Thursday, November 23, 2017
Home » Review and Event » Kreasi Kulit Kayu – Melukis di Atas Daluang
taraaaaa..... ini lukisan saya hehehe
taraaaaa..... ini lukisan saya hehehe

Kreasi Kulit Kayu – Melukis di Atas Daluang

Saya baru mengenal kata Daluang ketika seorang teman aktif mempublikasikan kegiatannya seputar bahan yang berasal dari kulit kayu. Meski sebelumnya saya sudah cukup banyak mengetahui tentang berbagai barang yang berasal dari kulit kayu, namun saya tidak mengetahui bahwa salah satu sebutan untuk bahan ini adalah Daluang.

Dalam kegiatan traveling ke beberapa tempat di Indonesia dan museum, saya pernah menjumpai bahan kain atau pakaian yang terbuat dari kulit kayu atau beaten bark yang buatannya masih sangat kasar dan rasanya tak mungkin digunakan oleh masyarakat modern saat ini. Dari situ saya ketahui bahwa bahan ini sering digunakan oleh masyarakat Kalimantan dan Suku Baduy di Jawa Barat jaman baheula. Maklum, pada saat itu industri dan teknologi belum semaju sekarang, masyarakat masih sangat tergantung pada bahan yang disediakan oleh alam.

Namun ternyata saya ketinggalan banyak informasi, bahan kulit kayu atau Daluang merambah masuk ke dunia modern dengan kualitas bahan yang sangat bagus dan mempunyai value yang sangat tinggi. Daluang diolah dan menjelma menjadi pakaian yang cantik dan berkelas, menjelma menjadi barang-barang seni prestisius yang bahan mentahnya saja paling murah adalah sekitar setengah juta lebih per meter persegi. Tak heran ya bila harganya bisa menjadi jutaan rupiah bila telah menjadi tas, pakaian, lukisan dan lain-lain.

Astri Damayanti, teman saya tersebut lah yang kemudian mengundang saya untuk mengenal lebih dalam tentang Daluang dalam sebuah workshop Doodle on Daluang bersama Tanti Amelia. Acara yang disponsori oleh Blue Bird tersebut dilaksanakan di Museum Tekstil pada tanggal 2 Desember 2016 yang lalu bersamaan dengan penutupan Pameran Beaten Bark oleh Asisten Deputi Bidang Kebudayaan, Usmayadi Rameli dan dihadiri oleh Prof. Sakamoto, ahli kertas dari Jepang dan Kepala Museum Seni, Esti Utami dan Nova dari Blue Bird.

Ketertarikan saya pada kain Nusantara membuat saya menyambut baik acara ini. Meski saya bukanlah seorang pekerja seni dan memiliki cita rasa kreativitas di bidang seni yang tinggi, namun saya sangat antusias untuk mencobanya, belajar melukis atau doodling di atas Daluang. Dengan demikian, dalam satu kegiatan saya bisa mendapatkan banyak nilai tambah yaitu, tahu lebih banyak soal Daluang, belajar melukis atau doodling dan sekaligus menjalin silaturahmi dengan teman-teman blogger lainnya. Alhamdulillah.

  • Antara Daluang, Fuya dan Tapa

Dari informasi Astri yang aktif mempelajari kerajinan Kulit Kayu, Daluang, Fuya dan Tapa adalah sebutan yang sama untuk kulit kayu. Namun Daluang lebih sering digunakan oleh masyarakat di Pulau Jawa dan lebih banyak digunakan sebagai kertas untuk media untuk menulis. Berbeda dengan Daluang di Pulau Jawa, Fuya adalah sebutan untuk kulit kayu di Sulawesi Tengah yang lebih sering digunakan sebagai bahan pakaian. Namun dunia, terutama di Hawai dan Mexico lebih mengenal kulit kayu ini dengan sebutan Tapa.

Di Sulawesi Tengah, bahan mentahnya paling banyak diambil dari kulit kayu pohon Saeh dan sebagaimana produksi kain tradisional lainnya, jumlahnya sangatlah terbatas dan pengrajinnya sedikit. Meski prosesnya tidak terlalu rumit, bahannya yang bersumber dari bahan alam dari kulit kayu yang membutuhkan waktu lama untuk terbarukan, membuat saya berpikir biarlah bahan ini menjadi bahan yang terbatas dengan nilai jual yang tinggi. Sebab bila tidak direncanakan dan dikelola dengan baik produksinya maka bisa-bisa habislah pohon kita.

Untuk mendapatkan Daluang, maka kulit kayu harus diambil dari pohonnya yang masih hidup, lalu dibersihkan dengan air yang mengalir dan dilakukan perebusan bila jenis kayu yang digunakan cukup keras seperti kulit kayu Mayo atau kulit kayu Beringin agar didapatkan kulit kayu yang lebih lembut saat dipukul-pukul. Sebelum ditipiskan dengan cara dipukul-pukul, kulit kayu harus direndam untuk menghasilkan lendir yang membantu proses pemukulan. Hasil akhirnya tentu bisa saja berbeda ketebalannya, tergantung jenis kulit kayu dan keinginan pembuatnya.

IMG20161201113937

  • Mari Melukis di Atas Daluang

Nah, Daluang yang kami gunakan untuk melukis ukurannya tak terlalu besar hanya sekitar 20 sentimeter persegi. Bagi yang belum terbiasa disarankan untuk meyiapkan sketsa di atas kertas terlebih dahulu mengingat bahan Daluan yang terbatas dan mudah rusak. Saya sendiri mencoba membuat sketsa langsung di atas Daluang dengan menggunakan pensil dengan pertimbangan agar tidak mengerjakannya dua kali. Yang penting saya mengerjakannya dengan hati-hati dan sudah yakin dengan apa yang akan saya gambarkan di atas Daluang.

Setelah proses pembuatan sketsa, baru kemudian saya mulai memberi warna dengan cat akrilik. Terus terang, dibanding dengan membuat sketsa, ternyata bagi saya proses pemberian warna cat justru adalah bagian yang paling rumit dan membutuhkan kreativitas yang tinggi. Saya harus memikirkan warna apa yang cocok dan campuran warna apa saja serta komposisinya untuk menghasilkan warna yang saya inginkan. Maklum, saya khan bukan pelukis, melukis dan memegang cat akrilik saja baru kali ini selama 43 tahun. Kebayang khan!

Hal di atas belum termasuk kesulitan saya mempertahankan detail. Ada beberapa detail pada sktesa yang jadi tertutup karena saya tak pandai memainkan kuas saat menorehkannya di atas sketsa, misal daun atau kelopak bunga yang mungil-mungil. Padahal saya sudah menggunakan ukuran kuas yang paling kecil agar bisa tetap mewarnai bagian-bagian sketsa yang kecil-kecil tersebut. Jadi pas ditanya apakah saya akan memberi warna hitam pada pinggiran sketsa yang saya buat, maka saya menjawabnya dengan kata tidak, daripada semuanya jadi hitam hehehe.

Nah… sebenarnya cuma itu yang saya lakukan. Prosesnya tak ubah seperti melukis biasa di atas kanvas, cuma yang membedakannya adalah media melukis yang menggunakan Daluang. Hasilnya memang lebih unik karena tekstur Daluang yang berserat membuat lukisan kita bertekstur dan lebih hidup dan terlihat sangat natural dan tentu saja lebih bergengsi dibanding lukisan di atas kertas biasa. Dan senangnya, setiap peserta diberikan bingkai agar hasil lukisannya bisa dipajang cantik nanti di rumah.

taraaaaa..... ini lukisan saya hehehe

Ini hasil lukisan saya… hehehe

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170624114433

[Resensi Buku] JAVASIESTA 17/17 – Indri Juwono

Perjalanan dengan seorang teman juga menjadi kendali pada diri sendiri. Bisakah tetap dengan karakter sendiri, ...

4 comments

  1. Jadi kapan lukisannya mau di frame ?
    hehehhehehe

  2. Iya Mbak, saya setuju, yang perlu diperhatikan itu keberlangsungan pohon-pohon kalau kulit kayunya diambil. Tapi meski daluangnya diambil dari pohon yang masih hidup, pohonnya tidak mati kan setelah daluangnya diambil?
    Daluang ini mungkin bisa diaplikasikan motif batik ya… jadi penasaran, haha. Alam memang mahabaik, betapa banyaknya yang sudah ia sediakan bagi manusia untuk digunakan supaya bisa berkreasi sekaligus memenuhi kebutuhan sandang yang layak dan indah dipandang, hehe. Eh ya ngomong-ngomong saya pas baca ini sempat hilang fokus karena baru sadar belum pernah jalan ke Museum Tekstil, hehe.
    Oh iya Mbak, sebelum lupa, soal bukunya nanti saya pm yah. Sekali lagi terima kasih banyak lho, hehe…
    Gara recently posted…Arca Singa Stambha #2: Selaksa Tanya Tentang Malang dan SingaMy Profile

  3. Aku selalu tertarik dengan barang-barang berbahan dasar alami, sebenarnya. Tetapi juga mikir, perawatannya kayanya lebih susah ya. Apalagi karena bahan alam lebih mudah terurai dan rusak, berarti harus ada pengawetnya ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge