Thursday, November 23, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Taman Kupu-Kupu Gita Persada: Sebuah Kisah Inspiratif
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Taman Kupu-Kupu Gita Persada: Sebuah Kisah Inspiratif

Mendengarkan sosok inspiratif ini bertutur, sungguh memberi sebuah pembelajaran besar buat saya. Ketekunan melakukan konservasi Kupu-Kupu bertahun-tahun yang dilakukan dengan penuh kecintaan, hasilnya kini mewujud nyata. Ibu Herawati Soekardi melalui Yayasan Sahabat Alam menjadikan Taman Kupu-Kupu Gita Persada di Lampung bukan hanya bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan dan keanekaragaman hayati, namun juga menjadi bagian dunia pendidikan dan pariwisata di negeri ini.

Berawal dari penelitian Ibu Herawati Soekardi yang menjadikan Kupu-Kupu sebagai materi disertasi dalam program doktoralnya di Jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung tahun 2000, namun kecintaan beliau dan keluarga terhadap Kupu-Kupu telah berlangsung lama. Bersama Bapak Anshori Djausal –suami beliau yang juga memiliki ketertarikan terhadap Kupu-Kupu– mereka telah memulai upaya penangkaran Kupu-Kupu di halaman rumah mereka pada tahun 1997 dan dilanjutkan dengan membangun Taman Kupu-Kupu Gita Persada pada tahun 1999.

Beruntung sekali, saya dan beberapa rekan travel blogger yang meliput Festival Krakatau sempat di ajak ke tempat ini setelah acara liputan selesai. Indra Pradya, Yopie Pangkey dan kawan-kawan penggiat pariwisata Lampung berkenan menemani kami siang itu menuju Taman Kupu-Kupu Gita Persada di kaki Gunung Betung, Kemiling, Lampung. Jaraknya hanya sekitar 9 km dari pusat Kota Bandar Lampung. Meski tak banyak angkutan umum menuju ke sini, namun tempat ini sangat mudah di akses dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Ibu Herawati dan Alia, putri pertama beliau menyambut ramah kedatangan kami di dalam sebuah rumah kayu yang berfungsi sebagai museum dan office. Sambil duduk santai menikmati suasana, beliau bertutur tentang banyak hal berkaitan dengan taman Kupu-Kupu ini, dari sejarahnya hingga apa saja yang mereka lakukan. Saya yang memang sejak lama kagum dengan filosofi metamorfosis Kupu-Kupu jadi tahu banyak tentang Kupu-Kupu dari penuturan beliau.

Saya baru mengerti bahwa ternyata usia hidup Kupu-Kupu itu sangatlah singkat, hanya dua minggu saja. Usia yang bahkan lebih singkat dari waktu yang ia butuhkan untuk bermetamorfosis dari ulat menjadi Kupu-Kupu yang bisa mencapai hingga empat minggu. Sehingga untuk mempertahankan keberadaan berbagai jenis Kupu-Kupu yang ada perlu dilakukan upaya pelestarian untuk menjamin pertumbuhan generasi Kupu-Kupu berikutnya dengan menyediakan habitat yang terpelihara baik.

Jadi secara sederhana, setiap dari kita sebenarnya bisa melakukan konservasi dengan mempertahankan habitat yang menyediakan jenis tanaman yang sesuai dengan jenis makanan larva dan Kupu-Kupu yaitu pucuk daun untuk larva dan sari bunga untuk Kupu-Kupu. Bahkan bila kita menginginkan jenis Kupu-Kupu tertentu di suatu tempat, maka kenalilah jenis makanannya dan sediakanlah. Niscaya akan ada Kupu-Kupu tumbuh dan berkembang biak di situ. Ah, saya jadi ingat jenis Kupu-Kupu yang sering hinggap di Pohon Mangga di depan rumah, pantas jenisnya itu-itu saja.

Hal ini bisa kita gunakan untuk menilai keanekaragaman hayati di suatu tempat. Bila satu species Kupu-Kupu tertentu hanya makan dari jenis tanaman tertentu, maka bila ada seribu jenis Kupu-Kupu, maka itu berarti ada seribu jenis tanaman yang tumbuh dan berkembang biak di tempat tersebut. Indonesia adalah mega biodiversity, ada ribuan jenis Kupu-Kupu yang hidup di Indonesia, hal ini bisa berarti bahwa ada ribuan jenis tanaman pula yang hidup. Luar biasa bukan?

Tak hanya berbincang hangat di beranda belakang, kami juga diajak berkeliling melihat beberapa tempat di area Gita Persada yang total luasnya mencapai 4,6 hektar ini. Di halaman belakang ada rumah pohon yang dari tempat tersebut kita bisa melihat kaki Gunung Betung dari ketinggian, tersedia beberapa mainan anak-anak seperti perosotan dan ayunan yang tak hanya menjadi daya tarik anak-anak namun juga orang dewasa seperti kami. Selain digunakan untuk tempat penelitian dan kerja praktek beberapa mahasiswa, tempat ini juga direkomendasikan sebagai tujuan field trip ataupun eduwisata, baik untuk anak-anak sekolah maupun masyarakat umum. Tak heran bila Ibu Herawati juga pernah menerima penghargaan dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya yang pada waktu itu masih dijabat oleh Bapak Marzuki Usman.

Bagi saya, serkunjung ke tempat ini bagai sebuah recharge jiwa, bukan sekedar menambah hitungan panjang jejak kaki. Profesi beliau yang sama dengan saya sebagai seorang dosen, seolah mengingatkan kembali bahwa dunia akademis sangat bisa berdampingan dengan ketertarikan kita terhadap hal lain sebagai pribadi. Dengan ketekunan dan kecintaan, maka semua itu kelak akan berbuah manis dan dan menjadikannya bermanfaat bagi banyak sendi kehidupan lainnya. Ibu Herawati sudah melakukan dan membuktikannya. Bahkan kini anak-anaknya semua ikut membantu beliau menjaga dan membesarkan Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Inspiratif sekali ya.

Yuk kita datang dan memetik inspirasi di Taman Kupu-Kupu Gita Persada…

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

5 comments

  1. Keren sekali ya. Jadi pengen main ke sana 🙂

  2. Dan saya baru tahu tentang ini lama setelah saya meninggalkan Lampung. Luar biasa sekali ceritanya Mbak Donna. Terimakasih ya. 🙂
    Dani recently posted…Signatures Restaurant Kempinski Jakarta Dengan Rasa IndonesiaMy Profile

  3. Mudah-mudahan kita juga bisa mengikuti jejak Ibu Herawati ya Mbak Donna, menjalankan hobby dan bermanfaat bagi masyarakat. Sayangnya aku masih mencari-cari 🙁
    Evi recently posted…Mengenal Adat Lampung Lewat Pawai Budaya Festival Krakatau 2015My Profile

  4. Ibu Herawati sangat menginspirasi. Ia punya cinta luar biasa kepada alam dan serangga cantik itu.
    Tamannya sangat asri, ada rumah-rumah panggung, rumah pohon, lembah, dan banyak pohon. Aku seperti melihat mimpiku sedang jadi nyata. Mimpi punya lahan luas, di dalamnya ada rumah kayu tempatku tinggal dan istirahat bersama keluarga. Ada hewan-hewan kesayangan (tapi aku suka kuda dan burung). Sayang pas aku sadar, ternyata kenyataannya itu bukan punyaku, tapi punya ibu Herawati 😀

    Tulisan sangat bagus mbak Donna 🙂

  5. Musti sabar untuk motho kupu-kupu yang lagi kawin, kalau ga nanti di marahin sama Pak Rt ganggu ya…… ha,, ha,, ha,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge