantangan Pojok WB] – Aku dan Cerita di Balik Permainan Masa Kecil

Permainan masa kecil? Hm…, saya tersenyum simpul saat menerima tantangan dari Diah untuk menulis tentang permainan masa kecil yang masih dimainkan hingga saat ini. Tak mudah memang, karena saya harus flash back ke belakang cukup jauh puluhan tahun ke belakang untuk mengingat-ingat kembali permainan apa saja yang kerap saya mainkan kala itu. Namun membayangkan itu semua, saya justru merasa terhibur.

Ada banyak kenangan masa kecil yang menyenangkan dalam setiap permainan yang berhasil saya ingat. Namun tulisan ini tidak bermaksud menjelaskan bagaimana cara bermain, namun lebih kepada hal-hal yang menyenangkan dalam permainan tersebut. Berikut adalah delapan diantara sekian banyak permainan tersebut:

1. Engklek atau Tapak Gunung
Permainannya sederhana, kita hanya melompat-lompat di dalam petak-petak dengan menggunakan salah satu kaki sebagai tumpuan untuk mengambil gacoan. Waktu saya kecil dulu, gacoan ini terbuat dari pecahan genting atau keramik lantai yang bagian sisinya kita haluskan atau kita bentuk sesuai dengan yang kita inginkan. Gacoan tersebut lalu kita lempar ke dalam petak-petak yang telah dinomori tersebut secara berurutan. Pemain harus memastikan lemparannya masuk ke dalam petak yang dimaksud dan tidak menginjak garis petak saat melompat dan mengambil gacoan.

Lucunya, saya dan teman-teman kecil punya kebiasaan untuk meniup-niup gacoan andalan sambil mengucapkan mantra sebelum dilempar. Tak tahu pasti apa yang masing-masing kami ucapkan dalam hati saat meniup gacoan tersebut, yang jelas harapan kami sama, yaitu dengan meniup dan mengucapkan mantra, maka gacoan yang kami lempar akan mendarat tepat di sasaran hehehe. Karena kalau tidak mendarat di dalam kotak yang dimaksud atau mendarat di atas garis petak, maka kami harus menyerahkan giliran melompat pada teman yang lain.

2. Bola Bekel
Nah, ini salah satu permainan favorit saya, melempar bola bekel ke udara lalu cepat-cepat mengambil sebanyak mungkin biji bekel sebelum bola bekel yang tadi dilemparkan turun. Kita harus menangkap bola yang turun sambil tetap menggenggam erat biji bekel yang kita ambil tadi. Letak serunya adalah saat kita bernafsu mengambil sebanyak mungkin biji bekel dengan melempar sejauh mungkin bola bekel ke atas. Inginnya supaya bola tak cepat turun dan kita punya waktu lebih untuk mengambil biji bekel. Tetapi kejadiannya sih bolanya tak tertangkap, biji bekelnya malah berhamburan kemana-mana hehehe.

3. Petak Umpet
Letak seru permainan ini adalah pas ngumpetnya. Rasanya prestasi banget kalau bisa mepet-mepet tembok, masuk-masuk ke kolong atau bersembunyi di balik pohon sambil mengintai Hong –tempat teman yang jadi kucing berjaga— tanpa ketahuan. Saya biasanya cukup jahil dengan sengaja berlama-lama menyentuh Hong saat si Kucing lengah setelah teman-teman banyak yang sudah ditemukan. Semakin banyak yang dibebaskan maka makin seru ekspresi teman-teman tersebut saat saya menyentuh Hong. Teman-teman yang sudah ditemukan pun tertawa-tawa gembira terbebas dan kembali bersembunyi, meninggalkan teman yang jadi kucing kembali berjaga dengan wajah yang kecewa.

4. Congklak
“Nggak boleh ngitung lho… nggak boleh ngitung!, ah curaaaang, kamu pasti sudah ngitung ya?!”
Kalian yang sering main congklak waktu kecilnya pasti tahu maksudnya hehehe. Saya termasuk yang rajin pura-pura fokus melihat teman yang sedang memainkan gilirannya bermain, memasukan satu persatu biji congklak ke dalam lubang. Padahal, di waktu yang bersamaan saya juga sedang menghitung jumlah biji congklak yang ada. Tujuannya agar pada saat saya mendapat giliran bermain, biji congklak di tangan saya tak akan habis atau jatuh di lubang yang kosong. Karena bila hal itu terjadi maka saya harus menyerahkan giiliran bermain pada lawan dan kesempatan saya untuk menumpuk sebanyak mungkin biji congklak di lubang lumbung akan berkurang.

5. Monopoli
Nah, kalau permainan ini saya tak tahu strateginya kecuali let it flow tergantung keberuntungan pada jumlah angka dadu yang dilempar. Saya menduga, di antara beberapa jenis kecerdasan yang dimiliki manusia, kecerdasan finansial saya memiliki skor paling rendah dibanding kecerdasan emosional atau akademik saya. Hal ini terlihat dari kecil, dari cara saya memainkan uang kertas monopoli yang saya miliki, sehingga saya yang tak pernah jadi yang terkaya dibanding pemain lainnya. Alhasil, saya lebih suka mengambil peran menjadi bankir saat bermain.

Ketika dewasa pun demikian. Hingga saat ini saya tidak terlalu risau dengan berapa banyak uang yang saya harus dapatkan dan bagaimana ca membelanjakannya. Yang penting pas!, pas butuh pas ada hehehe. Saya tak pernah ingat berapa harga minyak, beras, gula cabe dan tak pernah sekalipun menghitung kembalian uang belanja. Uang bagi saya penting tapi bukan satu-satunya alat atau cara untuk bahagia.

6. Lompat Tali atau Lompat Karet
Hmm, yang ini saya jagonya. Maklum, saya memang dari kecil pertumbuhan tubuh saya lebih banyak ke atas daripada ke samping. Kaki saya cukup panjang dibanding teman-teman sebaya saya. Jadi saya punya kemampuan untuk melompat lebih jauh dan lebih tinggi. Gara-gara ini saya sering bikin teman saya kesal. Karena kalau saya dapat giliran lompat, maka saya dapat melampau rintangan seberapapun tingginya mereka, koprol juga bisa. Tapi kalau saya yang dapat giliran jaga, gara-gara saya tinggi, teman-teman pun terpaksa harus bisa melompat lebih tinggi dari standar normal hehehe.

7. Ular Naga
Ini permainan yang paling membosankan buat saya kecil. Berbaris, berpegangan dan mengulang-ulang lagu yang sama untuk sekedar menunggu giliran ditangkap dan ditanya hal yang sifatnya tebak-tebakan belaka. Makin panjang ular naganya, maka makin lama permainannya dan makin membosankan. Biasanya saya menolak ajakan memainkan permainan ini kecuali untuk mengajak anak-anak yang usianya jauh lebih kecil dari saya untuk bermain. Tentu saja bukan saya yang jadi ular naganya hahaha. Curang

8. Kasti
Sebagai penutup, saya mau cerita nih. Saya sering menyampaikan pada anak-anak saya kalau permainan Kasti ini adalah permainan kebanggaan jaman saya. Jaman dulu, ruang terbuka atau lahan kosong tak sesulit saat ini, apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta. Dahulu setiap sekolah punya lapangan yang luas untuk bermain dan olah-raga. Tempat bermain terbuka pun banyak sekali dan mudah ditemukan kala itu.

Permainan kasti memang membutuhkan area yang luas, tak heran bila dengan makin menyempitnya ruang terbuka maka makin jarang pula saya mendengar permainan ini dimainkan oleh anak-anak seusia saya kala itu. Ada sih yang mirip-mirip, tapi jauh lebih keren yaitu Softball. Tapi ya hanya anak-anak dari kalangan mampu yang bisa memainkan permainan ini dan tak akan dijumpai di sekolah.

Kepuasan dalam permainan bola beregu ini terletak pada kemampuan untuk berlari secepat mungkin mencapai tiang atau patok pemberhentian tanpa terkena lemparan bola dari pihak lawan. Atau sebaliknya, kepuasan didapat bila berhasil membidik lawan dengan bola kasti sebelum yang bersangkutan mencapai tiang pemberhentian. Mengingat begitu senangnya saya bermain kasti waktu kecil, saya sungguh heran kini, mengapa setelah dewasa saya tak senang lagi berlari.
Mungkin karena saya terlalu sering lari dari kenyataan. #eh

Tulisan ini dibuat dalam rangka tantangan Pojok WB. Aku dapat challenge dari Diah dan menantang Rudi

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

9 comments

  1. Permainan masa kecil memang selalu bikin kangen. Apalagi anak2 sekarang banyak yg ninggalin permainan tradisional. kebanyakan suak main game online 🙁

  2. Ketahuan Mbak Dknna masa kecil ya tahun berapa hahahaa

    Aku dulu jago main bekel loh mbak :v

  3. Aku masih ngerasain 8 permainan itu mak, seru banget.
    Tapi sayangnya gak semua anak-anak zaman sekarang pernah coba ke-8 permainan itu ya mak..

  4. waaaaa mbak donna waaaaa, aku juga kadang masih main. Kalau liat anak kecil jaman sekarang, udah jarang banget yang main beginian 🙁

  5. kasti aku main jaman SD
    Lidya recently posted…Membuat JetPack Ala Aa dan AdeMy Profile

  6. Permainan masalalu lebih interaktif, sehingga lebih memberi konstribusi positiv pada tumbuh kembang anak
    Nefertite Fatriyanti recently posted…Pemberdayaan Perempuan Bersama SerempakMy Profile

  7. Permainan di saat kecil memang sangat menghibur, pengen main2 lagi kayaknya, bebas lepas
    Salman bluepackerid.com recently posted…10 Destinasi “Populer” Backpacker di IndonesiaMy Profile

  8. Permainan masa kecil yang sampai saat ini masih bisa dan asyik buat seusiaku (hahahaha … kesannya tuek banget ya), adalah congklak. Aku masih suka lho mainin ini.

  9. Btw, monopoli sampe sekarang masih bnyak yg main lo mbak,.. Let’s get rich klau gak salah nama permainannya.
    o iya, dan saya ingat juga tuh, permainan kasti ini waktu saya SD dulu malah di jadikan olah raga wajib “penjaskes”, sampai2 ambil nilai untuk raport nya juga bermain kasti..
    hhe..
    san sinichi recently posted…Tentang Impian: Travel BloggerMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge