Home » Family and Parenting » Tahun ke-14 ….Wedding Anniversary
066---Copy400

Tahun ke-14 ….Wedding Anniversary

Fajar belum sepenuhnya menyingsing di Rempoa, tapi kehidupan di sebuah rumah sudah mulai menggeliat pada suatu hari di tanggal yang sama dengan hari ini empat belas tahun lalu.
27.07.97 tanggal hari itu, disaksikan Allah dan malaikat2 Nya, keluarga, kerabat dan sahabat, dengan mas kawin 27,7 gram perhiasan emas maka resmi lah ia disunting seorang lelaki tuk melangkah bersama disisa hidup mereka.

Hari ini tepat 14 tahun berselang. Tak ingin dikatakannya tak terasa. Benar bahwa waktu cepat sekali terasa berlalu. Namun tak ada satu pun kenangan yang ia lupa, tak satu moment yang tiada berharga dan tak ada satu jua kejadian yang tidak ia jadikan pelajaran.

Bagi nya 14 tahun adalah perjalanan yang tiap tahapan nya adalah sebuah pembelajaran. Bagaimana ia belajar “terbang” dengan sayap baru. Dari kehidupan seorang anak perempuan dari sepasang orangtua yang sangat mencintai, melindunginya dan memberi segalanya, kini harus mengurus diri nya sendiri. Teringat bagaimana bulan2 pertama terkaget2 terpisah dari keluarga, teman dan lingkungan tempat tumbuhnya sehingga selalu rindu pulang dan selalu kangen masakan ibunda sehingga hampir tiap minggu pulang untuk perbaikan gizi dan bawa cucian baju kotor.

Ingat bagaimana masa-masa sulit ketika merencanakan hidup pada kurs dollar 2500 tapi ternyata harus dijalani dengan kurs dollar mencapai 12.000 ketika krisis moneter melanda negeri. Teringat pula ketika mereka harus menerima kenyataan putri pertama hanya sempat mereka asuh selama sembilan bulan dalam kandungan, fase tersulit rasanya di tahun tahun itu.

Ingat pula fase sebelum putri kedua lahir empat tahun setelah pernikahan, anggota keluarga masih berdua saja. Dan selama itu saya, wanita itu belum bekerja dan masih tinggal jauh dari peradaban Jakarta tempo itu. Tak ada kendaraan kecuali angkutan umum yg berhenti beroperasii dan harus naik ojek sebagai alternatifnya. Tapi kami sudah memiliki rumah sendiri yang nyaman. Setiap pagi saya masih sempat menyirami tanaman, lalu sampai matahari tinggi asyik membongkar tanah, motongin rumput dan dahan, mindahin tanaman dan pot, serta memperhatikan bagaimana pohon jambu air, mangga, belimbing, sawo sampai pisang tanduk tumbuh dan berbuah di pekarangan rumah kami.

Teringat pula saat2 masih sempat berbelanja ke tukang sayur, saat2 memasak masih menjadi bagian dari kegiatan saya, meski menunya gak jauh dari sayur asem dan sop atau asyik meracik bakwan goreng kesukaan suami atau spaghety kesukaan saya sambil menonton televisi, sampai kegiatan2 perempuan seperti urusan arisan dan tujuhbelasan erte, masih teringat dan semua menyenangkan.

Perjalanan bergulir, anak2 tumbuh sampai usia balita, aku mulai bekerja dengan jadwal yg lumayan menyita waktu dan jarak yg cukup jauh antara rumah dan kantor. Meski berat, akhirnya kami jual rumah pertama kami dengan berbagai kondisi, situasi dan pertimbangan terutama karena kemudian saya harus bekerja penuh waktu dan anak2 mulai masuk usia sekolah, lalu tinggal disini sudah enam tahun terakhir dengan jarak anak2 ke sekolah, saya dan suami ke kantor hanya hitungan menit, sungguh jarak dan waktu tempuh yang sangat bersahabat, banyak membantu beberapa “deal” dalam kegiatan sehari-hari kami yg semakin padat dalam rangka mengejar impian2 kami, agar urutan prioritas, kami yaitu Tuhan, keluarga dan pekerjaan tetap berada pada urutan seperti itu. meski konsekuensi nya adalah ukuran rumah harus menciut hampir separuh karena perbedaan NJOP yg cukup tinggi antara rumah kami yg lama dan yg baru.

Kami belajar berjuang meraih impian, itu selalu menjadi semangat kami. Bagaimana kami mulai dari nol, bergerak dan ada di fase minus secara finansial, tertatih untuk bisa hidup lebih nyaman tak kehujanan dan tak kepanasan. Selalu berani “ingin lebih” baik dari hari ini dari hari ke hari tanpa terlepas dari rasa syukur pada apa yang Tuhan beri.

Perjalanan nya pasti tak mulus, beberapa kali jatuh oleh kerikil2 tajam, kadang tertatih, kadang rasanya sudah berdiri kelelahan namun tetap harus meneruskan langkah, terpeleset masuk dalam kubangan dan harus bersih-bersih diri. Semua menempa kami untuk menahan goda, sabar terhadap ujian, dan mawas terhadap kenikmatan. Gak mudah tapi insyaallah bisa.

Sederhana dalam laku namun luar biasa dalam pikir dan rasa. Lakukan yg terbaik diatas komitmen yg pernah disepakati bersama. Perlakukan pasangan dan terima dia seperti apa dirinya, bukan seperti yg kita pikir bukan pula seperti yang kita mau menjadi rule diantara kami.
Tak selalu sekata, tak selalu sepaham, terkadang ada gesekan dan pula amarah. Dua orang yang berbeda namun mampu berbicara dengan “bahasa” yg masing2 kami mengerti, menikmati perbedaan cara kami mencinta yang ternyata indah, sepakat untuk menjalani sebaik mungkin menuju takdir yang Tuhan sediakan buat kami.

Dan bila hari ini kami masih bersama, bergandengan tangan, terus melangkah bersama, saling memaafkan dan memuliakan maka tak ada kata yang lain selain mengucapkan syukur…alhamdulillah, terimakasih Tuhan untuk segalanya.

Nirmala, disela dengkur halus dia yang Kau pilihkan untukku 14 tahun lalu
27072011

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge