PC161383

Tamu Dari Baduy

Aku masih berkutat dengan lembaran-lembaran bukti pembayaran mahasiswa jelang siang hari itu,  Senin, 12 Desember 2013 sekitar pukul sepuluh pagi saat telepon di ruanganku berbunyi . Di ujung telepon terdengar suara suamiku dengan nada yang tak biasa dan tergesa-gesa menyampaikan bahwa ada beberapa orang tamu yang tidak ia kenal datang mencariku. Aku terkejut bukan kepalang, tak percaya bahwa mereka yang datang. Akhirnya sampai juga mereka di rumahku setelah pertemuan kami tujuh bulan yang lalu. Segera aku selesaikan pekerjaan dan membenahi meja kerja ala kadarnya lalu bergegas pulang untuk menemui mereka, tamu dari Baduy.

Hanya perlu waktu tempuh dua puluh menit untuk tiba di rumah, namun waktu yang singkat itu cukup membawaku sejenak melayang ke sebuah perjalanan yang mempertemukan aku dengan mereka. Pada tanggal 24-27 Mei 2013 aku bertolak dari Jakarta menuju Serang menggunakan Kereta Api Kalimaya bertarif dua puluh ribu rupiah melalui Stasiun Tanah Abang pada pukul 16.30 WIB. Selama kurang lebih tiga jam aku menempuh perjalanan untuk bergabung dengan peserta Writing Camp lainnya di Rumah Dunia. Rencananya kami akan bersama-sama berangkat esok pagi menuju Desa Cibeo, Baduy Dalam untuk belajar menulis catatan perjalanan sambil merasakan langsung perjalanan yang akan kami tulis.

Perjalanan panjang seusai Sholat Subuh harus kami tempuh dari Serang, Banten. Menggunakan Kereta Api Ekonomi Rangkas Jaya bertarif empat ribu rupiah dan disambung dengan menggunakan angkutan umum sampai ke Desa Ciboleger yang merupakan desa terluar Suku Baduy. Dari situ kami masih harus menuntaskan perjalanan sampai di perkampungan Suku Baduy Dalam dengan berjalan kaki selama 3,5 jam untuk menempuh panjang perjalanan sekitar 13 km lalu esok harinya kembali lagi ke Desa Ciboleger dengan menempuh perjalanan yang lebih jauh sekitar 17 km. Perjalanan ini unik karena aku harus bersusah payah berjalan kaki kami melalui hutan, naik bukit, menuruni lembah, menyeberangi sungai demi menikmati keindahan alami dan kearifan yang dimiliki oleh Suku Baduy Dalam.

Aku yang bukan seorang petualang, merasakan hal ini merupakan perjalanan yang cukup berat. Berjalan kaki di bawah guyuran hujan di atas tanah berlumpur dan licin bukan merupakan perjalanan yang mudah. Berkali aku merasa perjalanan ini seolah tiada akhir dan hampir putus asa, terutama saat mendaki tanjakan yang orang-orang sebut dengan Tanjakan Cinta. Tanjakan terjal dan tinggi membuat nafasku terasa hampir putus untuk menyelesaikannya. Kesabaranku diuji, hanya beberapa langkah menaiki setapak, aku menghentikan langkah, begitu berulangkali. Namun dalam kondisi seperti itu aku cukup terhibur dengan dua pemandu yang bertugas mengawal perjalanan kami agar tidak tersesat, salah satunya membantu membawakan tas ranselku. Kedua orang tersebut aku panggil dengan Pak Juli dan Pak San San atau terkadang juga aku panggil dengan Ayah Kasip, sesuai dengan nama anak pertama beliau yang bernama Kasip. Di rumah kedua orang ini pula nantinya kami akan melewati malam di Desa Cibeo sambil menggali cerita dan keunikan Suku Baduy.

Sepanjang perjalanan Ayah Kasip sering menemaniku, menjajari langkahku seolah paham bahwa usiaku tak semuda peserta lain dan langkahku tak secepat mereka hingga aku lebih sering berada di belakang. Namun justru ini yang membuat kami punya waktu lebih banyak bersama. Sepanjang perjalanan kami berbincang tentang banyak hal, saling bertanya dan bercerita. Terutama aku, lebih sering bertanya di banding beliau dan beliau dengan sabar dan santun menjawab pertanyaan-pertanyaanku tanpa terlihat bosan. Aku memang tertarik dengan banyak hal tentang Suku Baduy ini, mungkin hal ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa aku mengunjungi Suku Baduy. Banyak cerita yang aku dapat begitu pula keindahan alam yang aku nikmati. Begitu banyaknya sehingga catatan perjalanan selengkapnya harus aku tulis di blog ini menjadi lima bagian.

Salah satu yang Ayah Kasip ceritakan padaku adalah kebiasaan mereka berkunjung ke Jakarta. Mereka biasanya akan mengunjungi beberapa kenalan yang sebagian besar adalah tamu yang pernah berkunjung ke Baduy. Sebagai Suku Baduy Dalam yang terikat oleh adat, mereka tidak diperkenankan menggunakan kendaraan apapun selain berjalan kaki. Tentu saja hal ini membuatku berdecak kagum. Bagaimana tidak, mereka butuh waktu berhari-hari berjalan kaki tanpa alas kaki untuk tiba di Jakarta. Tentu saja bagi mereka hal ini adalah hal yang biasa meski tentu saja tetap merasakan perbedaan yang nyata antara berjalan di atas aspal di bawah terik matahari dan berjalan di atas tanah di dalam hutan yang teduh. Ada satu lagi yang hebat yang membuat aku kagum, mereka bisa sampai di suatu tempat hanya berbekal alamat, padahal Jakarta begitu luas. Bandingkan dengan kebiasaan kita orang kota yang meskipun sudah berbekal alamat masih harus menggunakan teknologi canggih semacam GPS untuk sampai di suatu tempat.

Saat itu aku sempat meninggalkan alamat rumah dan menawarkan mereka untuk berkunjung bila ke Jakarta. Kesibukanku membuat hari-hari berlalu begitu saja, tak sempat berpikir bilakah mereka akan datang berkunjung hingga kemarin kabar lewat telepon mengejutkanku. Ya, akhirnya mereka datang, tamuku dari Baduy. Tak terkira terkejutnya aku, senang bercampur takjub melompat-lompat dalam benakku. Tak sabar rasanya menempuh perjalanan belasan menit dari kantor ke rumah untuk menjumpai mereka. Sesampai di rumah yang pintunya terbuka lebar, kulihat ada empat orang Suku Baduy sedang duduk di ruang tamu, berbincang dengan suamiku yang raut wajahnya tak kalah takjub denganku. Bisa diperkirakan bahwa beliau mengalami keterkejutan yang lebih dibanding aku mengingat beliau belum pernah berkunjung ke Baduy dan belum pernah bertemu dengan mereka. Cara mereka berpakaian dan keunikan mereka yang sangat khas dan acapkali dianggap aneh sering membuat banyak orang bertanya-tanya, padahal bila kita sudah mengenal mereka, begitu banyak kearifan lokal dalam kehidupan mereka yang jadi jadi pembelajaran buat kita yang hidup di kota, terutama bagaimana mereka menjaga kelestarian alam.

Berulang kali aku menyampaikan rasa tak percaya atas kedatangan mereka, berkali pula aku menggeleng-gelengkan kepala sebagai bentuk rasa takjubku mereka bisa sampai tanpa kesulitan apa pun dan hanya sekali bertanya untuk bisa sampai ke rumah. Tak lupa pula kusampaikan rasa hormatku dan terimakasih atas kunjungan mereka sambil menyampaikan harapan kelak bisa kembali lagi ke desa mereka, menikmati alam ciptaan Tuhan yang mereka jaga dengan begitu baik sambil membawa anak-anak dan suami mengalami hal yang sama seperti yang pernah aku alami. Tentu saja kelak akan menempuh rute yang berbeda, yang lebih singkat dan landai tanpa harus putus asa di Tanjakan Cinta.

Terimakasih Ayah Kasip, Pak Jaya, Asmin dan Aswin atas kedatangannya. Pintu rumah selalu terbuka untuk kedatangan kalian. Sungguh sebuah silahturahmi yang manis.

Alhamdulillah….

baduygabung

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

3 comments

  1. hiks.. kok saya jadinya terharu sih Mak…
    Saya jadi merasa bersalah dengan saudara saya yg dekat disini, ahh kapan waktu InsyaAllah saya akan mengunjungi mereka… amiiin… 🙂

  2. Malu hati kalau melihat mereka pandai menjaga alam. Dan ternyata mereka tak tertutup seperti yg saya bayangkan. Akh…pasti haru berat menerima ketulusan mereka,ya Mbak..
    mutia recently posted…Jalannya SedekahMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge