Thursday, November 23, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Suatu Hari di Gunung Anak Krakatau
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suatu Hari di Gunung Anak Krakatau

Krakatau begitu lekat dalam pikiran saya, bahkan hingga ke tingkat alam bawah sadar rasanya. Jauh sebelum saya mengenalnya melalui pelajaran sejarah dan ilmu bumi di sekolah, saya telah mengenalnya melalui sebuah lampu kapal yang berada di sebuah taman di daerah Teluk Betung, Lampung. Usia saya belum memasuki usia sekolah kala itu, saat ayah saya bercerita bahwa lampu kapal itu bisa berada di daratan karena terlempar dari tengah lautan saat Gunung Krakatau meletus di tahun 1883. Cerita yang sungguh menakjubkan buat anak sekecil saya kala itu.

Puluhan tahun berselang, cerita tentang kedahsyatan letusan Gunung Krakatau seolah berputar kembali dalam benak ketika Dinas Pariwisata Lampung mengundang saya dan beberapa teman travel blogger untuk meliput Festival Krakatau 28 – 30 Agustus 2015 kemarin. Kunjungan ke Cagar Alam Krakatau menjadi salah satu acaranya, melibatkan tak kurang dari 300 peserta dari berbagai usia dan jenis kelamin.

Dengan menggunakan bis yang disediakan panitia, dari Bandar Lampung kami menempuh waktu sekitar satu setengah jam menuju Kalianda, lalu dilanjutkan dengan berlayar mengarungi Selat Sunda menggunakan perahu motor selama tiga jam untuk sampai ke Cagar Alam Krakatau tempat dimana Gunung Anak Krakatau berada. Biasanya, perahu bertolak dari Dermaga Canti di Kalianda, namun kali ini, seluruh peserta Festival Krakatau menggunakan dermaga yang dimiliki oleh Grand Elti Resort untuk bertolak menuju Cagar Alam Krakatau.

Tak banyak yang dilakukan selama pelayaran selain merasakan naik turunnya gelombang di atas perahu. Nyaris tak ada pemandangan yang bisa dilihat kecuali air laut di laut lepas seperti ini. Pikiran saya berkelana, membayangkan tempat ini saat Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883. Letusan dahsyat setara 30.000 kali ledakan bom atom Hiroshima dan Nagasaki diiringi awan panas dan tsunami telah menghilangkan sekitar 36 ribu jiwa. Getarannya terasa sampai Eropa dan letusannya terdengar hingga sejauh 4.653 kilometer sampai Australia dan Afrika. Debu vulkanisnya yang menutupi atmosfer bumi menyebabkan perubahan iklim global sampai setahun berikutnya (Wikipedia). Dahsyat ya.

Gunung Krakatau sendiri sudah tak ada, musnah saat letusan dahsyat itu terjadi. Nama Krakatau masih digunakan sebagai nama kepulauan vulkanis yang masih aktif yang berada di dalam Cagar Alam Krakatau di Selat Sunda. Keberadaan Cagar Alam ini tak lepas dari sejarah vulkanologi Gunung Krakatau itu sendiri. Bahwa di masa pra sejarah terdapat gunung berapi besar yang meletus dan menghabiskan 2/3 bagian gunung tersebut. Letusan ini menyisakan 3 buah pulau yaitu Pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Pertumbuhan lava yang terjadi di dalam kaldera Pulau Rakata membentuk dua pulau vulkanik baru yaitu Pulau Danan dan Pulau Perbuatan.

Dua pulau tersebut itu pun akhirnya hilang saat letusan besar terjadi di tahun 1883, menyisakan kaldera besar Pulau Rakata dan dua pulau lainnya yaitu Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Kegiatan vulkanik di bawah permukaan laut ternyata tidak berhenti setelah letusan itu. Secara perlahan, 44 tahun setelah letusan, dari kaldera tersebut muncul sebuah dinding kawah ke permukaan laut sebagai hasil erupsi. Meski perlahan, ketinggian dinding kawah ini terus bertambah dan membentuk pulau vulkanik baru yang kemudian di sebut dengan Gunung Anak Krakatau.

Sebagaimana kawasan yang diperuntukkan sebagai cagar alam, tempat ini sebenarnya bukanlah tempat kunjungan wisata. Pengunjung yang datang ke sini harus mendapat ijin dari Balai Konservasi Sumber daya Alam dan mematuhi seluruh aturan yang ditentukan oleh pengelola cagar alam. Meski tak melihat satupun pengunjung yang berenang di pantainya yang berpasir hitam ini, namun saya melihat ada beberapa orang asing yang mendirikan tenda di pinggiran pantai. Mungkin mereka peneliti yang telah mendapat ijin untuk itu.

Tak hanya dilarang untuk membuang sampah sembarangan di kawasan yang memiliki total luas area 13.605 hektar ini, namun diwajibkan pula membawa kembali sampah yang dihasilkan selama beraktivitas di sana. Sejauh yang saya perhatikan saat kunjungan, kawasan ini cukup bersih dari sampah dan aktivitas pengunjung tak memperlihatkan perbuatan yang melanggar aturan meski tak semua pengunjung menyempatkan membaca papan-papan yang berisi informasi dan aturan tersebut.

Sudah tengah hari saat kami sampai di sana, tentu saja panas sudah sangat menyengat untuk melakukan pendakian. Tak ada pepohonan sama sekali selepas pelataran hutan pinus menuju puncak. Pagi hari memang waktu yang sangat ideal untuk mendaki. Kondisi permukaan Anak Krakatau yang berupa pasir hitam juga tak kalah panas saat dipijak setelah mentari tinggi, kaki saya terasa seperti dalam sauna. Pasir yang berukuran cukup halus berhamburan saat dipijak, di tiap langkah kaki saya menjejak ke atas, saya harus relakan langkah itu merosot beberapa jengkal. Naik dua langkah, merosot satu langkah.

Tak ada ambisi untuk sampai di puncak, saya menikmati sejauh mana kaki saya mampu melangkah. Lumayan, di ketinggian tertentu saya beristirahat di atas batu besar yang saya perkirakan merupakan lava yang membeku. Warnanya hitam dengan permukaan yang kasar cenderung tajam. Di titik ini saya bisa memandang jajaran Pohon Pinus yang tadi saya lewati, laut lepas dan pulau kecil di depan saya. Sesekali menikmati pemandangan mereka yang berusaha terus naik ke puncak. Sebagian besar adalah pengunjung yang tidak mengetahui medan yang akan mereka daki, hal ini terlihat dari pakaian dan sepatu mereka yang terkesan salah kostum.

Setelah puas menikmati pemandangan dan suasana di bawah terik matahari, saya memutuskan untuk menyudahi pendakian dan turun bergabung bersama teman-teman di bawah untuk selanjutnya kembali ke daratan dengan menggunakan perahu yang tadi kami gunakan. Perlu 3 jam berlayar dan 1,5 jam perjalanan darat untuk tiba kembali di Bandar Lampung. Di benak saya hanya satu yang saya rindukan, air hangat yang mengucur deras dari shower dan rebah di tempat tidur yang nyaman setelah mandi.

Sampai jumpa di cerita lain ya…

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

9 comments

  1. Allhamdulillah kalau bebas sampah, smeoga bisa terus dipertahankan ya mbak. ASyik banget mbak Donna di ajak kesana 🙂
    Lidya recently posted…Seminar Menerapkan Karakter Pada Anak di Sekolah Cita PersadaMy Profile

  2. Ini saya lagi ngobrolin tentang perjalanan ke sana sama suami, eh baca postingan ini 😀 Tertarik banget pengen kesana. Cuma gak terbayang naik perahunya. Bukan 3 jamnya yang saya khawatirkan. Tapi khawatir mabok laut 😀
    keke naima recently posted…GIIAS 2015 – Grand New Veloz si Stylish yang Siap BerpetualangMy Profile

  3. Seru banget mba, apalgi bisa sampai di titik hampir puncak anak gunung krakatau. besok-besok bawa air yang banyak biar ga kehausan di sana. he,, he,, he,,
    Indra Kusuma Sejati recently posted…Warna-warni Kuliner KalimantanMy Profile

  4. belum pernah ke sini
    tapi waktu naik pelni ke lampung dari kejauhan keliatan anak krakatau

    ada reporternya juga?
    jadi pengen…
    Choirul Huda recently posted…Nostalgia 20 Tahun Bon Jovi Konser di JakartaMy Profile

  5. 3 jam di perahu Mbak? Bisa mabok aku huuuftt. Perjalanan yang menyenangkan ^^

  6. Waw maha Besar Allah yaa mrmbayangkan saat Krakatau meletus aja ngeri..dahsyatnyaa

  7. Ngebayangin panasnya udah migrain duluan. Agak tahan panas sih tapi harus doping air sebanyak mungkin 😀
    Lestarie recently posted…Sehari Dua Kali Patah Hati di Kelas InspirasiMy Profile

  8. Lumayan tante punya foto di tengah post satu Gunung Anak Krakatau, bukti nggak hoax hehehe
    Harusnya sih sampai ke post satu yang punya pemandangan lebih ciamik #kode 😀
    Halim recently posted…Kuliner Bandar LampungMy Profile

  9. Saya Cuma Bisa liat dari Pantai Anyer ,, gak berani kesana 😀
    Irwin Andriyanto recently posted…Ini Ceritaku Mencari Sebuah Rumah IdamanMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge